Home » Filsafat » Kecantikan, Keindahan dan Kenikmatan dalam Perspektif Filsafat | Teori Nilai Part – 3

Share This Post

Filsafat

Kecantikan, Keindahan dan Kenikmatan dalam Perspektif Filsafat | Teori Nilai Part – 3

Kecantikan, Keindahan dan Kenikmatan dalam Perspektif Filsafat | Teori Nilai Part - 3

Estetika. Kata ini sering terdengar meski mungkin tidak semua orang otomatis memahami maknanya secara utuh. Estetika sering diidentikkan dengan kecantikan, keindahan dan kenikmatan. Dalam bahasa lain, estetika sering juga diterjemahkan dengan sesuatu yang layak disebut atau diasumsikan cantik, indah dan nikmat.

Misalnya ada seseorang katakan namanya Maskun Jaelani. Ia melihat bahwa seorang wanita yang disebut cantik atau berestetik harus memenuhi syarat seperti: Badannya tinggi semampai, kulitnya kuning langsat, matanya berbinar, bibirya sensual dan rambutnya terurai. Penilaian terhadap sesuatu yang disebut cantik atau berestetik menurut Maskun tadi, dilihatnya lebih dengan menggunakan cara yang sensual fisik.

Rupanya, penilaian saudara Maskun terhadap sesuatu yang disebut estetik itu, berbeda dengan teman saya yang lain. Estetik dalam perpektif Saudara Maskun cenderung fisik seperti pikiran Aristoteles. Saudara Ruslan Abdul Ghani dan Saudara Shohib Muslim berasumsi, bahwa yang estetik atau yang cantik itu bukan pada sesuatu yang bersipat fisik yang ditimbulkan atau dipancarkan tubuh dan wajah wanita. Dua orang ini lebih memilih pada aura yang ditampilkan wanita itu. Sifat kecantikannya menjadi demikian metafisik. Tidak tampak sekaligus tidak sensual. Estetika dalam perfektif dua insan ini sesungguhnya terletak pada dimensi metafisik dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Meski itu sulit diperoleh, bukan berarti wanita sejenis itu, tidak ada di muka bumi, Rupanya, karena faktor itu pula, dua makhluk ini lama sekali tidak menikah sampai umuenya cukup menua. Usia mereka sudah mulai menua dan gadis remaja tidak lagi enjoy melihatnya. Pikirannya menjadi demikian Socratian dan sangat Stoik sebagai lawan dari pikiran Aristotalian.

Bagi adik saya, saudara Arip Amin lain lagi. la menyatakan bahwa yang estetik dari seorang wanita itu, ya yang cantik dari sisi fisik dan cantik dari sisi metafisik. Auranya bagus, imannya bagus dan secara fisik juga bagus. Wanita jenis ini, meski sulit diperoleh, tetapi, bukan tidak mungkin ditemukan di alam yang fana ini. Itu semua, menurutnya, akan sangat tergantung pada penilaian yang mampu diberikan pemberi nilai kepada objek yang dia nilai. Pikiran terakhir ini, menjadi demikian dualistik seperti pernah diperagakan Plato, muridnya Socrates di abad ke IV sebelum Masehi,

Tiga wacana di atas, persis mewakili tiga arus besar pemikiran kefilsafatan sejak dibangun di Yunani, sampai sekarang, berkaitan dengan ilmu dan substansi yang henciak ditelanjangi ilmu. Sampai sekarang persoalan ini terus berkelindan dan mungkin akan bertahan hingga alam dunia berakhir.

Rekomendasi untuk anda !!   Mempertahankan Sesuatu yang Telah Terpilih| Problem Pilihan Part 2

Dunia Seni Butuh Nilai

Bagi saya sendiri, terus terang, ketiga aliran tadi telah mengingatkan pada perdebatan sengit beberapa tahun belakangan ini. Pemerintah didesak kebanyakan masyarakat Muslim untuk mengundangkan Rancangan Undang-undang (RUU) Pomografi dan Pomoaksi di Indonesia. Sebagian orang menganggap bahwa dunia seni di Indonesia tidak membatasi wilayah geraknya pada sesuatu yang esensial bernilai. Karena itu, menurut kelompok ini, seni harus dibatasi oleh nilai ketuhanan yang berbasis pada landasan agama. Sebab jika tidak, maka seni akan mendorong timbulnya keresahan dan kondisi absurd dalam tata sistem kehidupan umat manusia, tentu khususnya masyarakat Indonesia, yang mentahbiskan diri sebagai masyarakat yang beragama.

Di sisi lain, ada juga yang menyatakan bahwa RUU tersebut hanya akan membatasi ruang bebas seni yang telah menjadi ciri dan sifat hakiki dunia kesenian yang bebas nilai. Seni dalam anggapan kelompok kedua ini, harus dipahami sebagai sistem yang relative. Kelompok ini misalnya, menyebut fenomena buka- bukaan yang lazim diperagaman para sineas Indonesia.

Menurut kelompok terakhir ini, perilaku pakaian wanita yang terbuka mungkin dianggap tidak bersusila untuk masyarakat tertentu, tetapi menjadi demikian biasa bagi masyarakat pada umumnya. Masyarakat lain, seperti misalnya masyarakat Bali yang terbiasa menggunakan pakaian terbuka, buka-bukaan seperti lazim dipereontohkan para artis dan sineas Indonesia, akan dianggap sebagai hal yang lumrah, sesuatu yang biasa dan wajar dalam kehidupan manusia. Ia tidak dianggap sebagai perilaku yang melanggar etika sosial dan etika agama. Karena itu, perilaku “buka-bukaan” tidak dapat disebut sebagai pelanggaran norma etik kemasyarakatan.

Penilaian atas Seni

Nilai estetik akhimya menjadi demikian subjektif selain tentu bersifat lokaly, Peilaian terhadap sesuatu yang dianggap berestetik itu, hanya berlaku dalam ruang lingkup, waktu, tempat dan jaman yang mengitari setiap persoalan yang melingkupinya.

Contoh lain adalah perbedaan tradisi antara satu daerah dengan daerah lain. Sulit dibayangkan bagaimana kalau tradisi masyarakat Arab yang bangga jika janggutnya dielus, diterapkan dalam konteks masyarakat Indonesia. Tidak mungkin bagi masyarakat Arab disebut tidak sopan ketika ada seorang anak memegang janggut orang tua.

Konsep beretika sekaligus berestetika bagi masyarakat Arab menjadi sangat berbeda dengan konsep etik estetik yang berlaku di masyarakat Indonesia. Inilah soal esensial pentignya pengkajian terhadap nilai baik pada aspek etik -sebagaimana dijelaskan di bab sebelumnya — maupun pada aspek estetik yang sedang dikaji di bab ini.

Karena itu, jika muncul asumsi yang menyebut ada seni atau film yang dianggap meninggalkan nilai susila, sebenamya belum tentu benar-benar tidak bersusila. Atau sebaliknya, jika ada seni yang diasumsikan mengandung nilai susila, belum tentu benar- benar bersusila. Bisa jadi film dimaksud, justru mengandung nilai asusila yang sangat buruk dampaknya bagi kehidupan manusia.

Rekomendasi untuk anda !!   Sejarah tentang Pentingnya Nilai dan Etika| Teori Nilai Part - 4

Asumsi yang menyebutkan bahwa film dan kesenian pada umumnya hampir mengabaikan ciri khas nilai kemanusiaan. Dalam kasus tertentu, dengan demikian, mungkin perlu dipertajam kembali analisisnya. Sebab pada akhirnya, manusia tidak mungkin mau dibuat seolah menjadi objek yang diproduksi manusia sendiri dalam wujud ekspresi dunia seni yang mengabaikan sisi terdalam yang terdapat dalam diri manusia sendiri.

Jikapun ada seni yang tidak mampu membuat manusia menjadi manusia, maka perlawanan pun bukan hanya akan datang dari kaum agamawan, tetapi sangat mungkin dari para seniman sendiri. Seni yang mengabaikan dimensi kemanusiaan, akan anggap menurunkan nilai-nilai dan martabat kemanusiaan itu sendiri, dan itu menyinggung semua unsur manusia. Tanpa kelas dan tanpa batas. Konstruk keindahan tidak lagi menjunjung tinggi makna keindahan itu sendiri yang sumber dasamya adalah Tuhan-Ilahi sebagai kreatov sekaligus koreografer tertinggi di seluruh alam jagat raya ini.

Penilaian atas Seni Mutlak Atau tidak?

Pada kasus tarian dan goyang Inul Daratista yang sempat heboh dalam beberapa tahun kebelakang, dapat menjadi contoh. Mayoritas bangsa ini masih cukup peka mengkaji dan menganalisis soal demikian yang umumnya meragukan untuk memposisikan Inul sebagai Diva Seni Musik di Indonesia. Penolakan dimaksud temyata bukan hanya datang dari kaum agamawanm tetapi dari mereka yang meyebut diri sebagai ahli seni, sama meragukan kualitas kesenian yang ditampilkan Inul. Tetapi, apakah penilaian atas Inul itu mutlak. Tentu juga tidak!

Dalam formula itulah, lahir apa yang disebut dengan keharusan melakukan rekonstruksi terhadap sesuatu yang disebut estetika. Estetika akan menjadi disiplin ilmu yang bertugas mempertanyakan hakikat keindahan. Kajian tentang nilai estetika ini, dalam ruang filsafat ilmu kemudian diberi nama askiologi yang cabangya selain estetika tersebut adalah etika. Tentu penyebutan ini masih sangat subjektif selain debatable di kalangan para ahli sendiri. Dua atau tiga tulisan akan lyceum tampilkan berkaitan dengan soal estetika ini. Prof. Dr. Cecep  Sumarna

Share This Post

1 Comment

  1. Dari uraian tersebut saya simpulkan bahwa penilaian terhadap sebuah estetika tentu berbeda dari satu individu dan individu lain. Sesuai dengan pandangan asumsi dan tolak ukur dalam penilaian tersebut. Estetika acap kali bertentangan dengan etika -sekali lagi tergantung pada pandangan seseorang dalam penilaian tersebut- lalu diantara etika dan estetika, mana yang arus di prioritaskan kala keduanya bertemu dalam satu titik namun bertolak belakang. Terimakasih pa ?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>