Take a fresh look at your lifestyle.

Keadilan Dalam Hubungan Manusia Dengan Manusia

0 244

Hubungan yang ditegakkan filsafat pendidikan Islam antara manusia dengan manusia salah satunya adalah hubungan keadilan dan kebaikan. Makna keadilan yaitu mediasi. Bingkai umum yang menentukan hubungan ini adalah firman Allah SWT yang berbunyi:

 إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan” (Qs. An-Nahl [16]: 90)

Hubungan ini adalah aplikasi amaliah terhadap “aspek sosial” bagi hubungan kehambaan, yakni hubungan manusia dengan Allah.

Keadilan Antara Manusia Dengan Manusia

Keadilan adalah batasan terendah antara manusia dengan manusia. Berhenti pada batas ini dan waspada agar tidak melampaui kepada yang lebih rendah adalah keringanan yang diterima ketika perselisihan bergolak dan jiwa jatuh pada korban emosi dan kemarahan yang mengarah kepada kebencian, ketidak adilan dan permusuhan. Atau ketika syahwat menghinggapi dan jiwa menjadi tujuan hawa nafsu dan kecenderungannya.

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Qs. Al Maaidah [5]: 8)

Keadilan adalah hubungan antara manusia dengan manusia ketika individu atau kelompok menjadi penengah antara dua sisi yang berlainan. Dalam hal ini kebaikan tidak menempati kedudukan keadilan karena tidak boleh melampaui hak dan milik orang lain. Dalam hal ini Qur`an menyatakan:

وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

“Dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil” (Qs. An-Nisaa` [4]: 58).

وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ

“Dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu” (Qs. Asy-Syuura [42]: 15).

Wilayah dan Lingkup Keadilan

Keadilan memiliki wilayah yang dalam cakupannya meningkat sesuai dengan cakupan kecenderungan manusia.

Keadilan Bagi Diri Sendiri

Wilayah pertama bermula dalam wilayah diri sendiri.

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri” (Qs. An-Nisaa` [4]: 135).

Keadilan Dalam Keluarga dan Kerabat

Kemudian diikuti oleh wilayah keluarga, seperti hubungan suami dan istri atau hubungan orang tua dengan anak  فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً “Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja” (Qs. An-Nisaa` [4]: 3).

Kemudian diikuti dengan wilayah kerabat, وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى “Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat (mu)” (Qs. Al An’aam [6]: 152).

Dalam salah satu ayat tergabung semua tiga wilayah tersebut:

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjaan” (Qs. An-Nisaa` [4]: 135).

Keadilan Dalam Kelompok (Umat)

Kemudian diikuti dengan wilayah umat di mana individu atau kelompok yang memiliki hubungan mengasosiasikan dirinya. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (Qs. Al Hujraat [49]: 9).

Terakhir, semuanya diikuti dengan wilayah manusia, وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ “Dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil” (Qs. An-Nisaa` [4]: 58).

Perlunya Keadilan Dalam Situasi dan Kondisi Apapun

Keadilan dituntut di antara wilayah-wilayah tersebut dalam semua situasi dan kondisi. Selain hubungan keadilan tidak boleh ada yang menghalangi meskipun negativisme dalam berinteraksi dan berhubungan mencapai batas keputusasaan di sisi lawan. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

“Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)” (Qs. Asy-Syuura [42]: 15).

Hubungan Keadilan dan Taraf Peradaban Bagi Masyarakat

Tersebar dan teguhnya hubungan keadilan dalam hubungan manusia dengan manusia hasilnya adalah kematangan berfikir, kemajuan peradaban dan melemahnya ketergantungan kepada orang lain. Hal ini karena masyarakat yang di dalamnya tersebar keadilan adalah masyarakat yang memberikan banyak kesempatan bagi orang yang memperhatikan dan orang yang mampu untuk mempelopori aktivitas kemajuan, pembangunan dan produksi.

Sementara masyarakat yang tidak memiliki keadilan adalah masyarakat yang dikontrol oleh orang-orang munafik dan orang-orang yang lemah yang hidup menjadi beban yang memakan umat lainnya. Mengenai hal ini Qur`an memberikan perumpamaan:

“Dan Allah membuat (pula) perumpamaan: dua orang lelaki yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatupun dan dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikanpun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula di atas jalan yang lurus?” (Qs. An-Nahl [16]: 76).

Ketika kita memikirkan realitas manusia modern kita temukan contoh-contoh serupa dengan contoh yang diberikan ayat tersebut. Hal ini karena masalah yang diderita oleh masyarakat manusia modern adalah masyarakat yang tidak menjalankan keadilan dan tidak menegakkan hubungan yang sesuai dengannya dan tidak berjalan di atas metode yang lurus dan politik yang tidak jelas. Atau karena masyarakat yang menjalankan keadilan dan menegakkan hubungannya akan tetapi tidak berjalan di atas metode masyarakat yang lurus.

Masyarakat Negara Ketiga

Masyarakat yang ada yang disebut dengan negara ketiga adalah masyarakat yang tidak diperintah dengan keadilan dan tidak berjalan di atas jalan yang lurus. Yakni masyarakat yang hidup di bawah hubungan-hubungan kezhaliman, kediktatoran dan tidak adanya keadilan dalam lembaga-lembaganya dan kering dari sistem pendidikan yang metode dan aplikasinya dipenuhi dengan kesukuan, persuadaraan, kelompok, nasionalisme dan etnis.

Akibatnya adalah hancurnya persamaan dan kesempatan yang sama, hidup dalam kebisuan, tidak berbicara dengan ilmu dan tidak menemukan pengetahuan. Sehingga menjadi lemah dan kemanapun politiknya diarahkan tidak mendatangkan kebaikan, bahkan hidup di bawah kelambu para pemimpinnya berupa negara-negara maju dan bergantung kepadanya yang berawal dari peralatan yang dikendarai dan dipakainya sampai roti yang dimakannya dan pakaian yang dikenakannya.

Masyarakat Negara Maju

Adapun masyarakat yang disebut dengan negara maju adalah masyarakat yang diperintah dengan keadilan di dalam batas-batasnya dan melaksanakannya sampai batas yang luas. Ia berusaha untuk memberikan pengajaran kepada remaja dalam lembaga pendidikan tentang konsep demokrasi dan aplikasinya dan memintanya kembali untuk melaksanakan, memperhatikan dan memeliharanya. Akan tetapi tidak berjalan pada jalan yang lurus dalam masalah akidah di samping masalah-masalah akhlak dan tidak menjalankan keadilan dalam hubungannya di luar masyarakatnya dengan masyarakat lain.

Oleh karena itu ia memetik buah superioritasnya dalam bidang keadilan dan manajemen di dalam yang berkaitan dengan kemampuan memproduksi berbagai macam hal dan juga pemenuhan banyak hal. Akan tetapi ia menderita akibat-akibat penyimpangan dari jalan yang lurus, dan dari akibat-akibat  hilangnya keadilan dalam hubungannya di luar batas nasionalismenya.

Model Masyarakat Beradab Sebagai Tuntutan Pendidikan Islam

Model masyarakat beradab yang tinggi yang menjelmakan keadilan dalam hubungan-hubungan internal dan eksternalnya menjadi salah satu dari tuntutan-tuntutan pendidikan Islam dan salah satu dari tanda-tanda kemurnian yang diinginkan Allah SWT mendominasi peradaban manusia:

وَمِمَّنْ خَلَقْنَا أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ

“Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan” (Qs. Al A’raaf [7]: 181).

Keadilan Menciptakan Stabilitas dan Keamanan

Ketika hubungan keadilan mendominasi maka stabilitas dan keamanan akan menyebar. Ini akan memunculkan hubungan afiliasi terhadap manusia. Tidak tersisa pengaruh bagi hubungan kesukuan, keluarga, kelompok, kebangsaan, etnis, agama, madzhab dan nasionalisme.

Oleh karena itu sebab tersebarnya kakacauan dan kejahatan dalam hubungan individu dengan negara. Tersebarnya perasaan keterasingan di dunia modern adalah mempertahankan pendidikan kesukuan ini dan menjelmakkannya dalam filsafat dan metode, seni dan kebudayaannya.

Bahkan sebab kegagalan lembaga pendidikan lokal dan nasional yang menggaungkan slogan “pendidikan untuk perdamaian” adalah bahwa lembaga pendidikan tidak mungkin –karena menentang pemerintahan- untuk membersihkan sistem pendidikan dari pengaruh-pengaruh kesukuan tersebut yang disifati oleh Rasulullah sebagai hashabu jahannam (umpan neraka). Beliau menyeru kepada para sahabatnya: “Tinggalkanlah ia karena ia adalah kebusukan!

Keberadaan etnosentrisme yang selalu ada di dunia modern kita ini menjadi bukti bahwa manusia belum berhasil mencapai batas terendah dari hubungan yang diterima antara manusia dengan manusia. Keberadaannya akan mengancam “eksistensi manusia” dan merintangi “ketinggiannya”. Juga menghalangi untuk masuk ke masa depan –era dunia manusia-.

Oleh: Dr. Majid Irsani Al Kailani

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar