Kedudukan Hadits dalam Al Qur’an

Kedudukan Hadits dalam Al Qur'an
0 1.195

Kata hadits, di mata umat Islam, sebenarnya bukan barang asing. Meski kadang salah diterjemahkan. Misalnya, para ulama hadits menyebut bahwa apa yang disebut dengan hadits adalah: “Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad, baik menyangkut Perkataan, Perbuatan dan Hal Ihwal tentangnya.” Kata disandarkan [udhifa], sering ditinggalkan maknanya. Padahal kata ini, menjadi penentu atas apa yang disebut dengan hadits.

Karena itu, kedudukan hadits tidak identik dengan perkataan, perbuatan dan hal ihwal Nabi. Hadits sesungguhnya hanya refortase sahabat yang hidup bersama Nabi secara bersama. Dengan pemaknaan ini, apa yang disebut hadits, sesungguhnya bisa benar-benar berasal dari Nabi, bisa juga tidak,. Sahabatlah yang menirukan ucapan, perbuatan atau hal ihwal tentang Nabi. Karena itu, hadits memiliki tingkatan yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Meski mungkin objek atau substansi matannya sama.

Hadits yang demikian itulah yang disebut sebagai sumber hukum dan ajaran bagi umat Islam. Hadits yang benar-benar patut diduga bersumber secara benar dari Nabi itu pula, yang menempatkan kedudukannya hampir setara dengan al Qur’an. Antara keduanya [al Qur’an dan Hadits], bahkan tidak dapat dipisahkan. Kedudukan al hadits, menjadi demikian penting dalam konteks hukum Islam.

Apa saja kedudukan hadits relasinya dengan al Qur’an. Kalau kita membaca al Qur’an Surat al Nahl [16]: 44, yang artinya: “Kami telah menurunkan kepadamu [Muhammad], al Qur’an agar kamu menjelaskan kepada manusia, apa-apa yang diturunkanKu kepada mereka, maka kedudukan hadits menjadi demikian terbaca.

Hadits sebagai Tabyin

Hadits yang demikian, akan menjadi tabyin dalam bentuk praksis hidup umat Islam. Hadits misalnya dapat menjadi tafshil [pemerinci] terhadap ayat-ayat al Qur’an yang masih mujmal atau am [umum]. Dalam makna lain, hadits dapat juga berfungsi untuk mempertegas apa yang telah difirmankan Allah.

Dalam bagian lain, hadits adakkalanya juga berfungsi untuk menetapkan hukum-hukum yang tidak dijelaskan di dalam al Qur’an secara langsung. Karena itu, tanpa hadits, tidak mungkin kiranya al Qur’an, diamalkan sebagai tuntutan hidup secara praksis, tanpa peran hadits didalamnya.

Penulis mengilustrasi hal ini dengan menyebut bahwa al Qur’an adalah Undang-undang dasar. Sebagai sebuah UUD, maka, Ia hanya memuat aturan-atuiran dasar yang bersipat umum. Hadits dengan demikian, akan menjadi petunjuk teknis atas undang-undang yang bersipat umum tadi. Di sinilah, kita akhirnya menjadi tersadarkan bahwa Nabi Muhammad, akan selalu menjadi pusat percontohan umat.

Nabi Muhammad secara langsung akan menginternalisasi al Qur’an ke dalam dirinya sendiri pada seluruh tindakan dan perbuatannya. Hal ini persis seperi apa yang dikatakan Aisyah saat ditanya bapaknya Abu Bakar. Pertanyaan itu adalah, bagaimanakah akhlak Rasulullah ya Aisyah? Aisyah dengan lantang menyatakan bahwa akhlak Rasul adalah al Qur’an.

Dengan nalar seperti ini, maka, al Qur’an menjadi bagian integral dari Nabi Muhammad itu sendiri. Dan Nabi Muhammad mengimplementasikan seluruh tindakan, perbuatan, ucapan dan ihwal atas dirinya itu, sebagai manifestasi al Qur’an.

Karena itu, maka, Nabi Muhmmad  sesungguhnya diturunkan untuk menerjemahkan syari’atNya dalam kehidupan nyata umat. Yang demikian itulah yang disebut dengan hadits. Karena itu, menjadi dapat dimengerti juga, jika hadits disebut sebagai sumber hukum Islam. By. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...