Kebaikan Dalam Hubungan Manusia Dengan Manusia

0 673

Hubungan yang ditegakkan filsafat pendidikan Islam antara manusia dengan manusia salah satunya adalah hubungan kebaikan. Makna kebaikan berarti keutamaan dan kelebihan dalam hubungan mu’amlah yang baik. Bingkai umum yang menentukan hubungan ini adalah firman Allah SWT yang berbunyi:

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan” (Qs. An-Nahl [16]: 90)

Hubungan ini adalah aplikasi amaliah terhadap “aspek sosial” bagi hubungan kehambaan, yakni hubungan manusia dengan Allah.

Kebaikan Sebagai Hubungan Alami Manusia

Adapun kebaikan adalah hubungan alami yang harus mengikat manusia dengan manusia dalam keadaan biasa ketika tidak terdapat dendam dan perselisihan:

“Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia” (Qs. Al Baqarah [2]: 83).

Kebaikan adalah hubungan yang diminta ketika hubungan manusia dengan manusia terjadi secara langsung tidak ada penengah di antara dua kelompok tersebut. Kebaikan adalah hubungan yang harus mengikat hakim dengan orang yang terhukum, orang kaya dengan orang miskin, orang pandai dengan orang bodoh, orang yang kuat dengan orang yang lemah, penguasa dan rakyat, orang yang bermukim dengan orang yang bepergian, suami dengan istri, anak dengan kedua orang tua, nagara maju dengan negara yang tertinggal, dan seterusnya.

Jika semua kelompok yang berada pada bagian pertama dari bentuk hubungan ini memperlakukan kelompok kedua dengan keadilan maka berarti keharusan untuk memisahkannya dan berhenti memberi kepadanya. Karena mereka tidak akan menemukan pada kelompok kedua “imbalan” yang setimpal atau “umpah” yang ideal sehingga kelompok pertama akan jatuh pada “menyebut-nyebut” dan “menyakiti”. Disamping itu, karena orang yang menerima cenderung menyembunyikan apa yang diambilnya. Dan jika dihadapkan kepada “menyebut-nyebut”  maka kehormatan dan harga diri menjadi terluka dan membekas dan hancurlah hubungan antara dua kelompok.

Peringatan Teologis Kebaikan

Oleh karena itu peringatan teologis bagi orang-orang yang baik adalah hendaknya tidak memberikan kebaikannya dengan “menyebut-nyebut” dan “menyakiti” dan memberikan petunjuk kepada mereka agar memperuntukkannya bagi Allah secara langsung dan mengharapkan ganjaran dan imbalan-Nya.

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima)” (Qs. Al Baqarah [2]: 264).

“Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih” (Qs. Al Insaan [76]: 9)

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan sipenerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka” (Qs. Al Baqarah [2]: 262).

Wilayah dan Cakupan Kebaikan

Kebaikan Pada Wilayah Diri Sendiri, Keluarga, Kerabat, Bangsa dan Manusia

Hubungan kebaikan juga bertingkat sebagaimana cakupan kecenderungan manusia, sehingga pertama dimulai dengan wilayah pertama, yaitu wilayah diri sendiri. Kemudian diikuti dengan wilayah keluarga, kerabat, bangsa, dan manusia, إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri” (Qs. Al Israa` [17]: 7).

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” (Qs. Al Israa` [17]: 23).

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak” (Qs. Al Baqarah [2]: 83).

Kebaikan dituntut ketika lepasnya tali kekeluargaan dan terjadi perceraian.

“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma`ruf atau menceraikan dengan cara yang baik” (Qs. Al Baqarah [2]: 229).

Qur`an menjelaskan wilayah yang harus jelas di antara hubungan manusia dengan penjelasan yang sulit untuk meringkas dan membatasinya. Kebaikan –perumpamaannya adalah seperti keadilan- dituntut dalam semua keadaan dan waktu.

“Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang mema`afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma`af) membayar (diat) kepada yang memberi ma`af dengan cara yang baik (pula)” (Qs. Al Baqarah [2]: 178).

Kebaikan Dalam Menghadapi Bencana

Kebaikan dituntut ketika menghadapi bencana, وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ “Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan” (Qs. Huud [11]: 115).

Kebaikan Dalam Berperang dan Jihad

Kebaikan dituntut ketika berperang dan jihad, وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (Qs. Al Ankabuut [29]: 69)

Kebaikan Dalam Pemikiran dan Intelektual

Kebaikan dituntut ketika dalam debat pemikiran dan kerjasama intelektual, وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)” (Qs. Al Israa` [17]: (53).

Kebaikan dituntuk ketika perdebatan pemikiran, وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik” (Qs. Al Ankabuut [29]: 46).

Kebaikan Dalam Permusuhan dan Perselisihan

Kebaikan dituntut ketika permusuhan dan perselisihan, ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (Qs. Fushshilat [41]: 34).

Kebaikan Dalam Cara Penghormatan

Kebaikan dituntut dalam cara penghormatan dan salam, وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa)” (Qs. An-Nisaa1 [4]: 86).

Kebaikan Dalam Memperlakukan Anak Yatim

Kebaikan dituntut ketika memperlakukan anak yatim dan orang lemah:

وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ

“Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfa`at) sampai ia dewasa” (Qs. Al Israa` [17]: 34)

Kebaikan Dalam Aspek Politik dan Ekonomi

Kebaikan dituntut dalam hubungan politik:

“Kami berkata: “Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka” (86), “Berkata Dzulqarnain: “Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya” (87), “Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan” (Qs. Al Kahfi [18]: 86-88).

Kebaikan dituntut ketika dalam politik dan hubungan ekonomi:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (Qs. Al Qashash [28]: 77).

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (Qs. Al Baqarah [2]: 195).

Akibat Ketidakadilan Ekonomi

Hubungan antara infak dengan aspek ekonomi dari kebaikan dan antara kebinasaan dengan kehancuran masyarakat. Sebabnya adalah bahwa masyarakat yang berdiri di atas penanaman modal dan penimbunan menimbulkan kelas dan menabur benih konflik internal. Sehingga membawa pada konflik dunia eksternal. Akibatnya adalah kemalangan kelas penimbun dan kelas pekerja. Kelas penimbun jatuh pada tiga bahaya.

Pertama, kesepian dan terisolasi. Kedua, keterasingan, ketiadaan cinta dan hubungan karena kemunafikan. Dan ketiga, tidak adanya rasa aman dan ketakutan yang permanen. Bahaya dan penyakit kejiwaan ini diderita oleh tidak sedikit orang dari golongan pemilik kekuasaan dan harta di dunia modern.

Adapun kelas dunia pemilik modal adalah jatuh pada tiga penyakit. Pertama, kebencian dan kecemburuan terhadap kelas penimbun kemudian merasa tertipu, kemudian cenderung pada kejahatan dan persiapan untuk kekerasan dan menyalakan konflik yang mematikan.

Bencana ini terjadi pada kedua kelas yang ditunjukan ayat dengan nama “kebinasaan”, dan memperingatkan manusia untuk tidak menceburkan diri ke dalamnya dengan kedua tangannya, dan mengajak untuk menggantikannya dengan “kebaikan” dan infak sesuai dengan saluran-saluran yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Kebaikan Dituntut Dalam Semua Bentuk Interaksi

Akhirnya, kebaikan dituntut dalam semua bentuk interaksi dan hubungan terhadap taraf individu dan kolektif. Ia adalah ukuran untuk menimbang keberhasilan manusia dalam hubungannya dengan kehidupan. Hubungan cobaan- dalam lingkup jiwa, kekayaan dan berbagai macam bentuk nikmat.

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya” (Qs. Al Kahfi [18]: 7).

Di antara yang menguatkan hubungan kebaikan antara manusia dengan manusia. Sumber Islam yang dinyatakan Qur`an dan sunnah menyajikan banyak model dan teladan terhadap akibat dari hubungan dan pengaruh kekuatan dan penyebarannya antara manusia. Juga balasan bagi orang-orang baik. Ingatlah bahwa di antara akibatnya adalah cinta Allah dan kekokohan di bumi, kebijaksanaan, pengetahuan, kemajuan, kemuliaan, keamanan, ampunan dan lain-lain.

Oleh: Dr. Majid Irsani Al Kailani

Komentar
Memuat...