Kematian Tak Mengakhiri Cinta | Misteri Sang Ksatria Cinta Part – 7

Kematian Tak Mengakhiri Cinta | Misteri Sang Ksatria Cinta-Part 7
0 205

Kematian Tak Mengakhiri Cinta: Alberta temangu saat Santi berlalu. Ia tidak pulang. Malahan ia mengikuti kegiatan diskusi tambahan bersama rekan-rekannya di sebuah galery perpustakaan Sasana Budaya. Saat itu, ada sebuah tayangan flm yang tersiar dalam sebuah TV HBO di ruang rehat sebuah gedung yang sangat berwibawa. Alberta diam dan termangu menyaksikan sebuah film yang mengisyahkan petualangan cinta dua manusia yang sulit dipisahkan, namun, tetap tak berdaya untuk dipersatukan. Dua sosok manusia yang memiliki perbedaan latar belakang status yang dalam konteks tertentu, untuk manusia abad ke 17 di Eropa tidak mungkin dipersatukan dalam sebuah suntingan pernikahan.

Cinta Tak Berakhir Bersama Kematian

Seorang wanita berkata dalam film itu, cintaku kepadamu hanya dapat dipisahkan jika aku meninggalkan dunia fana ini. Tetapi entah mengapa, hati Alberta tiba-tiba berontak dan mengatakan: Jika cinta kamu hanya dipisahkan dengan kematian, maka, bagiku, kematianpun tak mungkin dapat memisahkan cintaku kepadanya. Mengapa? Karena cintaku dan cintanya yang selama ini berjalan, selalu hanya bersipat metafisis dan jauh dari kemungkinan untuk disebut fisis. Aku akan meninggalkannya beberapa tahun yang lalu, jika pertimbangan cinta ini, hanya didasarkan karena aku ganteng atau karena dia cantik. Kecantikannya dan kegantenganku kata Alberta, telah dipindahkan kedalam kegantengan dan kecantikan metafisis yang tidak mungkin dilerai oleh keriput kulit atau mengeroposnya tulang.

Ketika Alberta melamun, HP yang dipeganggnya tiba-tiba berdering. Suatu nomor dan nama yang tidak asing itu muncul. Dengup kencang nafas Alberta memacu sejumlah aroma yang sesungguhnya meskipun baru berlalu, selalu tetap dirindukan. Kerinduannya pada Santi persis seperti seorang yang haus, lalu minum air laut. Rasa hausnya bukan malah hilang. Yang terjadi, keinginannya untuk tetap minum dan terus minum.

Dari jauh Santi mengatakan: Alberta, I Miss you and I Need You. Aku sejatinya tak ingin berlalu. Tetapi, posisiku sebagai seorang wanita, yang telah dianugerahi seorang anak perempuan yang sangat cantik menurut kamu itu, harus segera meninggalkanmu. Sejujurnya, aku persis seperti burung yang terkena getah di sebuah pohon yang hampir sulit terbang jika sudah bertemu dengan kamu.

Seperti biasa, Alberta hanya tersenyum. Ia berkata: Santi, sejatinya akupun sama. Tetapi, secara filosofi kata sejatinya itu sesungguhnya mengandung makna ketidaksejatian. Aku mengerti dan aku faham atas apa yang sedang kau alami. Biarlah aku di sini dan merindukan kamu untuk selamanya. Kau jangan pernah ragu, bahwa segenap rasa yang kumiliki, telah kukosongkan. Semuanya telah kuberikan untukmu.

Hallo, hallo, hallo kata Alberta menyapa agak keras. Alberta tahu kalau posisi Santi sangat jauh dari kota. Sehingga beberapa hal agak sulit mendapat signal yang cukup baik. Ya Alberta. Aku mendengarkanmu dengan baik. Bukan karena kurang signal, tetapi, aku sedang syahdu bagaimana kamu menggoda aku.

Ah siapa bilang aku menggoda kamu. Apa untungnya. Cintamu telah kudapatkan meski ragamu agak sulit kumiliki. Tetapi, percayalah, aku tulus mencinta kamu dengan segenap rasa yang kumiliki. Terima kasih atas segenap rasa yang kau miliki juga untukku. Pelukanmu tadi, akan, kembali kusimpan dalam labirin-labirin suci dengan sejumlah angan yang pasti akan terus terbarukan.

Komentar
Memuat...