Inspirasi Tanpa Batas

Kesatuan Dan Parsialisme Pengetahuan

0 2

Konten Sponsor

Kesatuan Dan Parsialisme Pengetahuan: Al-Qur’an membicarakan pengaruh kesatuan dan parsialisme pengetahuan di berbagai tempat yang di antaranya adalah:

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka” (Qs. Al An’aam [6]: 159).

“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,” (31) “yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan” (32) (Qs. Ar-Ruum [30]: 31-32)

Parsialisme konsep agama akan mengarah kepada parsialisme umat menjadi golongan-golongan yang saling bermusuhan dan saling membenci. Parsialisme juga membuka pintu penghambaan kepada praduga dan turut serta dalam pemikiran yang keliru. Ini semua bukanlah tujuan risalah dan para Rasul. Agama yang ditunjuk dalam Qur`an adalah agama yang satu yang sempurna yang di dalamnya menyatu aspek-aspek agama, sosial dan alam sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya dan sehingga praktek yang ada dan setiap bagian dari bagian-bagian wujud yang ada menjadi model bagi ibadah yang dijadikan hubungan oleh agama antara Pencipta dengan makhluknya. Demikianlah hakikat agama yang dibawa oleh semua Rasul.

“Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya`qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (136) “Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (137) “Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah” (138) (Qs. Al Baqarah [2]: 136-138).

Percaya Akan Integrasi Agama dan Ilmu

Tidak adanya perhatian kepada ketiga syarat tersebut, yakni kedalaman dalam ilmu, komprehensifme dengan objek pengetahuan dan kesatuan pengetahuan menjadikan sebagian orang percaya akan integrasi agama dan ilmu. Keyakinan seperti ini telah menyeret peradaban modern dan mewaraninya dengan berbagai corak. Dan hasilnya adalah sebagian penulis buku Islam menyerukan tidak adanya perbandingan antara pernyataan-pernyataan agama dengan hasil ilmu karena hakikat agama itu bersifat tetap sedangkan ketetapan ilmu bersifat berubah-ubah.

Kenyataannya bahwa ilmu yang sempurna yang memenuhi ketiga syarat tersebut tidak berubah, yang berubah hanyalah ilmu yang bersifat parsial atau ilmu yang dangkal yang di dalamnya terdapat kekurangan atau bercampur dengan dugaan atau hawa nafsu. Maka di dalamnya akan terdapat –apa yang dianggap sebagai ilmu- dan sebenarnya bukanlah ilmu. Perkataan akan bulatnya bumi menjadi ilmu yang sempurna tidak ada kekhawatiran akan perubahannya setelah pergi ke bulan dan berkeliling di angkasa luar. Akan tetapi ketika dikatakan bahwa atom tidak bisa dibagi lagi adalah dugaan dan bukan ilmu.

Oleh karena itu selamanya tidak ada pertentangan antara agama yang benar dengan ilmu yang benar, pertentangan hanya terjadi ketika kesalahan terjadi dalam agama dan ilmu. Mengenai hal ini Qur`an menjelaskan:

“Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran” (Qs. An-Najm [53]: 28).

Metode pengetahuan modern menderita kecenderungan jatuh pada kesalahan yang ditunjukan dengan sebab fenomena atomisasi yakni parsialisme pengetahuan dan spesifikasi rincian akurat yang menjadikan komprehensifme objek ilmu sebagai masalah yang sulit yang mengarah kepada penyimpulan yang keliru. Disamping itu, kesatuan pengetahuan masih merupakan masalah yang belum mendapat perhatian yang layak. Ini memberikan kepentingan yang khusus terhadap metode pengetahuan Islam, dan mengkualifikasikannya untuk memainkan peran utama dalam mendamaikan metode pengetahuan modern yang diserukan oleh para spesialisnya.

Oleh: Dr. Majid Irsani Al Kailani

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar