Mengenal Lebih Dalam Kejawen dan “Manunggaling Kawula Gusti”

0 3.188

SYAHDAN ada seorang waliullah yang sangat pandai, berasal dari cacing sebangsa sudra. Ia memeroleh ilmu luhur yang membuat hatinya terbuka. Adapun ilmu luhur yang menjadikan hatinya terbuka itu awalnya ia peroleh dari Sunan Bonang tatkala Sunan Bonang memberi wejangan kepada Kanjeng Sunan Kalijaga. Wejangan ilmu luhur tersebut diberikan diatas perahu, yang berada di tengah rawa. Di tempat itulah Syekh Siti Jenar mendapatkan ilmu luhur tersebut (Sosrowijoyo R, Serat Syekh Siti Jenar, 1958 Yogya, alihbasa Abdul Munir Mulkhan).

Syekh Siti Jenar bagi kalangan Abangan dan Kejawen dianggap sebagai “guru besar utama”. “Manunggaling Kawula Gusti” banyak dipahami secara denotatif (harfiah), sehingga banyak menimbulkan tafsir yang berbeda dengan kalangan yang memahaminya secara konotatif. Simbol Kejawen merupakan simbol manusia Jawa.

Simbolisme sangat menonjol peranannya dalam religi. Hal ini dapat dilihat pada segala bentuk upacara keagamaan dan kisah-kisah para nabi, mulai Nabi Adam a.s. sampai Nabi Muhammad saw. Cara-cara berdoa manusia dari dulu sampai sekarang selalu diikuti dengan tingkah laku simbolis, mengucapkan doa sambil menadahkan kedua telapak tangan seraya mendongakan kepala ke atas, seolah-olah siap menerima sesuatu dari Tuhan yang Maha tinggi. Itulah tingkah laku simbolis, menadahkan kedua telapak tangan ke atas sambil berdoa. (Herusatoto, Budiono, Simbolisme dalam Budaya Jawa, Hanindita Graha Widia Yogtakarta, 2001).

Sebagai kelompok etnis terbesar di Asia Tenggara. Sebagian besar dari mereka mengaku dirinya sebagai Muslim – sekitar 65.000.000 penutur Jawa – . Namun dalam prakteknya terdapat budaya pemisah yang luar biasa antara mereka yang mengerjakan agama Islam secara serius dan mayoritas yang abangan. Yaitu mereka yang tidak hidup sesuai dengan aturan agama formal. Yang terakhir mengikuti cara mereka sendiri, Jawa, tradisi (kejawen), yang terutama produk dari sinkretisme animisme asli dan Hindu dengan campuran Islam. Abangan ini cenderung sangat religius dalam kesadaran mereka dalam berpartisipasi dalam kesatuan eksistensi dan ketergantungan pada prinsip kosmis yang mencakup segala yang mengatur kehidupan mereka (Mulder, Niels, Abangan Agama Jawa , KITLV).

Dalam definisi KBBI (2008), abangan (n) golongan masyarakat yang menganut agama Islam, tetapi tidak melaksanakan ajaran secara keseluruhan. Jawa abangan, seperti dinyatakan Mulder menyebut kehidupan manusia sebagai manifestasi dari “yang Satu”, yaitu, mencakup semua “kehidupan”, atau prinsip asal dan tujuan. Akibatnya perintah kosmis dan sosial yang satu dan sebanyak dalam masyarakat manusia, seperti dalam konteks kosmik yang lebih luas. Pandangan ini ditopang oleh mitologi rumit India (terutama Mahabharata) inspirasi, dengan yang kebanyakan orang Jawa sangat erat berkenalan karena popularitas wayang atau teater bayangan, yang menggambarkan kehidupan di bumi sebagai bayangan belaka peristiwa dan pada “tingkat yang lebih tinggi, sebagai nasib tak terhindarkan di mana seluruhnya harus berpartisipasi, memaksakan batas takdir, tujuan dan kemauan. Batasan ini menemukan ekspresi dalam prinsip pepestèn, yaitu fakta bahwa segala sesuatu telah ditahbiskan sebelumnya dan harus ajalnya tetap sesuai dengan “hukum kosmis” (maka daya tarik Jawa dengan nubuat, perhitungan magis dan horoscopy).

Namun apakah “manunggaling kawula-gusti sebagai ajaran ? Manunggaling kawula-Gusti merupakan sebuah pengalaman, bukan ajaran. Suatu pengalaman yang benar-benar nyata, tak terbatas (infinite), bagi yang pernah mengalaminya. Pengalaman ini, dapat terjadi secara subjektif maupun bentuk kolektif. Pengalaman yang bernuansa religious ini, dalam bentuk mistik kejawen sering diperumpamakan sebagai: curiga manjing werangka, warangka manjing curiga, ombak mungging jaladri, tapake kontul nglayang, kodokngemuli lenge dan sebagainya. Perumpamaan (isbat) ini merupakan gambaran perpaduan (pamoring kawula-Gusti, loro-loroning atunggal, jumbuhing kawula-Gusti) yang keduanya sulit dipisahkan (Endraswaswara, Suwardi, Mistik Kejawen, Narasi 2003).

Hidup ada di semua lingkungan, menghidupkan kosmos dan bumi, melahirkan dan kembali menyerap, sementara kehidupan manusia adalah hanya menghentikan gagasan “sebagai istirahat untuk minum”. Hidup ini seperti itu harus, dan harus diterima sesuai; itu mengatur dan bermanfaat tanpa perspektif eskatologis yang jelas, sehingga menjadi pengalaman sosial dan keagamaan yang dilakukan dengan sangat serius oleh kebanyakan orang Jawa.

Wayang dan Slametan

 

Skema besar kehidupan dipahami sebagai sebuah perintah dan mengoordinasikan seluruh, setiap individu harus menerima dan mereka harus menyesuaikan diri. Mereka harus mencoba untuk menyesuaikan diri dengan apa yang lebih besar dari diri mereka sendiri dan berusaha untuk berada dalam keadaan damai dan emosi yang tenang, slamet, yang merupakan “keadaan dimana mereka akan menjalankan upacara tetap lancar dan tidak diinginkan akan terjadi kepada siapa pun” (Koentjaraningrat 1960: 95). Untuk keselamatan saat ini merupakan tujuan praktek sosial keagamaan abangan.

Mulder mengutip Geertz (1960), ritual inti dalam upaya untuk memertahankan. Atau perintah “ganti rugi” adalah slametan, yaitu upacara sosial keagamaan komunal. Pada upacara itu tetangga bersama beberapa kerabat dan teman-teman berpartisipasi. Slametan tersebut diadakan di seluruh lini kehidupan (dari bulan ke delapan kehamilan sampai hari keseribu setelah kematian).  Dalam kejadian siklus komunal (terutama bersih-bersih desa atau festival desa tahunan disertai dengan ritual pemurnian tertentu), dimana kesejahteraan masyarakat dan keseimbangan telah terganggu. Pada slametan seluruh peserta menikmati status ritual yang sama, setiap orang yang hadir memberikan kontribusi sama untuk potensi spiritual acara. Oleh karena itu slametan seperti berfungsi untuk menunjukkan kesatuan yang harmonis (rukun) di antara para peserta, meminta restu dari para dewa, roh dan nenek moyang, yang secara resmi diundang untuk hadir.

Fungsi dalang Dalam sebagai wakil dari “Allah”

Pertunjukan wayang cenderung menemani slametan yang paling penting. Pemain (dalang) berfungsi sebagai wakil dari “Allah”, memroyeksikan kekuatan dan keberuntungan (slamet) untuk kehidupan di bumi. Aspek pembangkit tenaga spiritual ini, yang jelas menunjukkan bermain wayang yang dipentaskan dengan tujuan dari mencegah “hama tikus” mengancam panen. Pada upacara pemurnian tertentu yang berfungsi untuk melepaskan penderitaan (dengan cara ruwatan). Sebagai kinerja sebuah drama wayang tertentu bahkan sangat diperlukan untuk menggagalkan niat jahat, dimana orang-orang tersebut telah dilahirkan (Sukanda-Tessier 1977: 228-34; Lind nd).

Ritual kunci berfungsi untuk menunjukkan keinginan untuk “slamet” melalui upaya untuk mencapai kontinuitas terganggu atau untuk memperbaiki keseimbangan yang terganggu. Agar kehidupan mereka lebih baik, sekarang atau di akhirat: bahwa manusia dapat berperan aktif dalam pemeliharaan ketertiban ini dan dapat memengaruhi jalannya tertib acara, memerintahkan hubungan sosial menjadi sarana dan kondisi untuk memromosikan keadaan “slamet”. Akibatnya, sulit untuk memisahkan tugas sosial dari kewajiban agama. Dan kita harus melihat dalam pandangan dunia dan etika untuk elaborasi agama bermakna lebih lanjut. Hanya kemudian untuk lebih banyak latihan mistis secara individu yang berpusat pada agama Jawa yang diklarifikasi dan untuk memahami pluralitas ekspresi keagamaan abangan. *** Nurdin M. Noer – wartawan senior, pemerhati kebuadayaan lokal.

Sumber bacaan :

Endraswaswara, Suwardi, Mistik Kejawen, Narasi 2003

Herusatoto, Budiono, Simbolisme dalam Budaya Jawa, Hanindita Graha Widia Yogtakarta, 2001.

Mulder, Niels, Abangan Agama Jawa , KITLV

Sosrowijoyo R, Serat Syekh SitiJenar, 1958 Yogya, alihbasa Abdul Munir Mulkhan.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.