Pengertian Qira’at dan Aspek Qirâ’at dalam al-Qur’an

0 3.111

Pengertian Qiraat dan Aspek Qiraat dalam al-Quran. Al-Qur’an bagi kaum Muslimin adalah verbum dei (kalâmullâh) yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad melalui perantaraan Jibril selama kurang lebih dua puluh tiga tahun. Al-Qur’an juga merupakan salah satu sumber hukum Islam yang menduduki peringkat atas. Seluruh ayatnya berstatus qath’y al-wurûd yang diyakini eksistensinya sebagai wahyu Ilâhi. Sebagai wahyu Ilâhi, yang kemudian mewujud dalam bentuk mushaf ‘Utsmânî, al-Qur’an  memiliki beberapa aspek atau perangkat yang melingkupinya. Salah satu dari perangkat atau aspek al-Qur’an tersebut adalah qirâ’at.

Pengertian Qira’at

Qirâ’at merupakan salah satu cabang ilmu dalam ‘Ulûm al-Qur’ân. Namun tidak banyak orang yang tertarik kepadanya, kecuali orang-orang tertentu saja. Biasanya kalangan pemerhati dan akademik. Banyak faktor yang menyebabkan hal itu, diantaranya adalah, karena ilmu ini tidak berhubungan langsung dengan kehidupan nyata (living reality) manusiaHal ini wajar terjadi, mengingat ilmu qirâ’at tidak mempelajari masalah- masalah yang bersentuhan atau berkaitan secara langsung dengan hukum tertentu dalam kehidupan manusia.

Selain itu, ilmu ini cukup lumayan rumit untuk dipelajari. Banyak hal yang harus diketahui oleh peminat ilmu qirâ’at ini, yang terpenting adalah pengenalan al-Qur’ân secara mendalam dalam banyak seginya. Bahkan hafal sebagian besar ayat- ayat al-Qur’an adalah salah satu kunci memasuki gerbang ilmu ini. Pengetahuan bahasa Arab yang mendalam dan luas dalam berbagai seginya, juga merupakan alat pokok dalam menggeluti ilmu ini. Pengenalan berbagai macam qirâ’at dan para perawinya adalah hal yang mutlak bagi pengkaji ilmu ini. Hal- hal inilah barangkali, yang menjadikan ilmu ini tidak begitu populer.

Meskipun demikian keadannya, ilmu ini telah sangat berjasa dalam menggali, menjaga, dan mengajarkan berbagai “cara membaca” al-Qur’an yang benar sesuai dengan yang telah diajarkan Rasulullah SAW. Para ahli qirâ’at telah mencurahkan segala kemampuannya demi mengembangkan ilmu ini. Ketelitian dan kehati- hatian mereka telah menjadikan al-Qur’an terjaga dari adanya kemungkinan penyelewengan. Juga masuknya unsur- unsur asing yang dapat merusak kemurnian al-Qur’an.  Berangkat dari paparan di atas, tulisan sederhana ini akan memaparkan secara global tentang ilmu qirâ’at al-Qur’an, dapat dikatakan sebagai entri point untuk membantu pemahaman terhadap ilmu tersebut.

Aspek Qirâ’at dalam al-Qur’an

Qirâ’at (قراءات) secara etimologis adalah bentuk jama’ dari qirâ’at (قراءة) yang merupakan bentuk masdar dari qara’a (قرأ) yang berarti membaca. Adapun secara isthilâhiy, qirâ’at punya beberapa pengertian yang beragam. Hal ini disebabkan oleh keluasan ma’na dan sisi pandang yang dipakai oleh ulama tersebut.

Pertama, al-Zarkasyi berpendapat bahwa qirâ’at merupakan perbedaan lafadz-lafadz al-Qur’an. Baik menyangkut huruf- hurufnya maupun cara pengucapan huruf- huruf tersebut, seperti takhfif, tasydid dan lain-lain.

Kedua, al-Dimyâthî, sebagaimana dikutip oleh Abd Hadi al-Fadhli, berpendapat, qirâ’at adalah “suatu ilmu untuk mengetahui cara pengucapan   lafal- lafal al-Qur’an. Baik yang disepakati maupun di-ikhtilâf-kan oleh para ahli qirâ’at. Seperti: الحذف (membuang huruf), التحريك (memberi harakat), التسكين (memberi tanda sukun), الفصل (memisahkan huruf), الوصل (menyambungkan huruf), dan lain-lain yang diperoleh melalui indera pendengaran”.

Ketiga, senada dengan pernyataan al-Dimyathi, Imâm Syihâbuddin al-Qashthalâni mengemukakan: “qirâ’at yaitu suatu ilmu untuk mengetahui kesepakatan serta perbedaan para ahli qirâ’at (tentang cara pengucapan lafal-lafal alQur’an). Seperti yang menyangkut aspek kebahasaan, i’râb, hadzf, itsbât, washl, washl, yang diperoleh dengan cara periwayatan”.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa:  (a) yang dimaksud qirâ’at dalam bahasan ini yaitu, cara mengucapkan  lafadz-lafadz al-Qur’an sebagaimana yang diucapkan Nabi SAW., atau sebagaimana diucapkan oleh para shahabat di hadapan Nabi lalu beliau mentaqrîr-kannya, (b) qirâ’at tersebut diperoleh berdasarkan periwayatan dari Nabi SAW. baik secara  fi’liyyah   (فعلية) maupun secara taqrîriyyah (تقريرية),   (c) qirâ’at al-Qur’an tersebut adakalanya hanya memiliki satu versi qirâ’at, dan adakalanya memiliki beberapa versi qirâ’at.

 Oleh: Ahmad Munir [Dosen Ushuluddin STAIN Ponorogo]


Bahan Bacaan

Taufiq Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2005)

Abd Wahhâb Khallâf, ‘Ilmu Ushûl al-Fiqh (Mesir: Maktabah al-Da’wah al-Islamiyyah, 1968), cet. Ke 8

Imam Badr al-Din Muhammad al-Zarkasyi, Al-Burhân fî ‘Ulûm al-Qur,an, jilid I (Kairo: Isa al-Babi al-Halabi, t.th.)

Abd al-Hadi al-Fadhli, al-Qirâât al-Qur’âniyyat (Beirut: Dâr al-Majma’ al-‘Ilmi, 1979)

Syihâbuddîn al-Qushthalânî, Lathâif al-Isyârâh lî Funûn al-Qira’at (Kairo: t.tp., 1972)

Al-Zarqani, Manâhil al-Irfan fi ‘Ulûm al-Qur’ân, jilid I (Kairo: Isa al-Babi al-Halabi, t.th.)

Lhat Muhammad ‘Ali al-Shâbunî, Al-Tibyân fî ‘Ulûm al-Qur’ân, cet. Ke 2 (t. tp: t.pn., 1980)

Imâm Syihâbuddin al-Qusthalânî, Lathâif al-Isyârât lî Funûn al-Qirâât (Kairo: t.tp., 1972)

Abduh Zulfidar Akaha, al-Qur’an dan Qira’at (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1996)

Komentar
Memuat...