Take a fresh look at your lifestyle.

Kematian Guru adalah Kematian Negara

0 122

Kematian Guru. Ahmad Budi Cahyono, adalah satu dari sekian gunung es persoalan yang melilit pendidikan Indonesia. Lakonnya sebagai guru kesenian honorer, harus berakhir tragis karena dipukul muridnya sendiri. Ia menjadi korban atas tindakan kekerasan salah seorang muridnya di SMAN 1 Torjun, Madura.

Pilihan menjadi guru memang berat, meski, kadang harus juga difahami sedikit di antara bangsa ini yang menghormati pilihan berat ini. Bangsa ini terlalu congkak dan menganggap bahwa menjadi guru, seharusnya mendapat tempat terhormat. Kadang kalau ingat ke suasana seperti ini, kita akan dirindukan suasana masa lalu, bagaimana wibawa guru di hadapan murid-muridnya.

Jangankan memukul, sekedar melewati mukanya, atau menatapnya dengan tajampun, kita tidak sanggup. Guru bukan saja hanya dianggap memiliki sejumlah pengetahuan, tetapi, juga memiliki sejumlah kewibawaan yang luar biasa. Prinsip masyarakat Muslim desa yang menyebut Guru hampir sejajar dengan orang tua, memungkinkan, kalau kelompok guru dihormati secara luar biasa juga. Dihormati bukan hanya oleh murid, tetapi, juga oleh masyarakat luas.

Tela’ah Pendidikan

Dalam kacamata pendidikan, tidak terlalu penting sebenarnya menganalisa hukuman yang pantas diberikan kepada murid penganiaya guru ini. Meski atas apa yang dilakukan HI pada Kamis kelabu itu, Kepolisian Resor Madura telah menetapkan HI sebagai tersangka. Pasal 351 [3] tentang tindak pidana penganiayaan mengakibatkan kematian, telah pula disandingkan kepada anak ini. Pasal dimaksud, mengancam setidaknya 7 tahun penjara. Biarlah hal itu, menjadi kewajiban pihak kepolisian untuk menyelesaikannya secara tuntas.

Di luar proses hukum tadi, ada sesuatu yang justru menjadi lebih penting untuk dianalisa atas indikasi ini. Misalnya, kenyataan yang sulit diabaikan kalau ternyata pendidikan Indonesia, a�?gagala�? membentuk perannya sebagai pencetak manusia berakhlak. Padahal pendidikan nasional, sebagaimana disebut dalam UUSPN Nomor 20 tahun 2003, disebutkan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk:

a�?… Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Atas nalar itu, maka, kejadian yang terkait dengan akhlak, sikap dan kepribadian peserta didik di dalam sekolah, menjadi tanggungjawab sekolah. Apa yang menimpa Ahmad Budi Cahyono, dalam pengertian ini, maka, satuan pendidikan, haruslah difahami gagal memerankan a�?takdirnyaa�? sebagai pencetak peserta didik yang berakhlak.

Hal ini harus menjadi kajian strategis dunia pendidikan. Tujuannya bukan saja agar jangan sampai terjadi hal serupa, tetapi, juga agar pendidikan kembali ke watak dasarnya sebagai pencetak generasi berakhlak. Prof. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar