Inspirasi Tanpa Batas

Kekuatanku ada Pada Diriku Sendiri | Bergembira Menjalani Takdir Part-2

Konflik memang membuat kita pelik, itu manusiawi. Tapi janganlah terjun ke dunia yang pelik dan mendapat konflik-konflik yang tak pernah berujung.– Novel Inspiratif dari @intencahya

0 25

Konten Sponsor

Tak banyak yang bisa dilakukan ibu selain bersabar. Hingga ibu mencapai titik lelah yang sudah tak bisa ditahannya. Sebab itulah ibu memilih untuk menempuh jalan masing-masing. Hal itu yang menjadi godam menghantam hatiku. Rasanya pilu. Tapi harus bagaimana lagi, aku sebagai anak tak bisa berbuat apa-apa.

Aku jalani keseharianku dengan seperti biasa. Padahal luka tetap menganga. Aku tanggung luka ini senidrian. Setelah sekian lama perpisahan dalam keluargaku ini, aku merindukan kebiasaan-kebiasaan yang hilang. Setiap malam air mata tak bisa ku tahan.

Hingga kelulusanku dari Sekolah Menengah Atas selesai. Aku hanya di dampingi ibuku. Iri melihat mereka yang komplit dengan pakaian yang serba sama. Panorama yang damai dan menyejukkan. Sungguh godam itu menghantam hatiku kembali, mengiris dan menangis. Tapi aku mencoba tetap tersenyum.

Hari berganti. Waktu berputar. Ibuku memutuskan untuk berdampingan dengan orang yang menurutnya cocok dan pantas. Aku lagi-lagi galau dibuatnya. Seakan kata “ya” sulit diucapkan. Aku pertimbangkan kembali. Tuhan sesulit inikah batinku Kau uji ?? Harus seperti inikah dinamika hidupku ? Tangisku pecah, untuk yang ke sekian kalinya. Baiklah aku siap dengan segala yang baru, cerita baru dan pengalaman baru. Aku putuskan untuk menyetujui pilihan ibuku. Asalkan beliau yang menjadi pemimpin baru, menyayangi aku dan ibuku serta menerima baik buruknya kami.

Kekuatanku ada pada diriku sendiri

Aku mulai masuk kuliah di kota yang sangat jauh dari rumah. Ternyata kegelisahan dan tangisan belum selesai sampai disini. Aku mulai betah jauh dari rumah. Ini hal yang tak biasa dirasakan oleh anak perantau. Aku nyaman dengan keadaan ini, seakan-akan masalah pun menjauh dari pikiranku. Tapi bekasnya masih menggerogoti perasaanku.

Dikamar baruku, dikota orang, aku membiasakan diri untuk lebih bisa mandiri dan mengontrol emosiku. Sesekali kenangan bersama ayah lamaku terbayang, dan tangisan tak bisa ku pendam. Setelah itu aku bersikap seakan semua baik-baik saja. Aku jalani keseharianku dengan berkuliah seperti mahasiswa lain. Berangkat dan pulang.

Sekian lama aku disini, pikiran untuk mudik melintas dikepalaku. Entah dorongan darimana aku ingin pulang ke rumah. Rindu ibu kah ?? atau ibu yang merindukanku ?? aku putuskan untuk menuruti apa yang terlintas di benakku setelah menemukan waktu yang pas untuk pulang. Waktuku harus aku bagi ke dua rumah yang berbeda. Awalnya aku muak dengan ini. Pulang kesini untuk beberapa hari, dan pergi kesana sisa waktu dari hari sebelumnya. Aaahhh aku capek Tuhan. Aku ingin pulang ke satu rumah dengan keluarga yang utuh. Batinku tak hentinya bertengkar dengan keadaan.

Tapi lagi-lagi dengan kerutinan itu aku terbiasa menjalankannya dan tidak merasa lelah. Memang harus begini jadinya jika aku pulang. Berbagi waktu dengan orang terkasihku. Kebiasaan yang memaksaku untuk maklum menjalani kehidupan seperti ini. Aku sudah besar, dewasa, jauh dari orangtua dan aku harus bersikap tak manja dan tak boleh kalah dengan keadaan.

Aku tahu ayahku bekerja alakadarnya, untuk meminta jajanpun aku pikir beribu-ribu kali. Terkadang ibuku yang menjadi sasaranku. Konflik batin terjadi kembali. Ibuku menyuruh untuk meminta kepada ayah kandungku. Sedangkan aku tahu keadaan ayah. Bingung, tak tega, sedih melandaku. Tangisku pecah kembali. Bukan karena tak diberi uang, tapi karena rasa tak tegaku kepada ayahku.

Berusaha yang Semoga Tak Sia-sia

Kuputuskan untuk usaha sedikit demi sedikit. Menjual jualan milik orang lain, menjual pulsa dan usaha melukis casing hp. Hasilnya lumayan, cukup untuk makan. Meski tak menutupi semua kebutuhan. Selagi ada peluang, aku gunakan. Selama semangat masih ada, aku lakukan. jika memang aku butuh sekali uang dan jumlahnya tidak sedikit, maaf saja bu, aku memintanya padamu. Meskipun kau berkali-kali bilang bahwa aku tanggung jawab ayahku.

Kau memang berhati malaikat bu, dalam keadaan marah, kesalpun kau tetap berbaik hati. Dikirimnya uang itu untuk kebutuhan kuliahku. Terimakasih bu, semoga Allah menjagamu dari murkanya semesta. Melancarkan rezekimu dari sesaknya kebutuhan keluarga. Setiap aku sangat membutuhkan uang jika kepepet, aku harus menjalankan dulu konflik batin dan konflik kecil dengan ibuku. Kejadian yang sudah biasa ku alami.

Semua berjalan dengan biasa karena waktu dan karena proses. Ibuku sudah menemukan jodoh kedua nya. Ayahku masih menanti dan semoga menemukan sosok perempuan yang kuat untuk menerima segala keadaan. Jodoh memang tak pernah bisa dipastikan meski tali sudah terikat. Tetapi mudah terurai jika memang ikatan itu tak semakin kuat.

Akhirnya selama kurang lebih 5 tahun dengan segala konflik yang aku alami, aku bisa menerima semuanya. Aku sudah bisa kuat menjalani kehidupan yang mungkin memang begini dinamikanya. Aku hanya perlu mempersipkan diri untuk tantangan-tantangan yang lainnya. Jika aku sudah di uji sebegini tertekannya batinku, semoga tekanan-tekanan yang lain aku mudah melewatinya. The end…

Konflik memang membuat kita pelik,  itu manusiawi. Tapi janganlah terjun ke dunia yang pelik dan mendapat konflik-konflik yang tak pernah berujung.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar