Kedermawanan Dalam Konteks Kehidupan Sosial

0 73

Dalam konteks kehidupan sosial, wahyu perlu didudukkan dalam perspektif sejarah. Seorang mufassir dalam membicarakan perkembangan “risâlah” (message) yang diturunkan Allah kepada manusia,  harus selalu disesuaikan dengan perkembangan mental dan sosiologisnya untuk meyakinkan orisinalitas ajaran yang disampaikan (baca: Islam).  Dalam perkembangannya, manusia tidak dapat lagi hidup dalam  kemurnian dan altruisme. Pertentangan, mengganti rasa murah hati, percekcokan mengalahkan rasa kasih sayang (charity).

Akhirnya Tuhan mewahyukan agama yang  tidak melupakan sentimen dan kebutuhan material dan tidak melupakan hati serta otak. Islam diturunkan untuk menertibkan hubungan antar manusia, dan mengatur masyarakat dunia, sambil menunjukkan jalan kepada kebahagiaan abadi. Gambaran tentang tahap perkembangan manusia, dapat menunjukkan bagaimana akal  dengan secara bertahap dapat mengalahkan altruisme. Dengan begitu, maka keadilan  juga akan mengalahkan rasa belas kasihan.

Belas kasihan (charity) bukan sekadar berbuat baik, bermurah hati, rasa kemanusiaan, altruism, kebaikan hati, rasa iba, sikap terbuka, atau sifat kasih. Charity lebih dari itu semua, yaitu segala sifat-sifat yang baik. Sikap yang tersebut diatas hanya mempunyai satu  persamaan, yaitu mempunyai sifat sebaliknya “egois”.

Cinta kepada tetangga yang secara spontan, atau tidak dengan fikiran, tidak sama dengan charity kecuali dari segi bahwa pelakunya memandang manusia dengan tak terbatas dan menegakkan sifat mulia Tuhan (baca: asmâ’ al-husnâ) dalam diri manusia. Konsep charity dalam arti ini merupakan konsep  agama-agama Masehi. Al-Qur’an melukiskan orang yang baik dengan memberikan ilusterasi seperti mereka yang melakukan ‘amal shâlih, memberikan  makan kepada orang miskin, anak yatim dan orang tawanan, sebagai manifestasi rasa kecintaannya kepada Tuhan.

Anugerah Yang Tak Terbatas Dari Tuhan

Konsep sosial kemanusiaan (humanisme) dalam Islam,  berkedudukan sama dengan yang dikandung oleh agama Masehi lain. Istilah tersebut dipakai oleh vocabuler modern dengan menyinonimkan term shadaqah, tetapi sinonim tersebut telah menyempitkan sebagian besar dari daya tariknya. Charity yang disinonimkan dengan sedekah, persamaan arti tersebut dirasa masih semu, karena  masih terdapat arti yang sukar untuk diberi definisi. Dengan demikian, charity dapat didefinisikan sebagai “anugerah yang tak terbatas dari Tuhan,  untuk menegakkan sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia.”

Bagi ummat Islam, charity (belas kasihan) tidak terdapat pertentangan dengan keadilan. Oleh karena itu, menutupi kesalahan seorang penjahat dengan dalih rasa sosial kemanusiaan, merupakan tindakan   yang bertentangan dengan charity, karena sama halnya   membiarkan si penjahat tetap dalam jalan yang sesat. Hukuman adalah charity (belas kasihan) yang aktif untuk melindungi masyarakat dan mencegah orang sesat agar jangan menjadi lebih sesat lagi.

Al-Qur’an berbicara kepada manusia secara utuh, baik melalui fikiran, tindakan sampai pada perasaan yang mendalam. Oleh karena itu, charity (belas kasihan) dalam Islam merupakan suatu nilai kemanusiaan yang pokok dan merupakan salah satu dari kebajikan (virtue) yang  fundamental. Kebajikan tersebut dikehendaki sebagai kebajikan yang  aktif, kolektif dan universal.

Dalam perspektif ini, charity bersifat Islamy secara istimewa, yakni bukan norma ideal yang tak dapat dijelmakan, tetapi merupakan  kaidah yang efektif untuk mengatur dan memperkokoh tatanan kehidupan. Oleh karena kebanyakan manusia tidak mampu mengikuti tuntutan charity  yang sempurna,  maka keadilan menjadi  tiang utama untuk mendirikan masyarakat yang sehat dan terpadu. Islam yang diyakini sebagai agama yang komplit dan sempurna oleh muslim, tidak menghalangi ekspresi spontan dari  kebajikan-kebajikan universal. Karena kemurahan Tuhan, “meliputi segala sesuatu.” Aplikasi hukum yang diwahyukan oleh Tuhan, diharapkan menjadi ukuran dari keadilan yang sempurna yang mendorong kepada perkembangan intelektual dan moral. Perkembangan tersebut diharapkan dapat menjurus kepada tingkat altruisme yang lebih tinggi yang akhirnya memungkinkan cinta ideal untuk menjadi kenyataan dalam kehidupan manusia.

Keadilan Adalah Kebenaran

Keadilan tidak hanya sebuah sistem paksaan yang formal untuk menuntut hak yang  timbal balik. Keadilan adalah pemisahan yang  tidak memihak antara yang dibolehkan dan yang dilarang. Oleh karena itu, keadilan itu harus legal, lurus, sesuai dengan semangat wahyu. Keadilan adalah kebenaran yang telah dimaklumkan oleh Tuhan kepada manusia dengan perantaraan al-Qur’an. Pandangan ini yang membedakan keadilan dari kebijakan-kebijakan yang lain. Charity akan menjadi spirit bagi philanthon yang dilakukan, yakni cinta kepada sesama yang berbasis atas kecintaan terhadap Tuhan.

Prinsip kesamaan ukuran dan proporsi, mendorong kepada keindahan dalam alam dan kepada kebaikan budi manusia. Menurut doktrin Islam, keadilan hanya menunjukkan dasar dan tujuan dari wahyu  Tuhan. Oleh karena itu, keadilan dapat diekspresikan dalam dua tingkat: keadilan Tuhan terhadap makhluk-Nya dan keadilan manusia terhadap manusia lain. Nabi Muhammad diperintahkan Tuhan untuk  membawa keadilan antara manusia. Sistem Islam berdiri atas norma-norma keseimbangan.

Konsepsi tentang Allah merupakan sifat  antara kekuasaan dan kekejaman disatu pihak, serta kemurahan hati dan belas kasihan di pihak lain.   Anjuran-anjuran moral adalah ditengah-tengah  dua ekstrim. Tengah ini adalah keadilan dan kabajikan yang  fundamental, yang  jauh dari rasa benci atau dengki, yang menghormati secara proporsi. Oleh karenanya, tindakan keras  terhadap mereka yang mengacau dan merusak keseimbangan menjadi satu perbuatan yang sah. Dengan begitu, muslim tidak memberikan pipi kanannya setelah ditampar pipi kirinya, akan tetapi mencegah dan menanggulangi kejahatan agar tidak terulang dan melebar.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.