Take a fresh look at your lifestyle.

Keadilan dan Nilai Kemanusiaan

0 180

Keadilan dan Nilai Kemanusiaan – Secara normatif, orang mukmin harus mematuhi ajaran dan  hukum Tuhan. Ini tidak berati harus bersifat automatik dan mekanik. Ia harus merasakan secara mendalam sebagai seorang yang  telah  terlibat dalam sebuah proses, karena ia bukan saja harus bertindak untuk diri sendiri, tetapi harus pula memerintahkan  yang  baik, bukan saja wajib menjauhi yang  mungkar, tetapi juga harus memerintahkan orang lain  untuk menjauhinya.  Lebih dari 50 ayat yang mengaitkan taqwâ dengan pekerjaan yang baik. Niat, kejujuran dan kesanggupan adalah kebajikan yang terbaik dari kehidupan moral. Ketiganya mewarnai hukum yang diwahyukan Islam. Pertanggung-jawaban seorang mukmin untuk menjauhi yang dilarang  dan melakukan yang wajib, didasarkan pada konsep keagamaan. Dengan kepercayaan dan fikiran, manusia harus menggambarkan dirinya sebagai hidup “di bawah pengawasan Tuhan.”

Motivasi spiritual yang timbul dari kebudayaan lokal dan ajaran agama, menentukan perbuatan pribadi atau kolektif.  Dalam tatanan kehidupan, hal ini dikenal dengan “moral sosial”. Ide “charity” (belas kasihan) dalam agama Masehi telah menyebabkan timbulnya  gerakan besar mengenai solidaritas manusia, sehingga memberikan corak kemanusiaan dalam kehidupan. Salah satu corak yang disampaikan oleh moral agama bahwa “sikap adil adalah sikap yang paling dekat taqwa.”

Tanggungjawab pribadi yang memancar dari hati nurani dan sikap îmân kepada Tuhan Yang Transenden, kadang-kadang dapat menyebabkan timbulnya masyarakat yang individualis yang menolak solidaritas. Dalam hal ini perlu disadari, apakah sikap menyerah  kepada kemauan Tuhan Yang Maha Kuasa dan mengikuti hukum-hukum yang mengatur masyarakat di mana ketertiban dan keadilan  harus terjamin, harus menjauhkan rasa sayang dan belas kasihan dari hubungan antar perorangan? Oleh karena itu, perintah Allah untuk menegakkan keadilan dan ihsân serta memberikan pertolongan kepada kaum kerabat (qarâbah) seperti dalam firman-Nya berikut ini, perlu kita cermati.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (Al-Nahl/16: 90)

Secara sepintas, ayat di atas memberikan statemen ganda. Di satu sisi Tuhan memerintahkan  keadilan, di sisi lain Dia memerintahkan agar menyantuni kerabat.  Ayat di atas seolah-olah menggambarkan realitas antara keadilan dan rasa kemanusiaan sebagaimana dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Ada dua hal yang ingin ditepis oleh al-Qur’an melalui ayat tersebut. Pertama, kebanyakan orang akan berpikir bahwa keadilan yang sejati adalah keadilan yang tidak berkompromi, sampai kepada kaum kerabat. Dalam asumsi ini, keadilan akan memotong seluruh solidaritas, termasuk solidaritas kekerabatan. Kedua, keadilan tidak berlaku dan tidak dapat ditegakkan dalam hubungannya dengan kaum kerabat. Seolah-olah Jika menegakkan keadilan terhadap kaum kerabat, berarti harus merobohkan solidaritas kekerabatannya, dan jika ingin menegakkan solidaritas kekerabatan, seolah-olah harus merobohkan bangungan keadilannya.

Ketika al-Qur’an

Asumsi tersebut adalah wajar dan rasional, tetapi keduanya tidak dibenarkan oleh al-Qur’an. Tidak dianggap orang adil jika tidak mampu menerapkan sesuatu tepat pada porsi dan proporsinya, dan tidak dikatakan orang bijak, jika dalam tindakannya tidak mengenal atau mengingkari rasa kemanusiaan. Salah satu dari bentuk pengingkaran rasa kemanusiaan adalah pengingkarang keberpihakan terhadap kaum kerabat. Ketika al-Qur’an memacu manusia untuk bersikap adil,  sikap tersebut tidak berarti harus mengubur rasa kekerabatan. Ketika al-Qur’an menyuruh mendekati kerabat, kedekatan tersebut tidak boleh menginajk-injak keadilan. “Kerabat”  dijadikan objek keadilan dan perbuatan bajik dalam ayat tersebut, karena banyak orang yang dapat berbuat adil terhadap orang lain, tetapi tidak berdaya ketika terhadap kerabatnya. Ideal moral yang ditawarkan al-Qur’an adalah, tegakkanlah keadilan dengan tidak menafikan peri kekerabatan, dan tegakkan rasa kekerabatan dengan tidak menginjak dan meniadakan keadilan.

Ayat di atas, perlu disandingkan dengan Q.S. Al-Isrâ’/17: 26-27.

وَءَاتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلاَ تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا. إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا.

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. 

Di dalam ayat di atas, al-Qur’an menyebut kerabat dekat sebagai awal perintah memberikan kekayaan, baru perintah kepada kelompok lain yang membutuhkan. Akhir ayat tersebut ditutup dengan kecaman terhadap sikap tabdzîr. Hal ini bukan sekadar memberi isyarat bahwa kerabat mendapat prioritas dalam berinfak, tetapi justeru terhadap kerabat dekat itu, pemberian kekayaan biasanya tidak terkontrol sehihingga kekayaan yang diberikan kurang berfungsi. Pemberian tersebut hanya didasarkan pada rasa kekerabatan, bukan atas dasar kebutuhan. Padahal pada waktu yang bersamaan kekayaan tersebut lebih dibutuhkan manfaatnya bagi orang lain. Dalam hal ini, sikap tabdzîr yang dikecam, menyangkut kedua belah pihak, yakni si pemberi dan si penerima.

Sifat Manusia

Al-Qur’an tidak meniadakan dan mengingkari rasa kekerabatan yang dipandang penting dan positif oleh manusia. Q.S. 17: 26-27 mengecam penghamburan nilai kekayaan yang kurang berfungsi. Sifat manusia ingin membantu kerabatnya, harus selalu menghiasi jiwanya. Lebih lanjut ayat di atas menjelaskan bahwa, ketika manusia tidak mampu membantu keperluan keluarga yang membutuhkan, setidaknya mereka memberikan rasa empatik dan ikut cemas atas kekurangannya. Sikap ini sebagai cermin kemurahan hati, dan kemurahan hati diharapkan dapat menutupi kekurangan materi.

Keadilan menilai dan memberi ganjaran atau hukuman menurut perbuatan. Rasa kasihan memberi menurut kebutuhan, tanpa perhitungan.   Rasa sayang mungkin melukiskan permulaan  keadilan. Sebaliknya, keadilan menjadi hasil dari rasa sayang  yang benar-benar. Apakah dua hal tersebut merupakan dasar tindakan moral, atau merupakan dua dasar  prinsip-prinsip yang berbeda yang menimbulkan dua sistem moral yang berbeda?  Apakah dua konsep tersebut dapat bergabung  bersama dalam bidang  transendental?  Pendekatan terhadap kedua problem tersebut, tidak dengan mempertentangkan dua istilah atau dua konsep. Dua konsepsi tersebut  melukiskan tujuan sosial dan spiritual manusia dan masyarakat, serta menetapkan konsepsi politik suatu kelompok. Bagi Islam, tidak terdapat antimono (pertentangan) antara keadilan dan belas kasihan, keadilan merupakan  pusat gerak dari nilai-nilai moral yang pokok. Oleh karena  itu, tidaklah benar anggapan bahwa Islam menganjurkan belas kasihan (Charity), akan tetapi belas kasihan tersebut beku karena sebab-sebab dalam sejarah sehingga hanya merupakan suatu kewajiban luar  yang mekanis.  Sebaliknya, adalah salah, jika kita melukiskan keadilan Islam secara ketat sehingga mengingkari rasa teposeliro, dan menutup kelebaran dada.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar