Keputusasaan itu Akhirnya Diwujudkan dalam Tindakan Persekusi

0 24

Keputusasaan itu Akhirnya Diwujudkan dalam Tindakan Persekusi. Wikipedia [02 Juni 2017] menerjemahkan persekusi  atau persecution [Inggris] sebagai perlakuan buruk. Perlakuan itu diwujudkan dalam bentuk penganiyaan secara sistematis baik oleh individu atau kelompok tertentu terhadap individu atau kelompok lain. Tindakan dimaksud terjadi karena adanya perbedaan suku, agama atau perbedaan dalam pandangan politik.

Dalam literatur ilmu sosial, dapat disebut sebagai satu jenis kejahatan kemanusiaan. Paling tidak, jika kita membaca literatur hukum dapat ditemukan dalam Statuta Roma Mahkamah Pidana Internasional. Kegiatan atau tindakan persekusi, timbul karena adanya penderitaan, pelecehan, penahanan, ketakutan, dan berbagai faktor lain. Dalam rumusan wikipedia tersebut, persekusi dapat terjadi dengan munculnya indikator sebagaimana disebutkan tadi. Jadi hanya penderitaan cukup berat yang dapat dikelompokkan sebagai tindakan persekusi.

Belakangan ini, tindakan persekusi muncul di tengah hiruk pikuk kebangsaan Indonesia yang sedang diuji mentalitas kebangsaannya. Sorot lensa mata dunia, mengarah kepada individu atau kelompok yang selama ini tergabung ke dalam organisasi FPI. Organisasi ini, kemudian dituduh melakukan tindakan persekusi terhadap mereka yang patut diduga melakukan delegitamasi atas peran FPI dalam membela Islam dan mereka yang konsen mempertahankan keislaman itu sendiri.

Mengapa Terjadi Persekusi?

Mengapa persekusi muncul dengan massif dan media massa demikian santer menyoroti soal tindakan ini? Lyceum Indonesia mencoba menganalisa fenomena dimaksud dengan cara melakukan studi kepada beberapa kelompk Muslim yang belakangan kadung dianggap ekstrem. Jawabannya ternyata sangat sederhana.

Pertama. Kelompok ini merasa dianaktirikan bukan saja oleh penguasa, tetapi, juga oleh kelompok ormas Islam mapan. Langkah-langkah yang ditempuh mereka untuk menunjukkan eksistensinya sebagai kelompok yang merasa menjadi pembela Islam, atau membela mereka yang berada di garis depan dalam konteks pembelaan Islam, selalu dianggap salah. Padahal cita-cita mereka, sedikitpun tidak merasa mengganggu Indonesia dan tidak memiliki cita-cita untuk merubah Indonesia dalam bentuk dan wajah apapun.

Kedua. Selama ini, mereka merasa menjadi kelompok yang selalu diposisikan salah. Hal ini terbukti dengan banyaknya tokoh-tokoh mereka, yang menurut pendapat mereka dipersangkakan dalam berbagai kasus. Mereka menganggap bahwa kasus-kasus yang ditujukan kepada pemimpin mereka yang menggerakan demo anti Ahok mulai dari 212, 313, 414 dan 505, cenderung dipakasakan. Akhirnya mereka menganggap bahwa ada upaya sistemik yang dilakukan pemerintahan, khususnya pihak berwajib, untuk menyudutkan mereka dalam berbagai tindakan.

Ketiga. Akibat dari asumsi kedua ini, mereka tidak yakin kepada penegak hukum untuk bertindak adil terhadap apapun yang menimpa mereka. Indikatornya terlihat dari bagaimana kasus yang menimpa HRS dengan FH dalam kasus pornografi, yang sampai hari ini, tidak jelas siapa yang melakukan penyebaran informasi [bohong] yang sekali lagi dalam kaca mata mereka, penuh rekayasa.

Situasi inilah yang menyebabkan mereka pada akhirnya merasa putus asa. Terlebih banyaknya informasi di media massa; cetak-elektronik dan Media sosial maya lain, yang selalu mencitrakan mereka sebagai kelompok buruk. Pencitraan dengan membuat berita Hoax tentang mereka itu, dalam kacamatanya, tidak mungkin diselesaikan pihak berwajib.

Akhirnya pilihan itu adalah main hakim sendiri. Lepas soal benar salahnya tindakan mereka, tetapi itulah dinamika sosial Indonesia hari ini.  Bangsa ini memang sedang diuji. Team Lyceum Indonesia.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.