Kesadaran Suci adalah Takdir | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part-5

Kesadaran Suci adalah Takdir | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part-5
0 187

KESADARAN Suci adalah Takdir – Shofi dan Siti, terus menjalani rutinitas hidup yang tetap. Pagi berangkat ke sekolah untuk mengajar. Siang hari pulang. Minum kopi sebentar, lalu berangkat ke sawah atau ke kebun.Kadang-kadang hanya sampai kolam. Ia menyaksikan bagaimana ikan-ikan itu berenang dikolamnya. Lalu, ia menaburkan makanan untuk ikan. Makanan itu terbuat dari daun-daun thalas daun singkong, atau dari dedek padi. Ia asyik ketika hidupnya dihabiskan untuk menonton bagaimana ikan berenang.

Di hari minggu, ia gunakan penuh waktunya mengunjungi kebun. Ia memetik biji kapol, kopi dan buah salak yang ditanamnya beberapa tahun lalu. Rempah-rempahan inilah, yang telah menjadi salah satu penopang hidupnya. Sementara itu, di tanah di mana pohon jeruk ditanam, dan waktu itu sudah mati, bekasnya kembali menjadi sawah.

Sawahnya itu diurus dengan baik. Di pematang sawah, ia juga menanam jagung dan ubi jalar. Meski tanahnya tidak lagi luas, karena banyak dijual untuk menyekolahkan anak-anaknya, Shofi tetap ikhlas. Iapun “menggantungkan” kebutuhan hidupnya itu pada sawah yang sangat sedikit itu. Ia selalu bilang sama kakak-kakanya, bahwa ia hanya akan mewariskan ilmu. Ia tidak ingin banyak mewariskan kekayaan kepada anak-anaknya itu. Banyak orang menbirnya, itu hanya sebuah alasan. Fakta, Shofi memang kehabisan banyak kekayaan.

Setelah Cronos anak yang ditunggunya memilih berkarier di rantau, Shofi sendiri akhirnya memutuskan untuk mengambil pensiun dini. Semula ia merencanakan untuk melakukan tambal sulam untuk Crhonos. Tetapi, anak ketiganya itu tetap menolak. Akhirnya, ia mengusulkan pensiun dini. Ia pensiun dalam ruang Golongan IV-b. Karena masa pengabdiannya cukup lama, pemerintah memberi penghargaan dengan kenaikan langsung. Karena itu, ia pensiun dalam ruang golongan IV-C.

Saat pensiun, Shofi memperoleh tunjangan yang sebenarnya cukup lumayan besar menurut ukuran orang kampung. Melihat beberapa gepok uang, Siti kembali hanyut dalam keberangkatannya untuk ibadah haji. Siti kembali merengek memintanya untuk mendaftarkan ibadah haji. Memang logis permohonan Siti itu. Sebab uang pensiun itu, sesungguhnya cukup untuk menjadi DP keberangkatan mereka ke tanah suci. Tetapi, Sofi kembali tidak mendaftarkan diri untuk ibadah haji. Ia mengatakan: “Siti, sabar. Jika waktunya kita dipanggil Tuhan, kita pasti berangkat ibadah haji. Kau harus yakin. Mari kita entaskan dulu nasib anak pertama kita.

Pabrik Tapioka Kembali dibuka

Uang pensiun Shofi, digunakan untuk membangun pabrik Tapioka di dekat rumahnya. Ia kasian terhadap anak pertamanya, Ruslani. Sarjana Mnagement ekonomi itu, waktu Shofi pensiun lagi nganggur. Ruslani dipaksa Resign oleh Shofi dari Perum Perhutani. Bekerja di PT BUMN itu, dianggap Shofi membahayakan tetangganya yang mengandalkan hidup dari hasil menebang pohon.

Mengapa Shofi memilih membuka Pabrik Tapioka, bukan bisnis lainnya. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat Shofi, di era tahun 1970-an, dikenal sebagai pebisnis Tapioka. Karena bisnis inilah, ia relatif memiliki sedikit banyak anugerah Allah di masa mudanya. Melalui bisnis ini pula, Shofi sempat memiliki kendaraan. Di rumahnya sendiri, untuk generasinya relatif lebih lengkap.Tetapi, suasana itu, tidak terlalu lama berjalan. Shofi meninggalkan bisnisnya.

Akhirnya, takdir berkata lain. Ketika ia diangkat menjadi PNS pada tahun 1976, waktu bisnisnya habis dipakai untuk mengajar. Ia menghentikan bisnisnya itu.  Sisa-sisa kekayaan dari hasil bisnis tapioka itu, digunakan membuka beberapa lapak Kaki Lima di Jakarta. Lapak-lapak itu, diurus oleh tetangganya, bernama Yoyo. Saat bisnis kaki lima inilah, kekayaannya habis. Akhirnya ia menjalani hidup sebagai guru PNS.

“Suatu hari, Shofi berkelakar. Untung saya menikah sebelum menjadi guru. Kalau saya memilih perempuan setelah menjadi guru, maka, aku pasti hanya akan cukup untuk memenangkan janda atau jika itu masih perawan, pasti itu perempuan yang tidak laku. Mengapa begitu? Sebab menurut Shofi, perempuan lebih suka dilamar supir truck, dibandingkan dengan laki-laki yang menjadi guru”

Bisnis Tapioka ini, dianggapnya sebagai reunian usaha masa lalu. Ia merangkai semua keperluan pembuatan pabrik tapioka ini. Setelah jadi pabrik, usaha itu kemudian diserahkan kepada anaknya, Ruslani. Beberapa tahun, usaha ini berjalan dengan lancar. Cash flow-nya baik. Ia menghabiskan waktunya bersama Ruslani di Pabrik yang dia dirikan di masa tua. Tetapi kemudian, bisnis ini meredup, lalu terhenti. Ditutuplah usaha ini, karena banyak petani mulai enggan menanam singkong.  Ruslani kemudian didorong mengikuti jalur pendidikan, meneruskan apa yang telah dia dirikan bersama saudara tuanya di sekolah. Ruslani kemudian menjadi guru matematika di sekolah di mana dulu dia merintis karier.

Saat usaha tapioka ini berlangsung, anak ketiganya, mengikuti pendidikan S3 di Bandung. Jika Shofi dan anak pertamanya terus menerus mengurusi bisnis, Crhonos justru terus menerus mengikuti study. Ia pun menyelesaikan studi dimaksud, beriringan dengan perjalanan usaha tapioka itu. Begitu Crhonos menyelesaikan studi, bisnis Tapioka kembali berhenti.

Crhonos Berhasyrat Ibadah Haji

Sore hari, Januari 2007, Crhonos membersihkan tanah yang telah dibuatkan fioundasi rumah. Ia hendak membangun rumah di sebuah jalan yang relatif lebih kota dibandingkan dengan rumah yang dihuninya selama ini. Ia membawa seluruh “adik dan ponakannya” ke foundasi dimaksud. Ia membeli beberapa kilogram ikan untuk dimakan bersama. Ia membuat rumah, karena setiap kali Shofi main ke rumahnya, selalu suka nyeletuk, aduh Crhonos, bagaimana kamu ini.

Ikan belut saja, memiliki rumah yang tembus. Ko rumah kamu kalah sama belut. Bagaimana kesehatan rumah kamu mampu menjamin cucu-cucuku. Rumah ini, tidak memiliki pentilasi udara. Padahal udara dibutuhkan agar kamu dan anak-anak kamu tetap sehat karena sirkulasi udara terjamin.Aku sudah merendam kayu Jati yang cukup banyak. Menurutku, sebesar apapun kamu membangun rumah kelak, kayu jati yang sudah kurendam itu cukup.

Crhonos ingin membangun rumah yang menurut ukurannya dapat membahagiakan Shofi, ayahnya. Terlebih, beberapa minggu sebelumnya, Crhonos sudah menyelesaikan study S3-nya. Ia merasa tidak lagi memiliki beban berarti kecuali membangun rumah ini. Pagi hari setelah melakukan pengurugan foundasi rumahnya, Shofi berangkat ke Bandung. Ia akan menyampaikan Disertasi hasil perbaikan akhir. Inilah moment akhir Shofi mengikuti Study.

Dalam satu perjalanan menuju Bandung, Crhonos mencucurkan air mata. Pagi itu, ia berangkat ke Bandung untuk menyampaikan hasil revisi Disertasi ke pengelola program. Ia naik kendaran Patas AC Bhineka. Mobil patas itu, menayangkan kilas Balik Indonesia. Acara di statsiun SCTV itu, pukul 5.00 pagi, sedang menyiarkan kasus Tsunami Indonesia. Fenomena alam itu, digambarkan mulai dari kasus Aceh sampai Pangandaran. Suasana pagi yang masih dingin itu, membuat Crhonos tak mampu tidur. Terlebih acara TV di mobil dimaksud, menayangkan sesuatu yang sangat mengerikan.

Entah mengapa, Crhonos membayangkan bagaimana kalau Tsunami itu terjadi di Cirebon. Ia menghitung dosa hidupnya. Ia menghafal amal kebajikannya. Ia mencari tahu, kewajiban apa yang belum dilakukannya sampai detik itu. Entah mengapa, tiba-tiba ia ingin melaksanakan ibadah haji.

“Ya Allah betapa berdosanya aku. Sudah lama Vetra memintaku untuk nabung haji. Mengapa aku menolaknya dan terus menolaknya. Mengapa aku tidak percaya, bahwa Tuhan memiliki skenario tertentu dalam hidup manusia, tentu termasuk dalam hidupku. Ya Allah beri aku kekuatan. Janganlah kau matikan aku, sebelum aku dapat bertemu dengan keagunganMu. Jika selama ini, ijtihadku salah, maka, maafkanlah aku. Aku mohon berilah jalan bagiku dan bagi istriku untuk menunaikan ibadah haji”.

Siti Bermimpi Berangkat ke Tanah Suci

Dalam deraian air mata itu, di tengah laju kendaraan yang melaju dengan lambat karena macet, tiba-tiba, Siti, ibunya menelephonnya. Ia melihat nomor panggilan yang tidak asing baginya. Ia segera mengangkat telephon itu dan kemudian terjadilah dialog:

Assalamu’alaikum bu … apa kabar? waalaikum salam. Ibu sama bapak Alhamdulillah baik-baik. Paling ya bapak kamu tuch, sulit disuruh berhenti merokok. Sering batuk sekarang ini. Kamu ada di mana Crhonos? Saya ada di mobil sedang ke Bandung. Ngantarkan disertasi perbaikan. Udah selesai sekarang perbaikannya? Alhamdulillah bu sudah kelar. Syukurlah kalau begitu. Ngomong-ngomong bagaimana kabarnya Vetra dan anak-anakmu? Sehat semua kan. Alhamdulillah sehat semua. Syukurlah kalau begitu.

Bu … ada apa? Nggak, nggak ada apa-apa. Cuma mau menyampaikan bahwa tadi malam, ibu bermimpi naik Garuda Indonesia dari Jakarta, menuju Jeddah. Ibu kaget. Sudah lama ibu tidak mimpi berangkat ke tanah suci. Maklum kamu tahu sendiri kan bagaimana bapak kamu itu. Ia tegar dan selalu menolak ajakan ibu. Oooh begitu kata Crhonos membalas.

Tetapi begini bu. Takdir ibu akan berubah. Ke tanah suci tidak lagi hanya mimpi. Tahun besok ibu dan bapak berangkat ke tanah suci. Ach kamu jangan ngarang Crhonos. Darimana sekarang ibu daftar haji. Pabrik Tapioka belakangan sepi. Nggak mungkinlah kami bisa membayar ongkos haji. Tenang bu kata Crhonos. Aku yang bayar. Semuanya aku yang bayar. Ibu jaga saja kesehatan … insyaallah, aku punya jalan ke luar.

Hai Crhonos, awas jangan memaksakan diri. Ibu hanya cerita mimpi. Dalam soal begini, kan hanya kamu yang bisa ibu ajak bicara. Tetapi bukan berarti kamu harus menanggungjawabinya. Anak-anak kamu masih kecil. Kamu baru tumbuh menjadi semaian hidup. Biarlah … Ibu sudah tidak punya hasyrat lagi untuk berangkat ke sana.

Crhonos menjawab, tenang saja bu. Ada ko … dan aku juga tidak menjual apa-apa. Apalagi menjual harga diri. Percayalah. Aku kan anak kebanggaan ibu dan bapak. Crhonos mendengar dengan pasti, ibunya menangis. Meski berusaha untuk ditutupinya.

Setelah dialog itu, Crhonos hanya mampu beristighfar dan memuji Tuhan-Nya dengan tekun. Di mobil ia bingung bagaimana kalau ia tidak mampu menunaikan apa yang disampaikannya pada ibunya itu. Tetpi, akhirnya ia sadar bahwa pada akhirnya akan selalu ada jalan. Inilah kesadaran. Kesadaran inilah yang menjadi takdir Crhonos untuk melaksanakan ibadah haji. By. Charly Siera –bersambung

Komentar
Memuat...