Keragaman dan Konfrontasi Filsafat Pendidikan

0 60

Keragaman dan Konfrontasi Filsafat Pendidikan: Konflik pendidikan sekitar filsafat pendidikan menyebabkan lahirnya sejumlah filsafat pendidikan lain. Pragmatisme terbelah menjadi dua filsafat lain, yakni falsafah taqaddumiyah (filsafat progresivisme) dan falsafah tajdidiyah (filsafat rekonstruksionisme) dan akar filsafat pendidikan rekonstruksionisme kembali kepada masa pendidik Rumania Konetlian (35-95 SM) yang mengkritik teknik Yunani dan kekerasannya terhadap anak-anak dan menyerukan kepada perlindungan terhadap kemampuan anak dan membantunya untuk berkembang.

Kemudian datang filosuf Prancis Jean Jack Rosseau yang dalam bukunya Emil mengajak untuk memusatkan pendidikan di sekitar anak. Diikuti oleh filsosuf Swiss Johan Henrick Bestalozi yang memiliki pengaruh yang sama di Eropa dan Amerika.

Progresivisme dan Berdirinya Asosiasi Pendidikan Progresif

Filsafat progresivisme berpusat di Amerika Serikat dan memiliki para pemikirnya sendiri semisal John Dewey. Pada tahun 1918 berdiri asosiasi pendidikan progresif yang diketuai oleh William Elliot dari Universitas Hardvard. Filsafat progresivisme giat menentang filsafat idealisme dan filsafat realisme yang keduanya memiliki satu nama yakni filsafat materialisme fundamental dan menuduh keduanya menyelewengkan demokrasi Amerika dari alurnya melalui sekolah Amerika yang menindas remaja dan anak-anak.

Akan tetapi selama resesi ekonomi yang terjadi pada tahun tiga puluhan dari abad kedua puluh, dan ketika filsafat progresivisme berada di puncak popularitasnya maka kelompok filosuf progresivisme menjadi terdesak dengan resesi yang ada dan dengan langkah perbaikan yang ada mereka menyerukan untuk meninjau kembali pendidikan progresif dan meminimalisir pemusatan pada kesenangan anak-anak dan memberikan perhatian yang lebih besar kepada perbaikan masyarakat, atau meminimalisir pemusatan kepada perkembangan individu dan memberikan perhatian yang lebih besar kepada perbaikan masyarakat. Itu semua menjadi benih filsafat rekonstruksionisme.

Filsafat Rekonstruksionisme dan Model Masyarakat Ideal

Filsafat rekonstruksionisme ini melihat bahwa model masyarakat ideal harus menjadi pusat pendidikan dan pengaturan agenda dan tujuannya. Dan bahwa sekolah hendaknya menyiapkan masa depan bagi masyarakat masa depanyang pengembangannya sedang berjalan dan bukan masyarakat yang ada. Di antara agen mazhab ini adalah George Sylvester Counts dan salah satu penelitiannya yang dipresentasikan dalam seminar nasional untuk asosiasi pendidikan progresif pada tahun 1932 dengan tema: “Apakah Sekolah Berani Mengembangkan Tata Sosial Baru?”. Ia menulis:

“Kelemahan pendidikan progresif terletak pada tidak adanya teori untuk mempertahankan masyarakat ini yang jika tidak melakukan transformasi maka akan menjadi anarki atau individualisme ekstrim. Jika pendidikan progresif ingin menjadi pendidikan progresif yang sebenarnya maka harus mendukung semua masalah sosial dengan berani dan dengan konfrontasi total dan hendaknya berpegangan pada hakikat kehidupan yang integral dan konkret, dan memberikan konsepsi yang efektif tentang perjalanan manusia, serta meminimalisir ketakutannya –sebagaimana hari ini- terhadap bayang-bayang tekanan dan kehancuran.

Di antara agen filsafat rekonstruksionisme adalah Theodore Brameld dan ia memusatkan pandangan-pandangannya pada bahwa filsafat rekonstruksionisme adalah filsafat krisis dan bahwa ia adalah penyembuh budaya atau masyarakat yang sedang mengalami krisis yaitu esensi masyarakat demokratis.

Filsafat ini berkembang pesat di antara tiga puluhan dan enam puluhan dari abad kedua puluh (1930-an dan 1960-an) ketika di antara bangsa Amerika berlaku semangat pembebasan dari spekulasi klasik. Adapun aplikasi pendidikannya memusatkan pada menempatkan aktivitas saling membantu alih-alih persaingan individu di antara para pelajar dan menyebarkan kerja sosial alih-alih kepemimpinan individu, dan prestasi adalah kekuatan yang melindungi masa depan.

Filsafat Idelaisme Melahirkan Perenialisme

Filsafat idealisme juga menyebabkan lahirnya peranakan baru yaitu falsafah daimumah (perenialisme). Ia seperti pendahulunya mazhab idealisme yang mempertahankan dan banyak mempersempit orientasi dunia modern seperti akibat revolusi industri, revolusi ilmiah, nilai sekulerisme, nilai proletarian Marxisme, dan revolusi teknologi dan elektronik.

Ia sebagai filsafat pendidikan yang memusatkan pada masa lalu dan mereka menyebut dan menguatkan perenialisme alam dan tidak adanya perubahan watak manusia, hakikat, pengetahuan, keutamaan dan estetika. Yang disenangi adalah yang tetap. Di antara agen mazhab ini adalah Robert Hutchins.

Perenialisme: Watak Manusia sebagai Pusat Pendidikan

Pusat pendidikan –menurut filsafat perenialisme- adalah watak manusia yang tetap, yakni kemampuan untuk berfikir dan menemukan idealisme. Hanya manusia makhluk yang demikian adanya. Oleh karena itu pendidikan adalah proses yang tetap yang bertujuan menghasilkan manusia yang berakal dan bijak. Metode dalam filsafat ini berasal dari konsep-konsep Yunani kuno dan konsep-konsep pendidikan pembebasan Latin. Ia memperkuat aktivitas Plato, Aristoteles, Markus Aulius, Saint Agustin, Saint Thomas Aquinas, Copernicus, Galileo, Erasmus, Shakespare dan lain-lain.  Perintis mazhab ini sedikit hanya saja mereka kelompok intelektual.

Filsafat Essensialisme sebagai Anak Realisme

Filsafat realisme juga menghasilkan peranakan baru yakni falsafah asas jauhariyah (essensialisme). Filsafat ini –di Amerika- memusatkan pada tema-tema pokok yang bertolak dari dua tujuan dasar. Pertama, fungsi pendidikan adalah mentransmisikan tradisi intelektual. Kedua, pelatihan akal. Sebagian menambahkan dua tujuan, yakni kesehatan fisik dan jiwa, dan kapasitas keahlian dan melakukan kegemaran. Filsafat ini juga menuntut sekolsh memutuskan pada nilai-nilai peminpin bangsa dari kalangan politikus dan sosiolog baik yang telah meninggal ataupun yang masih hidup dan para pemikir peradaban Barat.

Lahirnya Filsafat Eksistensialisme

Disamping tujuh filsafat pendidikan yang telah disebutkan muncul filsafat kedelapan yakni falsafah wujudiyah (eksistensialisme). Filsafat ini asli Eropa yang menjadi populer selama perang dunia kedua dan setelahnya. Ini adalah filsafat individualis yang bergantung kepada faktor- faktor pribadi, perasaan dan komitmen emosional dan perasaan akan kesendirian.

Dampak pendidikannya adalah dampak individual di mana pelajar dan pendidik berinteraksi sebagai individu. Filsafat ini menarik bagi mereka yang melihat kehidupan modern sebagai sia-sia, tidak memiliki makna, kebodohan, tekanan dan teror. Mereka adalah orang-orang yang terzhalimi karena lembaga-lembaga yang ada dalam masyarakat industrial dan teknologis dan merasa tidak memiliki kecenderungan dan hilangnya kebebasan.

Individu –menurut faham ini- menjalani hidup sendirian di dunia yang perasaan dan emosinya terpisah dari alam materi dan orang lain. Ia sendiri yang menetapkan kehidupan, kematian dan kemusnahannya. Ia memiliki kebebasan perilakunya meskipun terdapat pengaruh-pengaruh tradisi dan lingkungan.

Akar Filsafat Eksistensialisme

Akar filsafat ini kembali kepada abad kesembilan belas dalam tulisan Soren Kierkegaard, Frederich Nietszche dan Theodeore Dostovski. Akan tetapi berkembang setelah perang dunia kedua di tangan semisal John Paul Sartre dan Albert Camus. Dan di antara yang paling banyak menjelmakannya dalam buku-buku pendidikan adalah pendidik Amerika Maxine Greene. Jelasnya bahwa eksistensialisme tidak memiliki sistem pendidikan atau sekolah akan tetapi membekali peserta didik dan pendidik dengan pemikiran yang menjadikan pusat nilai baginya. Pusat nilai dimaksud adalah –kebebasan individu- dan menemukan akibat-akibat perbuatannya.

Filsafat Marxisme juga menginternalisasikan bingkai pendidikan di tangan George Lucas  dari Bulgaria dan Sausser dari Prancis. Marxisme pendidikan menjadi Marxisme induk dari tidak lebih dari tiga puluh mazhab, dan pembahasan ini tidak bisa memberikan penjelasan seluruhnya secara detail.

Disamping filsafat pendidikan ini semua terdapat juga filsafat pendidikan Kristen untuk remaja. Diantara agennya adalah Paus Pius XI dari Italia (1857-1939) dan William Francise yang berkebangsaan Amerika. Diantara karyanya adalah “Masalah Pendidikan Terpenting” dan Jack Martin dari Prancis dan di antara karyanya adalah “Pendidikan dengan Berbagai Macam Mekanisme”.

Disamping itu juga berdiri filsafat pendidikan Lutherian dan di antara tokohnya adalah Arthur Leonard Mill, dan di antara penelitiannya adalah “Dasar Teologi Filsafat Lutherian”. ***Dr. Majid Irsan Al Kailani

Bahan Bacaan

William H Howick, Philosophies of Western Education, Danville: The Interstate Printers & Publishers, Inc., 1971

George S. Counts, Dare the School Build a New Social Order? (New York: The John Devery Co., 1932)

Richard van Scotter, Richard J. Kraft & John D. Haas, Foundation of Education, Englewood Chiffs, N.J, Prentice Hall, INC, 1979

Joe Park, Selected Readings in the Philosophy of Education, New York:[1] William H. Howick, Philosphies of Western Education, tt.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.