Kekecewaan Adalah Kawan Dekat Kemenangan

0 9

Kekecewaan adalah kawan dekat kemenangan. Sedikit saja tergelincir, seketika kemenangan yang terjatuh akan ditangkap oleh kekecewaan. Alhasil, kemenangan berubah wajah menjadi kegagalan. Pun jika yang sedari awal muncul itu kekalahan, kekecewaan menerima apa adanya. Kekecewaan kawan yang baik untuk apa saja dan siapa saja. Ia tidak tidak memilih, tak pula menolak. Siap hadir kapanpun, Tapi jika dibaca lebih teliti, kekecewaan sejatinya musuh yang nyata.

Dalam setiap kompetisi, kemenangan dan kekalahan merupakan kenyataan di luar diri. Bukan kita yang menentukan, atau lebih tepat jika disadari bukan kita sendirilah penentunya. Faktor-faktor pendukung dan penghalang berkelindan saling merugikan. Dorongan atau rintangan tak pernah sepakat untuk menguntungkan satu sama lain. Sementara itu, yang di dalam diri kita disebut keadaan. Kitalah penentunya. Rasa ingin, kurang, puas dan lega menjelma empat pilar jiwa. Dan pilar-pilar itulah mudah dirobohkan.

Rasa Ynginlah Yang Mendorong Kita Mencapai Kemenangan

Rasa inginlah yang mendorong kita mencapai kemenangan. Dalam skala yang lebih kecil setidaknya kemenangan disebut keberhasilan jika tanpa persaingan. Karena rasa kurang, kita kemudian berusaha lebih keras lagi dengan mengada-adakan persaingan untuk mencapai kemenangan. Nah, ketika  menang disitulah kita merasa puas. Ada yang berhenti di rasa itu, ada yang berhasrat lebih keras lagi demi mengalami rasa tertinggi, yaitu lega. Padahal, siapa yang mudah lega, ia pun mudah dikecewakan.

Baik itu rasa ingin, maupun kurang, puas dan lega, sangat dekat dengan kekecewaan. Tergelincir sedikit saja, kita mudah merasa kecewa. Dan jika tidak mengenal, pun tidak mengelola rasa itu, kekecewaan akan membawa kita pada keterpurukan yang dalam. Kecewa ibarat gempa dalam jiwa, Ia bisa berujung pada nestapa berkepanjangan. Kita lantas cenderung menyalahkan diri sendiri, menyesal tiada akhir, dan jika tak kuat bisa gila. Tak lagi sinkron antara rasa dan logika.

Padahal, tidak akan kecewa jika kita melibatkan Allah dalam segala urusan sejak mula hingga akhir. Tidak akan menyesal kita berdoa kepada-Nya, memohon dengan rinci segala apa yang ada dihati.  Ketika hati bening dan akal jernih, itulah keadaan ketika  kita disebut telah dianugrahi akal budi. Tak lagi mudah terperosok dalam kekecewaan, kebencian dan permusuhan. So, Berhentilah kecewa, mulaialah bersyukur. Berhentilah mengeluh, mulailah bersujud. Berhentilah mengaduh dan mulailah berdoa.

Oleh : Abdul Mukti (Penulis adalah Mahasiswa STKIP Muhammadiyah Kuningan)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.