Kematian Adalah Keghaiban Yang Hadir Realitasnya

0 22

[the_ad id=”8305″]Konsep eskatalogi menawarkan tafsiran cerdas terhadap hal hal ghaib yang sulit dicerna akal. Hal hal ghaib tersebut realitasnya hadir dalam kehidupan. Namun, tidak semua orang yang hidup dapat menyadari realitas keghaiban tersebut dalam kehidupan rielnya. Kematian adalah misteri yang realitasnya dapat dipastikan, yang tidak bisa ditolaknya kehadirannya, meskipun ia ghaib dari ilmu dan kasat indera. Ada dua konsep tentang kematian yang sangat berpengaruh terhadap pemikiran-pemikiran eskatologi, yaitu konsep pertama yang berpandangan bahwa kematian adalah “netral” (netral death), yaitu tidak ada siksaan maupun pahala. Pandangan ini berkembang di Persia kuno pada pertengahan milinium ketiga sebelum masehi, sedangkan konsep kedua menyatakan bahwa kematian adalah “bermoral”  yang dinilai menurut standart kriteria tertentu apakah mendapat siksa atau pahala.3 Kematian Adalah Keghaiban Yang Hadir Realitasnya.

Setiap orang pasti akan mengalami kematian, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap. Dalam pandangan Islam kehidupan manusia berawal dari kematian dan akan berakhir dengan kehidupan yaitu suatu kehidupan yang abadi. Kematian pada hakekatnya adalah awal kehidupan, kematian di dunia menjadi awal kehidupan di akhirat (Baca: Q.S. Al-Mulk: 2).

Meskipun al-Qur’an telah menetapkan suatu garis yang tegas antara kehidupan dan kematian, akan tetapi, pengetahuan dan pengalaman tentang mati masih saja dipenuhi misteri, barangkali karena riset tentang mati tidak pernah bisa dijalani oleh seseorang, dan karena kehidupan setelah kematian berbeda dengan kehidupan yang sebelumnya, baik alam, waktu maupun substansinya.

Riset tentang kematian khususnya kematian manusia paling-pling bisa dilakukan melalui analisis medik, yang ditandai oleh berhentinya detak jantung, demikian juga sebab-sebab kematian yang mengakibatkan jantungnya berhenti berdetak. Dengan riset ini kematian kemungkinan dapat didefinisikan. Akan tetapi apakah kematian adalah akhir dari segala-galanya, atau justru sebaliknya menjadi awal adanya kehidupan sesudah kematian? Bagaimana kehidupan sesudah kematian itu? Dalam hal ini  ilmu pengetahuan akan berhadapan dengan batas-batasnya sendiri, yang tidak mungkin menjangkaunya. Oleh karena itu, jika saatnya kematian tiba tidak seorang pun yang bisa menundanya. Al-Qur’an memberikan penegasan tentang hal tersebut (Baca: Q.S. Al-Nahl: 61).

Ketika pada saat kelahiran, seseorang secara individual tidak berdaya dan tidak dapat menentukan apa saja yang berkaitan dengan kelahirannya, maka demikian pula yang terjadi dengan kematian yang sudah pasti terjadi itu, seseorang secara individual tidak tahu di bumi mana akan mengalami kematian, dan dengan cara bagaimana, ketika waktunya sudah tiba, dimanapun kematian akan menjemputnya (Baca: QS. Luqmân: 34).

Dalam pandangan Islam, rahasia kematian dan kehidupan ada di tangan Tuhan, bukan di tangan manusia, manusia tidak lebih sekedar menerima kenyataan keduanya tanpa persetujuannya terlebih dahulu, suka atau tidak suka, terpaksa atau tidak terpaksa, menghidupkan dan mematikan adalah bagian dari kehendak-Nya dan bagi manusia itu sebagai ujian untuk berkarya lebih baik. (Baca: QS. Al-Mulk:1-2)

[the_ad id=”8316″]

Kehidupan dan kematian adalah laksana pasangan tunggal yang tidak bisa saling meniadakan, seperti pasangan siang dan malam, penderitaan dan kebahagiaan, kebenaran dan kesalahan, kesuksesan dan kegagalan, dan bagi iman yang cerdas dapat memahaminya sebagai penampakan tanda-tanda kebesaran Ilahi yang harus disyukuri. Syukur diwujudkan tidak dengan cara bersukaria menghadapi kesuksesan dan kebahagiaan atau sebaliknya bersedih hati menghadapi kegagalan dan penderitaan, tetapi pada upaya melakukan peningkatan kualitas batinnya untuk menghadapi sesuatu yang akan datang yang mungkin lebih besar lagi (Baca: Q.S. Al-Naml: 40).

Dari realitas tersebut, bagi iman yang cerdas, datangnya kematian tak pernah lagi merisaukannya, karena melalui kematian ia akan naik kelas yang lebih tinggi lagi, untuk memperoleh kehidupan lain yang lebih baik lagi, kematian adalah terminal-terminal panjang menuju Tuhan, dan ia sudah belajar menghadapinya berkali-kali dalam kehidupan kesehariannya di dunia, melalui fenomena kematian-kematian kecil yang mulai menggerogoti satuan-satuan anggota tubuhnya, sejak mulai rontoknya rambut, tanggalnya gigi, kurangnya penglihatan dan pendengaran, yang dapat menumbuhkan wawasan tajam batinnya untuk mempersiapkan kehidupan yang lebih baik lagi. Sehingga orang wawasan batinnya mengalami kebutaan, maka sesungguhnya ia hidup dalam kematian, hidup dalam kegagalan.

Dalam dunia kehidupan, banyak orang memikirkan tentang kehidupan dan amat sedikit untuk memikirkan kematian. Mugkin karena membicarakan mati, selalu tidak mengenakan perasaan, bagaimana harus berpisah dan meniggalkan apa yang dicintainya, anak, istri dan kekayaan yang dicintainya, apalagi kalau hidupnya enak, rasanya ia ingin hidup abadi. Akan tetapi bagi orang yang hidup amat susah, seringkali terjerumus dalam rasa putus asa, sehingga mati dianggapnya sebagai jalan terakhir untuk melepaskan dan mengakhiri suatu penderitaan. Padahal kematian bukan akhir dari segala-galanya, karena dibalik kematian manusia akan dihidupkan kembali untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya ketika ia hidup di dunia, sebagai pengadilan yang dijamin keadilannya oleh Tuhan sendiri, karena semua anggota tubuhnya akan menjadi saksinya (Baca: Q.S. Al-Nûr: 24-25).[1]


  1. 3. Musa Asy’arie, Filsafat Islam, Sunnatullah dalam Berfikir, (Yogyakarta: LKIS, 1999), h. 233.

[1] Komaruddin Hidayat, Psikologi Kematian, (Bandung: Hikmah, 2006), h. 98.

Komentar
Memuat...