Inspirasi Tanpa Batas

Kebutuhan Sistem dan Studi Pendidikan Terhadap Filsafat Pendidikan Islam

0 48

Kebutuhan Sistem dan Studi Pendidikan Terhadap Filsafat Pendidikan Islam: Pada masa keterbelakangan dan kekalahan yang dilalui umat-umat, para ahli mulai melakukan kerja keras. Mereka meneliti sebab-sebab dengan menguji sistem pendidikan yang ada. Norma dalam hal ini adalah bahwa kemajuan dan keterbelakangan bermula pada muatan kejiwaan dan pemikiran. Kemudian menyebar ke berbagai macam bidang kehidupan. Ini adalah apa yang diarahkan oleh Qur`an ketika menyatakan:

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Ar-Ra’d [13]: 11).

Pemikiran Islam modern merasakan masalah ini ketika mulai mengatakan bahwa kemrosotan dan keterbelakangan dunia Islam modern mungkin karena penyimpangannya dari Islam dan bahwa kembali ke Islam adalah obat yang manjur untuk kemrosotan dan keterbelakangan ini.

Jelasnya bahwa perkataan seperti ini tetap berada dalam tahapan “merasakan bermasalah” dan tidak melampaui tahapan “mendefinisikan masalah”, “memilih dan mengaplikasikan jalan keluar” dan “menyimpulkan dan mengevaluasi hasil” sebagaimana dinyatakan langkah-langkah penelitian ilmiah.

Lemahnya Sistem Pendidikan Di Dunia Islam Modern

Jika kita berusaha “mendefinisikan masalah” yang diderita oleh dunia Islam maka kita akan menemukan bahwa sebab utama berada jauh dari Islam adalah lemahnya sistem pendidikan di dunia Islam modern untuk memproduk “sebentuk” manusia yang diinginkan yang cakap mendiagnosis krisis yang ada kemudian menyimpulkan jalan keluar yang Islami dan sesuai. Tidak cukup hanya meneriakkan kepada umat dengan suara kita yang paling nyaring “kebalilah kepada Islam!” “kebalilah kepada Islam!” karena ini adalah retorika pengkhotbah dan retorika khutbah.

Akan tetapi kita membutuhkan fuqaha ulil albab yang memikirkan masalah yang belum terobati dan penyakit yang kronis dan mendiagnosis sebab-sebabnya, kemudian menginternalisasikan kebutuhan-kebutuhan masyarakat Islam. Setelah itu mengarahkan kepada sumber Islam sehingga menghayati ayat-ayat-Nya dan menalar nash-nash-Nya dan menyimpulkan jalan keluar dan pengobatan yang diperlukan. Selanjutnya mentransformasikan pemikiran dan jalan keluar ini menjadi aplikasi dan praktek di tangan para pelaksana, kemudian dijelmakan dalam kehidupan individu dan kolektif dalam praktek, nilai dan keahlian yang diarahkan oleh para pelaksana yang cakap.

Lembaga pendidikan yang ada di dunia Islam bertanggungjawab untuk menghasilkan model pemikir, ahli, dan pelaksana. Akan tetapi dunia Islam tidak memiliki kecakapan, strategi dan juga metode yang diperlukan untuk menjalankan peran ini karena masih terbagi menjadi dua golongan. Satu golongan mengikuti “leluhur” yang telah lalu, dan satu golongan lagi adalah yang mengikuti “Barat” modern. Tidak ada bedanya apakah taklid itu berlaku pada model yang tradisional sekali atau yang sama sekali baru. Kedua bentuk taklid ini hilang dari realitas dan masalah-masalah kehidupan yang ada, dan keduanya menegasikan akal meskipun aspek-aspek penegasiannya itu sendiri berbeda-beda.

Tidak Memiliki Konsepsi

Golongan pertama –yang dialami oleh lembaga pendidikan Islam- tidak memiliki konsepsi yang sederhana sekalipun tentang makna filsafat pendidikan dan apa yang harus muncul darinya berupa tujuan, metode dan teknik. Pusat pendidikan di dalamnya adalah “pendongeng” yang secara turun temurun dari “leluhur” di telinga para remaja di tengah-tengah pelajaran, dan yang diucapkan oleh para pengkhutbah berupa teriakan “kebalilah kepada Islam!” “kebalilah kepada Islam!” kemudian hasil dari cara seperti ini adalah ketidaktahuan akan bagaimana cara kembali kepada Islam dan kelemahan yang menyebabkan kerugian dan penyesalan. Dahulu seorang sahabat Nabi Abdullah bin Mas’ud berkata: “Pada akhir zaman akan banyak khuthaba` dan sedikit fuqaha“.

Ketika lembaga ini hendak memperbaiki sistem pendidikannya, namun tidak menjalankan langkah-langkah Islam dalam mengadakan perbaikan; mengadakan studi terhadap realitas pendidikan di dalamnya dalam rangka mendefinisikan masalah yang direfleksikan dalam bentuk kemandulan pendidikan ini. Kemudian mengadakan studi terhadap sejarah keadaan; keadaan kemandulan pendidikan untuk mendefinisikan awal, sebab dan titik permulaannya, untuk kemudian memberikan jalan keluar yang sesuai dalam menyelesaikannya.

Lembaga pendidikan Islam tidak melakukan itu dan tidak memperkaya proses-proses yang dibutuhkan. Yakni berupa pemikiran yang mendalam yang tarafnya tinggi. Akan tetapi mengeluarkan teknik-teknik sistem pendidikan Barat dalam mengorganisir metode, manajemen, ujian, nama ijazah dan gelar pendidik serta tingkatan-tingkatannya. Bukan menguraikan filsafat yanng tersembunyi di balik semua itu dan mengetahui sejauh mana kesesuaiannya dengan semangat Islam!

Kecakapan Untuk Menjalankan Peran Reformasi

Golongan kedua yang direfleksikan lembaga pendidikan modern yang dijalankan dengan bentuk lembaga Barat. Juga bukanlah kecakapan untuk menjalankan peran reformasi yang diperlukan karena masih semata-mata “agensi pendidikan” bagi universitas dan lembaga pendidikan Barat. Hasil-hasilnya dibagikan, karya-karyanya diterjemahkan dan para tokohnya dikenali. Kemudian hasilnya adalah menanamkan kelemahan dan perasaan akan kesia-siaan dan kehinaan dalam jiwa para remaja. Selain itu, mempersiapkan orang-orang cerdas untuk menaggalkan nalar dan jiwa masyarakat induk mereka. Serta menisbatkan diri kepada masyarakat Barat pada awal kesempatan timbul.

Pada tahun-tahun terakhir para peneliti Islam melakukan “pendefinisan masalah” ketika mulai mengatakan bahwa masalah dunia Islam terbatas pada sistem pendidikan yang ada di dalamnya. Kemudian diikuti dengan seminar-seminar, muktamar-muktamar dan aplikasi-aplikasi pada sebagian universitas dan sistem pendidikan yang ada.

Hanya saja penelitian, dokumen dan aplikasi yang dihasilkan oleh upaya-upaya ini memiliki dua karakter. Pertama, hanya berhenti pada pemusatan untuk melahirkan buah pendidikan Islam pada masa-masa awal. Selain itu, menyanjung-nyanjung keistimewaan pendidikan ini dan tokoh-tokohnya -sebagai tradisi- yang memainkan perannya pada masa lalu. Kemudian menghasilkan peradaban dengan tujuan membentengi Muslim modern dari pencarian pada bejana peleburan logam yang diedarkan oleh pendidikan Barat modern.

Kedua, bahwa pengobatan masih dalam bingkai generalisasi teori dan muatan perasaan yang tidak membantu mentransformasikannya menjadi aplikasi, sistem dan potret sebagaimana itu tidak membantu –berbagai macam- objek pendidikan dan pengajaran.

Aliran yang Sangat Menjauhkan Kepribadian Islam

Catatan bahwa pengobatan aliran ini lebih banyak merupakan reaksi kejiwaan terhadap pemikiran Barat daripada meneliti dasar-dasar Islam itu sendiri. Ini adalah aliran yang sangat menjauhkan kepribadian Islam dari pengaruh aliran-aliran kebudayaan yang mengalir deras dari Barat. Hanya saja simpati dan perasaan yang mendalam atas upaya penjagaan ini tidak sesuai dengan hukum interaksi antar peradaban. Yakni interaksi yang tidak berhenti sejenak pun melalui sejarah Islam di bumi. Tidak diragukan lagi bahwa interaksi antar peradaban telah semakin bertambah pada masa kita saat ini –masa qoryah al kurrah al ardhiyah (global village) di mana kita tidak bisa hidup tanpa melaluinya.

Oleh karena itu muslim modern harus menginternalisasikan cakupan –risalahnya- pada saat ini alih-alih merasa cukup dengan tradsi semata. Muslim modern juga harus memasuki masa dengan kekuatan, orisinalitas dan kejelasan dan menjalankan perannya –sebagai saksi masa- yang menandai kemajuan dan kebaikan, dan memperingatkan akan keterbelakangan dan keburukan. Dan orang yang tidak menyaksikan masa dengan sarana, istilah, pemikiran dan bahasanya tidak mungkin bisa menyaksikannya.

Mencari “Nafkah” Dengan Cara Membuat Tulisan Tentang Pendidikan Islam

Disamping aliran –teoretis tradisional- ini terdapat aliran kedua yang mencari “nafkah” dengan cara membuat tulisan tentang pendidikan Islam. Aliran ini melakukan dua hal. Pertama, ia kembali pada apa yang telah lalu penyebarannya pada era “mode” demokrasi, sosialisme dan nasionalisme dengan judul pendidikan Islam.

Kedua, memilih judul-judul tulisannya dengan nama studi yang diajukan oleh berbagai macam sumber pendidikan Islam. Selanjutnya mengutip halaman dan fasal dari buku-buku pemikiran umum seperti; Sayyid Quthb, Al Maududi, Muhammad Quthb, An-Nadwi dan Sylatut dan akhirnya menerbitkan buku.

Tidak diragukan lagi bahwa menganggap mudah penyelesaian masalah pendidikan –khususnya pendidikan Islam- ini adalah sesuatu hal yang perlu diperhatikan. Karena termasuk prinsip yang mendasar dalam ilmu Psikologi bahwa jika kita hendak merusak sebuah aliran pemikiran tertentu, orientasi yang bertentangan atau penyiaran yang tidak membuat kita takjub maka kita memasuki sesuatu yang bukan bagian darinya. Lalu kembali kepada tarafnya dan tergelincir kepada bidang yang tidak logis dan tidak diterima. Dan seketika itu dianggap mudah oleh orang-orang dan mereka mengambil seluruhnya dan memindahkannya. Oleh karena itu, masalahnya dialihkan kepada kegagalan. Kegagalannya dianggap sebagai model yang buruk dan rintangan seperti melaksanakan upaya apapun untuk membangkitkannya dari awal.

Kebutuhan Penelitian Pendidikan Islam

Oleh karena itu semuanya masih merupakan kebutuhan untuk meningkatkan penelitian dalam rangka mendefinisikan dua hal:

Pertama, menawarkan pendidikan Islam –sebagai risalah- untuk menghadapi ancaman yang dihadapi dunia Islam modern dan memenuhi kebutuhan dan harapan masa depannya. Juga untuk memasuki kancah peperangan pemikiran modern global yang mencari teori pendidikan baru yang bisa megeluarkannya dari krisisnya yang aktual dan membantu untuk melewatinya.

Kedua, menghasilkan sumber dan aplikasi pendidikan yang diperlukan pendidikan ini seperti; filsafat pendidikan, tujuan pendidikan Islam, bidang-bidang pendidikan Islam dan lain-lain. Hal ini berupa sumber dan aplikasi pendidikan yang dibutuhkan oleh sistem pendidikan yang kita harapkan bisa dibangun di dunia Islam dan dunia juga sama seperti kita berharap bisa menghasilkannya juga. ***Dr. Majid Irsani Al Kailani

Komentar
Memuat...