Kemesraan dan Romantisme Keluarga | Bercinta Lewat Bahasa

0 120

Kemesraan dan Romantisme Keluarga

Kemesraan dan Romantisme: Dalam tulisan sebelumnya saya mengatakan bahwa Runtuhnya rumah tangga itu bukan karena serangan bom bardir bertubi-tubi dari luar. Namun, percikan isu yang tanpa saringan diterima oleh istri ataupun suami secara perlahan akan menjadi retakan-retakan kecil. Retakan itu akan terus menciptakan pecahan besar yang tidak akan berhenti jika tidak segera dilapisi dengan kepercayaan kuat diantara suami istri. (baca: Dalam Berkeluarga Perlu Dramatisasi Layaknya Sinetron.) Kemesraan dan Romantisme Keluarga | Bercinta Lewat Bahasa

Kesibukan bukanlah alasan untuk mempertahankan kemesraan dalam berumah tangga. Suami yang sibuk dalam pekerjaan kantoran atau wiraswastanya dan istri dengan berbagai kesibukan rumah tangga atau pekerjaan kantorannya tidak bisa menjadi alasan untuk sulit menciptakan suasana mesra romantis.

Suasana kemesraan dan romantisme itu tidak sekedar dibangun berdasarkan ruang dan waktu, namun kesatuan hati tanpa jarak untuk senantiasa muncul perasaan bersama. Perasaan selalu bersama ini merupakan cermin dari komitmen hati antara pasangan suami istri yang senantiasa dijaga dalam komunikasi.

Komunikasi yang terjaga antara suami istri kini dapat dengan mudah dilakukan. Perangkat IT telah memudahkan dalam berkomunikasi dimanapun dan kapanpun suami istri itu berada. Tidak ada alasan jarak yang berjauhan sehingga suami istri merasa kesulitan untuk membangun kedekatan hati. Jika ruang dan waktu menjadi alasan untuk membangun kemesraan dan romantisme dalam keluarga, maka dipastikan lebih dari 70% penduduk dunia ini akan terus bermasalah dalam rumah tangga mereka.

Karena kehidupan kini, dengan berbagai kemajuan dan tuntutannya, seorang suami dan istri masing-masing memiliki kesibukan dengan segala perbedaan kompetensi dan keterampilan yang mereka miliki dalam konteks karir. Sehingga, suami tidak dengan mudah mengekang istri untuk tetap di rumah saja. Begitu pula sang suami tidak bisa mendapatkan pekerjaan hanya di kampung halamannya saja yang setiap saat dapat berkumpul dengan keluarganya.

Kemesraan dan romantisme itu ibarat benda portable, bisa dibawa dan ditempatkan dimana saja. Jika sang suami maupun istri menginginkan kemesraan dan romantisme itu maka mereka dapat menciptkannya dimanapun dan dalam momen apapun sesuka mereka, tidak ada kendala apapun. Kendala yang akan menjadi penghalang justru hati mereka jika enggan untuk berkomitmen mesra dan romantis itu.

Bahasa Cinta dalam Keluarga

‘I love you, beb’, nampaknya sederhana ungkapan itu, namun memberikan dampak luar biasa. Bahasa cinta dari suami ke istri atau sebaliknya harus berani diungkapkan dalam kondisi apapun demi mengokohkan benteng cinta berdua. Sempatkanlah mengatakan sesuatu yang mesra dan romantis di saat pagi, siang, sore atau malam hari. Tidak berat untuk sekedar mengungkapkan apresiasi cinta itu. Justru kedahsyatan dari efek itu telah menciptakan kebahagiaan diantara pasangan suami istri itu. Ungkapan-ungkapan mesra itu bisa lewat telpon, sms, WA, BBM, Line atau media sosial lainnya.

Ungkapan mesra juga harus diciptakan dengan penuh ketulusan. Tidak terkesan lebay bahkan mengada-ada sehingga pasangan mempersepsikan bahwa ungkapan itu sebatas klise, bukan sungguhan, ini harus dihindari. Pernyataan cinta itu harus didukung oleh kekuatan jiwa yang menggebu-gebu bahwa romansa penuh makna itu dapat disampaikan dengan intonasi yang lembut untuk menghadirkan satu respon yang merindu.

Kemesraan diantara suami istri akan dapat dijaga jika bahasa kelembutan dan nuansa apresiasi cinta tercipta dengan baik. Tidak alasan untuk malu dan cenderung alay atau lebay jika suami istri dalam usia pernikahannya yang sudah lama namun tetap menggunakan ungkapan-ungkapan mesra itu.

Ibarat tumbuhan yang menjulang tinggi, rindang dan ranum buahnya, pasti kita akan kagum dan senang melihatnya. Begitu pula dalam hubungan suami istri, masa pertumbuhan itu dimulai ketika masa pernikahan bermula. Memupuk cinta dan kasih sayang yang diikat dalam janji suci di depan saksi.

Masa pertumbuhan itu harus disiram dengan penguatan komitmen cinta satu sama lain yang senantiasa dikonfirmasi dengan tindakan-tindakan penghargaan dan penghormatan satu sama lain. Untuk menjaga terus tumbuh dan berkembang, pohon cinta itu harus terus dijaga dengan bahasa-bahasa mesra dan romantis agar kelak dapat berbuah dengan kehadiran anak yang semakin menguatkan cinta kasih sang suami dan istri.

Tiada satu penghargaan dalam hubungan asmara suami istri yang bernilai melainkan kelembuatan. Tiada kelembutan itu dapat tercipta jika ungkapan itu belum disampaikan dalam nuansa yang indah dan romantis. Dan Tiada satu kekuatan pencipta romantis dan mesra itu jika tidak diciptakan dengan bahasa-bahasa cinta dan kasih sayang sepanjang masa.

** (Nanan Abdul MananDosen STKIP Muhammadiyah Kuningan

Komentar
Memuat...