Keraton, Satu Kesatuan Simbol dan Filosofi

0 62

 

Lanskap keraton dengan baluartinya merupakan satu kesatuan yang punya nilai artistik dan mengandung simbol dari filosofi tertentu. Lanskap ini tentunya tidak  hanya menjadi daya tarik wisata saja, namun secara makro dalam konteks saat ini keraton tetap berfungsi sebagai lumbung atau sumber sejarah untuk ilmu pengetahuan bagi para peneliti dan akademisi serta dunia pendidikan. Keraton, Satu Kesatuan Simbol dan Filosofi lanskap keraton.

“Andaikan terkelola dengan baik dan teritegrasi dengan pemerintah sebagai lembaga pembina pekerja seni dan juga sektor swasta serta  para pelaku usaha selaku penyedia jasa dan pihak-pihak lain yang dapat bersinergi untuk mewujudkannya,” kata Sultan Kacirebonan P.R. Abdul Gani Natadiningrat, S.H. “Keraton mampu menjadi destinasi (tujuan) wisata yang dapat menggerakkan roda perekonomian bagi kawasan sekitar.”

Lanskap dalam lingkup keraton bermakna cakrawala pandang yang dapat ditangkap indra penglihatan kita tentang eksistensinya dalam aspek fisik dan nonfisik. Aspek fisik meliputi wujud keraton dari segi arsitektur ragam hias atau ornamen baluarti dan lainnya.  Aspek nonfisik meliputi tradisi kraton dan pakem yang ada di dalamnya, sedangkan untuk ritual panjang jimat sendiri pada initinya adalah media dakwah ala keraton kepada warga masyarakat untuk senantiasa meneladani dan merefleksikan risalah yang dibawa dan dicontohkan Nabi Besar Muhamad SAW dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam aspek vertikal maupun horizontal.

Tradisi Mauludan sendiri merupakan ritual adat yang telah menjadi tradisi yang masih dilestarikan dan sejak lama ada di lingkungan keraton, namun seiring dengan perkembangan zaman, perubahan tentu tidak dapat dihindari walaupun tidak terlalu signifikan. Hal itu tampak dari aspek protokoler serta penggunaan alat bantu atau perlengkapan penunjang media yang digunakan dalam prosesi tersebut sejauh dapat memberi manfaat yang lebih baik dari segi keamanan, kepraktisan dan khitmatnya acara, hal semacam ini tentunya terjadi di semua keraton, ujar Abdul Gani.

Pada prinsipnya keraton sebagai bagian integral dari konsep dakwahnya Sunan Gunung jati yang berciri khas kental dengan nilai-nilai agama Islam, tentunya spirit dakwah Islam ini tidak dapat dipisahkan dari denyut kegiatan tradisi keraton, dan tarekat serta tasawuf itu sendiri. Sedangkan tasawuf merupakan salah satu khazanah dari kebudayaan Islam, jadi hal itu saja yang turut mewarnai adat atau tradisi keraton Kacirbonan.

 Sejarah Awal Panjang Jimat

Dini Rosmalia (doktor lulusan ITB) dalam Forum Grup Diskusi yang diselenggarakan Komunitas Kendi Pertula di Keraton Kanoman, meneliti awal terjadinya panjang jimat. Ada pandangan yang berbeda dari paparan kalangan keraton pada masa lalu. Ada kemungkinan acara tradisi ini awalnya dilakukan pada masa Kolonial Belanda. Bukan pada masa pemerintahaan Sunan Gunung Jati, seperti yang sering disebutkan dalam beberapa babad.  Indikator keganjilan itu menyangkut di antaranya, pawai alegoris yang sangat rapi, penggunaan lilin (panjang jimat Keraton Kasepuhan), pembacaan kitab Barzanji yang ditulis Syaih Jafar Al-Barzanji (1690-1763M) suatu masa yang terpaut 250 tahun dibandingkan masa Sunan Gunung Jati, sehingga pembacaan Barzanji yang secara serempak dilakukan saat pelal panjang jimat di tiga kertaon diduga merupakan rekayasa Kolonial Belanda. Sementara pada sisi lain ada pendapat yang menyatakan acara ritual panjang jimat merupakan “proses yang terus menjadi” . Pada awalnya prosesi itu bisa saja dilakukan secara sederhana dan secara perlahan mengalami perubahan-perubahan.

Pendapat yang menyatakan, prosesi panjang jimat diciptakan pada masa Kolonial Belanda ini diamini pula sejarawan IAIN Cirebon, Zaenal Masduqi. Bahkan pendiri Komunitas Kendi Pertula, Mustaqim Asteja dalam diskusi tersebut, dengan mengutip berita yang diterbitkan pemerintah Belanda, panjang jimat justru dimulai pada era Sultan H. Moh. Nurus bertahta di Keraton Kanoman. Namun pendapat terakhir ini tentu saja banyak dibantah peserta diskusi, karena banyak kalangan sepuh menyaksikan, sebelum masa Sultan H. Moh. Nurus, tradisi panjang jimat telah dilakukan.

Menurut Ratu Raja Arimbi Nurtina S.T. dari Keraton Kanoman,  filossofi lanskap tradisi dalam lingkungan keraton merupakan budaya turun temurun dan kemungkinan adanya kesepakatan para sultan pada masa lalu, agar kekompakan tetap terjaga. Dan agar acara panjang jimat dapat dirasakan masyarakat luas. Seiring perkembangan dinamika zaman, untuk penataan ruang yang dilakukan keraton pada masa lalu, sesungguhnya merupakan sebuah konsep yang mencakup dimensi sosial, budaya yang dibangun dan ditata untuk menciptakan keseimbangan.

Ritual panjang jimat merupakan salah satu bentuk kecintaan umat Islam kepada Rasulnya. “Di tanah Jawa tradisi ini sudah ada sejak zaman walisongo,” ungkap Ratu Arimbi. “Tradisi ini pula sebagai sarana dakwah penyebaran agama Islam dengan menghadirkan berbagai macam kegiatan yang menarik masyarakat pada masa itu dan adanya keraton dengan berbagai budaya dan tradisinya dapat menciptakan daya tarik masyarakat untuk mengunjungi keraton sebagai pusat penyokong lestarinya budaya.

Pengaruh peringatan maulid Nabi hingga ke Indonesia sangat berkaitan dengan perjuangan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi, khalifah dari dinasti Abbasiah pada masa Perang Salib awal abad ke-11. Dalam perkembangan berikutnya di tingkat domestik peringatan tersebut menjadi penghormatan jasa para wali penyebar Islam. ***

Oleh NURDIN M. NOER

Wartawan senior,Pemerhati Kebudayaan lokal

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.