Kekuatan Hati dalam Penderitaan

0 28

Kekuatan Hati dalam Penderitaan. Dalam kehidupan, kita senantiasa dihadapkan pada dua kondisi yang saling berpasangan, yakni kebahagiaan dan penderitaan. Kebahagiaan itu hadir ketika semua yang kita harapkan menjadi sebuah kenyataan tetapi sebaliknya ketika apa yang kita harapkan itu tidak sesuai dengan apa yang terjadi atau malah lebih buruk itu bisa menjadi sebuah penderitaan. Seperti halnya seorang Ayah yang ingin menikmati masa tuanya dengan bahagia tetapi ketika takdir sudah berkehendak lain kita tak bisa berbuat apa-apa.

Ayah divonis gagal ginjal ketika kami sangat membutuhkan dukungan dari seorang ayah. Ayah sudah menjadi tauladan yang baik untuk anak-anaknya dalam berbagai hal,yang paling diingat dari ayah itu adalah semangat untuk terus berjuang terutama berjuang melawan penyakit yang dideritanya. Sebenarnya penyakit itu dulu sudah merenggut separuh semangatnya tetapi lagi-lagi beliau menunjukan bahwa beliau pribadi yang patut menjadi tauladan bukan hanya bagi kami anak-anaknya tetapi bagi semua orang yang bernasib sama.

Suatu pagi, jarum jam menunjukan jam 05.30, tapi suasana rumah sudah ramai tidak seperti biasanya. Keadaan seperti ini memang terjadi hanya pada hari senin dan kamis. Pada hari itu ibu mendapat tugas tambahan selain mempersiapkan sarapan untuk anak-anaknya beliau juga mempersiapkan kelengkapan yang harus dibawa ayah untuk menjalani Therapy Haemodialisa (Cuci Darah) setiap senin dan kamis ke Rumah Sakit  di daerah Cirebon.

Cerita pilu di kehidupan keluarga kami  berawal ketika orang tua (Ayah) mencalonkan diri sebagai Kepala Desa. Tiga bulan berselang setelah beliau menjabat, kondisi kesehatannya mulai memburuk. Sudah beberapa dokter yang didatangi tetapi tidak mendapatkan hasil. Pada suatu sore nenek saya datang ke rumah dan melihat kondisi ayah lalu beliau menyarankan untuk berobat ke dokter langganannya di daerah Kuningan Kota. Singkat cerita berobatlah saya diantar ibu ke dokter yang disarankan oleh nenek.

Setelah melakukan konsultasi tentang apa yang beliau rasakan ternyata dokter memberikan sebuah jawaban yang mengejutkan. Dokter memperkirakan beliau mengidap penyakit gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah seminggu 2 kali dengan biaya cuci darah waktu itu 650 ribu rupiah sekali cuci darah. Meskipun itu hanya perkiraan dokter tetapi hal itu membuat keadaan psikologis ayah dan ibu terpuruk. Dapat dibayangkan uang yang harus dikeluarkan dalam waktu satu minggu untuk dua kali cuci darah belum lagi kalo kita hitung dalam jangka satu bulan atau bahkan satu tahun akan cukup menguras perekonomian keluarga.

Untuk lebih meyakinkan lagi dokter menyarankan medical check up ke laboratorium kesehatan di daerah Kuningan kota dan setelah diperiksa hasilnya kadar kreatinin ayah 12,1 mg/dL padahal untuk ukuran normalnya saja itu hanya 0,5 – 1,1 mg/dL dan itu artinya ayah saya positif mengidap penyakit gagal ginjal.

Berbagai cara kita lakukan agar therapy haemodilisa tidak perlu dijalani,puluhan pengobatan alternatif di dalam dan di luar kota sudah didatangi,pengobatan dengan ramuan tradisionalpun sudah sering dilakukan tetapi hasilnya tidak ada malah keadaan seperti ini yang kemudian memperparah penyakit ayah yang berapa kali harus mendapatkan perawatan di Rumah Sakit. 18 Mei 2008 ayah harus kembali menjalani perawatan di Rumah Sakit,kali ini kondisinya semakin parah dan dokter memutuskan perawatan dilakukan di ruang ICU.

Keesokan harinya setelah sholat shubuh, saya dan kedua adik saya dijemput karena kondisi ayah semakin memburuk. Sesampainya dirumah sakit, saya melihat ibu sedang menangis sambil membaca ayat suci al-Qur’an disamping ayah. Kondisi ini membuat saya tidak bisa menahan air mata ditambah ketika melihat kedua adik saya yang semakin tidak mampu menahan kesedihannya.

Saya harus kuat karena saya anak pertama dan harus menjadi panutan, pikir saya dalam hati meskipun saya juga merasa tidak berdaya saat itu. Semakin siang keadaan ayah mulai stabil tetapi pihak Rumah Sakit memberikan rujukan untuk perawatan lebih lanjut ke Rumah Sakit di daerah Cirebon. Tepat jam 10.00 saya beserta ibu dan saudara dari ibu membawa beliau ke salah satu Rumah Sakit di Cirebon menggunakan mobil ambulan. Pada malam harinya beliau terpaksa harus menjalani pengobatan yang berulang kali beliau tolak.

Kami tidak mau kesehatan beliau semakin memburuk meskipun kami tahu therapy haemodialisa atau cuci darah itu bukan untuk penyembuhan tetapi hanya sebatas menjaga kestabilan kondisi tubuh atau lebih dikenal dikalangan pasien cuci darah adalah satu-satunya untuk mempertahankan hidup.

Saya ingat waktu itu hari minggu tanggal 27 September 2015 saya dihubungi lewat telepon oleh ibu yang mengabarkan ayah drop dan harus segera dilarikan ke Rumah Sakit. Setibanya di rumah, saya langsung bergegas ditemani adik berangkat ke rumah sakit. Awalnya tidak ada yang aneh, beliau memang tidak pernah berbicara ketika kondisinya sedang drop. Beliau hanya bicara meminta kantung plastik karena batuk pada waktu itu.

Saya tidak pernah menyangka kalau itu perkataan terakhir yang beliau lontarkan. Dalam perjalanan ke Rumah Sakit beliau tidak sadarkan diri. Sekali lagi saya diuji dengan kondisi yang serupa. Tapi kali ini saya lebih bisa mengendalikan emosi. Saya tahu ayah sudah tiada ketika diperjalanan bahkan saya meminta adik saya menemani ayah sambil membacakan ayat suci ditelinga beliau.

Delapan tahun beliau simpan penderitaan itu. Dengan semua pengharapan yang pernah beliau katakan cuma satu yang sangat ingin terpenuhi yaitu kesembuhan dan tidak perlu lagi melakukan therapy haemodialisa yang memang dulu tidak pernah mau dijalani karena ketika sudah melakukan therapy tersebut akan terjadi ketergantungan,itu yang sering beliau ungkapkan ketika setiap kali dokter menyarankan.

Selain itu,sisi ekonomi yang menjadi kerap menjadi pertimbangan. Saya tahu beliau menderita meskipun tidak pernah terucap. Yang selalu kami ingat darinya adalah semangatnya untuk sembuh. Ayah selalu terlihat ceria dan tidak pernah mau terlihat sakit didepan keluarganya,padahal kami tau itu semua beliau lakukan hanya karena beliau tak pernah mau melihat keluarganya bersedih. Satu tahun sudah kepergiannya. Semoga beliau diberikan tempat yang terbaik disisi Allah SWT. Amiin.

— Beni Kuntoro —  STKIP Muhammadiyah Kuningan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.