Kebenaran dalam Filsafat | Kajian Ulang Metafisika Part – 11

0 151

Kebenaran dalam Filsafat. Setelah sedikit banyak mengkaji soal metafisika dan ontologi, selanjutnya kita akan berbicara mengenai teori kebenaran. Teori ini, memang banyak digeluti mereka yang mengkaji filsafat, khususnya filsafat ilmu. Inilah bagian serius yang bakal men-drive orang dalam melakukan titah kemanusiaan. Ini juga bagian penting yang menyebabkan orang akhirnya akan sadar, tentang bagaimana sesungguhnya menjalani hidup di alam realitas ini.

Dalam nalar filsafat ilmu, apa yang disebut dengan kebenaran, setidaknya dapat dibedakan dalam empat level [tingkatan]. Keempat level kebenaran dimaksud adalah: Kebenaran empirik, kebenaran logik, kebenaran etik dan kebenaran metafisik. Keempat kebenaran ini, sebenarnya satu sama lain saling terkait, tidak dapat dipisahkan. Meski dalam realitas, ada pihak-pihak tertentu, yang hanya memilih satu di antara empat level kebenaran dimaksud dengan mengabaikan kebenaran lainnya.

Kebenaran Empirik

Kebenaran empiris, membatasi ruang lingkup kebenaran dalam apa yang mampu didengar, dilihat, dicerna, dirasa dan dikecap. Inilah kebenaran yang diperoleh siapapun, tanpa kecuali. Segala sesuatu yang memiliki ruang untuk dapat diakses pancaindera, maka, kebenaran itu disebut sebagai kebenaran empiris. Kebenaran empiris selalu bersipat nyata dan dapat diukur. Sesuatu tidak dapat disebut sebagai sebuah kebenaran, jika apa yang disebut dengan kebenaran itu, tidak nyata dan tidak dapat diukur.

Jika anda mampu melihat suatu benda dengan warna hitam, putih, merah, jingga, ungu, biru, hijau atau warna lain. maka, sepanjang kesimpulannya sama dengan apa yang dilihat, didengar atau dirasa orang lain, maka, hal itu disebut sebagai kebenaran empiris. Inilah kebenaran nyata dalam perspektif manusia. Kita tidak mungkin mampu menyimpulkan sesuatu yang putih menjadi hitam karena realitas empirisnya memang putih. Begitupun sebaliknya. Kita tidak mungkin menyimpulkan bahwa sesuatu yang hitam menjadi putih, karena realitas empirisnya, warna itu memang hitam.

Atau sebut misalnya, lidah merasa bahwa apa yang anda makan itu terasa asin, manis, pedas atau asam. Sepanjang lidah manusia lain menyimpulkan hal yang sama atas rasa yang anda rasakan, maka, kebenaran itu bersipat empiris. Ketika kita menyimpulkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dirasakan orang lain, maka, kesimpulan kita menjadi salah [fals]

Kebenaran ini, jika mengacu kepada teori kebenaran al Ghazali sering disebut dengan kebenaran a’in al yaqien. Tokoh yang sering disebut sebagai Hujjatul Islam ini menyatakan bahwa kebenaran dapat dibedakan antara a’in al yaqien, ilmu yaqien dan haq al yaqien. Kebenaran yang diperoleh pancaindera, maka, kebenaran itu disebut sebagai kebenaran empiris. Dalam Islam, sejauh yang mampu saya kaji, untuk menjelaskan kebenaran ini,A� setidaknya ditemukan beberapa istilah. Misalnya ada kata:A�al-haq, shidq dan syah. Lawan dari kata dimaksud adalah:A�bathil, kadzib atau ghalat [khata’]. Untuk yang terakhir akan ada pembahasan tersendiri.A�

Kebenaran empirik, berbeda dengan kebenaran logik. Jika kebenaran empiris mengacu kepada realitas, maka, kebenaran logik mengacu kepada keterukuran logika. Benar salahnya sesuatu tidak diukur oleh fakta, tetapi, lurus atau tidak logika yang digunakan. Inilah jenis kebenaran yang dalam istilah al Ghazali disebut sebagai ilmu al yaqien.

Kebenaran Logik

Sebut misalnya, ilmuan menyimpulkan bahwa jarak antara bumi dan matahari diperkirakan sekitar 150 juta kilo meter. Jarak antara bumi dan matahari ini, pertama kali dirumuskan Aristarchus, filosof Yunani di abad ketiga sebelum masehi, dengan menggunakan trigonometri. Suatu pelajaran fisika yang biasa diperoleh saat SLTP atau di SLTA. Penelitian dilanjutkan Christiaan Huygens pada tahun 1653 Masehi dengan menggunakan metode triangulasi yang melibatkan Matahari, Bumi dan Venus. Dikaji ulang oleh Giovanni Cassini [1672 M], dengan metode paralaks, yang memuat perhitungan sudut secara lebih teliti.

Pengukuran jarak antara bumi dan matahari, diukur dengan menghitung kecepatan cahaya. Lalu setelah itu, ilmuan memperhatikan kapan matahari terbit dan kapan sinarnya sampai ke bumi. Pernahkah ada orang yang benar-benar berjalan, dengan sarana apapun ke Matahari? Tentu belum! Tetapi mengapa kita tidak membantahnya. Sebab perhitungan jarak antara bumi dan matahari, menggunakan logika dalam apa yang saat ini kita sebut sebagai kebenaran logik.

Kebenaran pada tingkat ini, menurut al Ghazali jauh lebih baik dibandingkan dengan kebenaran empiris. Hal yang sama diakui Plato yang menyebut bahwa tingkat kebenaran rasional jauh lebih baik dibandingkan dengan kebenaran empiris. Kedua filosof yang berbeda generasi sangat jauh itu, sama-sama yakin kalau kebenaran ilmiah atau kebenaran rasional jauh lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dengan kebenaran empiris. Mengapa? Karena menurut keduanya, kebenaran empiris selalu menipu. Mengapa Menipu? Karena realitas empiris hanya akan diakui benar sepanjang hal itu berwujud atau ada wujudnya.

Untuk membuktikan hypotesis atas asumsi kebenaran ini, dua tokoh melakukan uji coba yang berbeda. Plato mengakui kebenaran rasional jauh lebih unggul dibandingkan dengan kebenaran empiris, atas pengalamannya menyaksikan tongkat lurus. Secara empiris tongkat itu memang lurus. tetapi ketika yang lurus itu, dimasukan ke dalam kolam dengan air yang sangat bening, yang tampak lurus itu ternyata bengkok. Bengkoknya tongkat di atas air itu, tidak mungkin memperoleh pembenaran rasional, meski secara empiris mata menyaksikannya dengan bengkok.

Sementara itu, al Ghazali melihat kebenaran ini dengan asumsi patamorgana. Ia menyaksikan bagaimana menyaksikan banyaknya air di padang sahara. Padahal ketika didekati apa yang disebut dengan air itu ternyata tidak ada. Karena itu, dalam pandangan Al Ghazali, apa yang disebut dengan kebenaran empiris, hanya akan mendorong manusia menuju pada kesesatan pandangan.

Kebenaran Etik

Kebenaran etik, berbeda dengan kebenaran empiris dan kebenaran logik. Kebenaran etik adalah kebenaran yang didasarkan atas pertimbangan moral atau akhlak tertentu, yang berlaku dalam suatu masyarakat. Kebenaran etik, asumsi atau landasannya mengacu kepada tindakan moral [moral conduct] yang berlaku dalam masyarakat tertentu atau pada ajaran tertentu. Karena itu, kebenaran etik selalu bersifat relatif, tergantung pada nilai sosial dan nilai ajaran yang berlaku pada masing-masing pihak.

Etika di ranah ini, tentu saja bukan ajaran moral. Etika lebih berdiri sebagai suatu disiplin ilmu yang mengkaji tentang mengapa orang memilih pertimbangan moral atau akhlak tertentu. Karena itu, sumber ajaran etika, tidak terletak pada dunia sebagaimana disarankan dalam kebenaran empiris dan logis, tetapi, berpijak pada norma yang berlaku.

Sebut misalnya, dapatkah kita menyatakan bahwa pakaian songket yang biasa dipakai wanita Hindu Bali, sebagai pakaian sexi jika analisa moral atau akhlaknya menggunakan pendekatan Islam? Tentu saja tidak! Mengapa? Sebab pertimbangan moral dalam soal pakaian bagi wanita menurut Islam dan Hindu, dalam soal tertentu berbeda.

Kebenaran Metafisik

Puncak tertinggi dan paling rumit dari level kebenaran adalah kebenaran metafisik. Kebenaran ini mengasumsikan bahwa apa yang disebut benar, ukurannya pada sesuatu di balik atau sesudah yang fisik, atau bahkan pada sesuatu di balik atau sesudah yang rasional. Metafisika, meski perdebatan atasnya sudah dibahas sebelumnya, namun satu hal, bahwa eksistensi di balik yang eksisten, atau Wujud di balik yang tampak, akan mendorong kita pada suatu kenyataan bahwa, realitas sesungguhnya, justru berada di balik yang fisik ini.

Inilah yang dalam bahasa agama disebut dengan kepercayaan pada sesuatu yang ghaib, akan menjadikan seseorang sebagai wujud manusia beriman. Keberadaan yang wujud, harus merupakan cermin bagi Wujud Yang Maha Mewujud. Akan ada pembahasan tersendiri soal ini.

Dari penjelasan tentang level kebenaran di atas, akhirnya kita dapat mengetahui bahwa secara implementatif, apa yang disebut dengan kebenaran dapat dibagi dalam tiga jenis. Ketiga jenis dimaksud adalah: Kebenaran Realitas, Kebenaran Personal dan Kebenaran Statement.A�Akan ada pembahasan tersendiri soal ini. Prof. Cecep Sumarna –Bersambung–

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Komentar
Memuat...