Inspirasi Tanpa Batas

Kebudayaan Mayarakat Dan Keunikan Kampung Naga

0 265

Kampung Naga

Kampung Naga adalah sebuah kampung adat yang terletak di desa Neglasari Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat. Kampung Naga mempunyai tata masyarakat, tata kampung, serta tata pertanian yang terpadu. Berciri tradisional, kecerdasan tata kampung tampak pada kemampuan memanfaatkan bahan-bahan alam secara lestari. Bentuk rumah panggung di daerah lembap-basah juga membuat rumah tetap dapat ditinggali secara sehat dan tahan lama.

Karena keunikannya kampung ini kerap dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanagara, serta dijadikan sebagai tempat studi tentang kehidupan masyarakat pedesaan Sunda. Pada masa peralihan dari pengaruh Hindu menuju pengaruh Islam di Jawa Barat.

Mengenai asal-usul terbentuknya kampung, konon berasal dari seorang tokoh bernama Sembah Dalem Eyang Singaparana. Beliau adalah murid dari Sunan Gunung Jati yang ditugaskan menyebarkan agama Islam ke barat.

Dalam perjalanannya, beliau singgah di desa Neglasari, saat ini menjadi bagian dari kecamatan Salawu Tasikmalaya. Dari desa tersebut, Singaparana bersama murid-muridnya kemudian membuka tempat yang saat ini menjadi Kampung Naga.

Makam Sembah Dalem

Makam Sembah Dalem Singaparana terletak di hutan sebelah barat kampung dan dikeramatkan oleh warga dan menyebutnya dengan kampungA�pareum obor. Pareum artinya mati; obor artinya obor atau penerangan. Ini terkait dengn tidak diketahuinya asal-usul kampung kampung mereka akibat kejadian DI/TII sekitar 1956.

Masyarakat Kampung Naga juga memberikan banyak informasi bagaimana membangun teknologi dan kearifan local dalam pembentukan kampung dan juga pengolahan pertanian. Mereka memandang bahwa peghormatan terhadap leluhur atau karuhun menjadi pedoman penting masyarakat. Jika karuhun ini dilanggar, akan ada malapetaka.

Bagi orang luar, ini merupakan warisan dari satu generasi ke generasi lain mengenai pembentukan ekosistem kampung dan alam. Pengetahuan inilah yang berhasil membuat Kampung Naga dengan teknologi perumahan tahan sampai sekarang. Jika dibandingkan dengan jenis kampung lain, bisa jadi kampung Naga lebih tahan lama, dan tidak mengonsumsi banyak energy. Ini merupakan hal baru bagi masyarakat saat ini, tapi sudah turun-temurun di masyarakat di Kampungg Naga.

Banyak orang membandingkan Kampung Naga ini dengan rumah-rumah di kawasan Alpen dan Jura di Eropa. Rumah-rumah ini dibangun dengan kontur dan kemiringan tanah. Tentu saja, rumah harus tetap tegak lurus. Dengan kondisi seperti ini, rumah dan fasilitas social harus dapat menyangga aktivitas harian manusia, ternak dan juga olah panen.

bentuk rumah

Rumah panggung dengan bahan kayu dan bambu kemudian Atapnya terbuat daun ijuh dari nipah atau ijuk. Arah angina juga disiasati sehingga mampu masuk ke dalam perkampungan secara leluasa. Fasillitas umum juga dibangun dengan tata letak yang menyiasati alur air dan kemiringan tanah.

Fasilitas seperti fasilitas cuci, mandi, dan air bersih dibuat dengan cermat hiingga memudahkan masyarakat untuk memanfaatkan air tersebut. Di dalamnya, terdapat beberapa balai yang digunakan sebagai tempat perhelatan komunitas. Di sekeliling kampung, ditanam barisan pohon bambu yang semakin membuat kampung tetap sejuk dan asri dipandang.

Bagi traveller, tata kampung ini mengingatkan jejak Majapahit di situs Trowulan, atau a�?Negara-kotaa�? seperti Jenewa (Swiss). Ada tata fasilitas yang emnunjukkan bahwa masyarakat sudah mengatur diri mereka sendiri secara baik dan berimbang. Dengan daya tarik tersebut maka kampung maka menjadi magnet bagi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Setiap hari sekitar 20-an orang asing berkunjung ke kampung ini.

Selama musim liburan, Kampung Naga akan semakin ramai oleh para pelancong. Biasanya wisatawan yang mampir dari Jakarta atau Bandung. Ini dikarenakan lokasinya yang mudah dikunjungi, hanya beberapa ratus meter dari jalan raya. Meskipun hanya singgah, para wisatawan dapat merasakan kedamaian sejenak ketika berada di Kampung Naga.

pada dasarnya masyarakat Kampung Naga menolak kampung mereka disebut sebagai obyek wisata. Alasannya: mereka tidak ingin dijadikan tontonan, sebaliknya mereka ingin agar dijadikan tuntunan. Sehingga, masuk ke sini tidak dipungut biaya sepeser pun. Tapi, kita masih dapat berkontribusi dengan membeli cinderamata dan menyewa jasa pemandu.

Oleh : Siti Khotimah

Tadris IPS 1/C

Sumber;

Henry T. Simarmata, Sunaryo, dkk. 2015. 101 Alasan Mencintai Indonesia, PSIK Indonesia.

https://alampriangan.com/wisata-kampung-naga/

Komentar
Memuat...