Keberhasilan Supervisi Pendidikan dengan Mengenal Prototype Guru

3 623

Keberhasilan Supervisi Pendidikan dengan Mengenal Prototype Guru: Salah satu masalah dalam dunia pendidikan di sekolah adalah lemahnya pengawasan. Pengawasan, dalam istilah pendidikan dikenal dengan sebutan supervisi. Supervisi atau supervision [Inggris], secara morfologi berasal dari kata “super” [hebat] dan “vision” [penglihatan, daya lihat, pandangan dan impian].

Dalam kajian lain, Supervisi atau pengawasan dapat pula diserumpunkan dengan istilah inspeksi, pemeriksaan dan penilikan. Supervisi dalam arti kegiatan melihat, meninjau atau menilik, umumnya dilakukan atasan atau orang yang berposisi di atas, yaitu pimpinan terhadap bawahannya.

Ajaran Islam menyebut kegiatan pengawasan dengan istilah ar riqabah. Arriqabah atau proses pengawasan merupakan kegiatan penting yang terus menerus harus dilaksanakan, karena pengawasan merupakan pengecekan jalannya planning dalam organisasi guna menghindari kegagalan atau akibat yang lebih buruk. Begitu juga dalam lembaga pendidikan. Mengenai faktor ini, al-Qur’an memberikan konsepsi yang tegas agar hal yang bersifat merugikan tidak terjadi. Dalam prinsip manajemen, kegiatan pengawasan ini menjadi penting agar apa yang direncanakan dapat terlaksana sesuai harapan.

Implementasi Supervisi

Supervisi merupakan salah satu program yang dianggap menjadi solusi untuk meningkatkan kualitas komponen yang ada di sekolah baik dalam sisi manajerial maupun administrasinya. Beberapa literatur yang penulis baca berkaitan dengan kajian dimaksud, menjelaskan bahwa pentingnya kegiatan supervisi khususnya di sekolah adalah karena dalam kegiatan ini seorang supervisor seharusnya lebih banyak melakukan pembinaan, bimbingan bahkan harus mampu menjadi motivator dan solutor bagi para supervisee (orang yang disupervisi).

Penulis melakukan sebuah analisis berkaitan dengan implementasi kegiatan supervisi, ternyata di lapangan, kegiatan ini masih lebih mendominasi pada pelaksanaan inspeksi, pengawasan dan penilaian kinerja guru saja. Sedangkan kegiatan pembinaan dan bimbingan baru sebatas dilakukan alakadarnya.

Teori yang berkaitan dengan prototype guru, dalam pelaksanaan supervisi ternyata juga belum begitu diterapkan. Hasil observasi serta kajian yang dilakukan penulis, ditemukan bahwa pengawas atau supervisor dalam pelaksanaan supervisinya, menggunakan teknik dan metode yang sama terhadap setiap guru. Padahal, dari beberapa referensi yang penulis baca, penting mengenal prototype guru untuk menentukan metode dan pendekatan yang sesuai untuk setiap supervisee. Agar pembinaan dapat influentif (berpengaruh) dan lebih tepat sasaran.

Prototype Guru

Penggunaan pendekatan supervisi untuk setiap guru tentu tidak sama. Pendekatan dimaksud mestinya disesuaikan dengan kemampuan dan karakter masing- masing guru. Suatu pendekatan supervisi pendidikan sangat bergantung pada prototype guru. Sahertian (2008), menyatakan bahwa pendekatan yang digunakan dalam menerapkan supervisi modern didasarkan pada prinsip- prinsip psikologis. Suatu pendekatan atau teknik pemberian supervisi, sangat bergantung pada prototype guru. Ada satu paradigma yang dikemukakan oleh Glickman (1981), berkaitan dengan prototype guru. Ia membagi prototype dimaksud ke dalam 4 (empat) bagian, yaitu:

  1. Guru yang memiliki daya abstrak tinggi dan komitmen tinggi. Prototype guru yang seperti ini, dapat dikatakan guru yang profesional. Pendekatan yang sesuai untuk guru tipe ini adalah non direct approach atau pendekatan tidak langsung
  2. Guru yang memiliki daya abstrak tinggi tetapi komitmen rendah. Guru seperti ini disebut guru yang suka mengkritik. Pendekatan yang sesuai adalah pendekatan kolaboratif (colaborative approach).
  3. Guru yang memiliki daya abstrak rendah tetapi komitmen tinggi. Prototype guru yang seperti ini, dapat dinyatakan dan disebut sebagai guru yang terlalu sibuk. Pendekatan yang dilakukan akan sama dengan jenis guru yang kedua, yakni pendekatan kolaboratif.
  4. Guru yang berdaya abstrak rendah dan juga komitmen rendah. Guru jenis ini dikategorikan sebagai guru yang tidak bermutu. Pendekatan yang paling tepat adalah pendekatan langsung (direct approach).

Penulis berpandangan bahwa setiap guru memiliki dua kemampuan dasar. Kemampuan dimaksud yaitu berpikir abstrak dan komitmen serta kepedulian. Kemampuan inilah yang pada akhirnya memunculkan tipe- tipe guru.

Oleh: Euis Istifadah

  1. Ohan Hendriyana berkata

    nice…

    1. Lanlan Muhria
      Lanlan Muhria berkata

      Terima kasih

    2. Lyceum Indonesia
      Lyceum Indonesia berkata

      nuhun yi sempat mampir di lyceum …

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.