Kesejatian Eksistensi di antara Idealisme dan Materialisme| Kajian Ulang Metafisika Part ai??i?? 5

Kesejatian Eksistensi di antara Idealisme dan Materialisme| Kajian Ulang Metafisika Part – 5
0 37

Kesejatian Eksistensi di Antara Idealisme dan Materialisme. Kemampuan akal menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, atau mana yang berdampak baik dan mana yang berdampak buruk, akan bergantung pada kemampuan masing-masing penilai. Termasuk dalam soal yang dibahas sekarang, yakni kajian ontologis tentang eksistensi manusia dan berbagai fenomena alam. Apakah manusia hanya tersusun dari unsur-unsur material, atau memiliki unsur yang jauh lebih ideal dibandingkan dengan unsur material tadi.

Dalam pertanyaan lainnya, apakah benar di balik yang disebut sebagai benda itu, ada wujud absolut, mutlak dan abadi dan bersifat metafisik yang immateril? Apakah pandangan ini, diakui semuanya atau tetap relatif? Ternyata pandangan semacam ini juga relatif. Yang karena relatif, memungkinkan munculnya padangan lain yang berbeda.

Ternyata, dalam soal yang demikian esensial saja, filosof tetap berbeda pandangan. Yang menyatakan bahwa di balik yang fisik dan materil ada sesuatu yang segalanya Maha itu, tidak diakui semua kalangan. Metafisikus mmateril menganggap bahwa di balik setiap benda, terdapat penggerak utama. Namun penggerak utama itu bukan sesuatu yang beyon’d. Bukan sesuatu yang segala Maha. Bukan pula sesuatu yang bersipat immateril. Setiap benda, termasuk eksistensi manusia, digerakkan sesuatu yang bersipat materil.

Pandangan Materialis tentang Eksistensi

Kaum materialis, dengan demikian, berbeda pandangan dengan kaum idealis. Suatu komunitas sebagaimana digagas Socrates, ternyata ditentang kaum materialis. Mereka menganggap bahwa eksistensi [wujud] itu sama dengan materi. Artinya, sesuatu disebut ada, jika keberadaannya bersipat materil. Karakter materil, sebagaimana diketahui selalu berdimensi panjang, lebar dan padat.

Secara tipologis, yang materil selalu memiliki type kuantitatif dan dapat dibagi. Karena karakter wujud [eksistensi] itu demikian, maka, setiap materi pasti bersifat azali, abadi, tidak dicipta dan tidak membutuhkan sebab apapun. Materi selalu mandiri dan tidak bergantung kepada apa dan siapapun, termasuk kepada Tuhan. Inilah yang menyebabkan, mengapa mereka mengingkari eksistensi Allah atau Tuhan. Dengan dasar seperti itu pula, maka, dalam anggapan kaum materialis, alam memiliki tujuan dan sebab akhir.

Lalu jika ditanyakan mengapa ada fenomena yang terjadi dan terdapat pada alam? Jawaban atas pertanyaan semacam ini, selalu dijawab dengan asumsi bahwa seluruh fenomena alam, muncul akibat adanya perpindahan pada atom-atom materi. Selain tentu karena adanya interaksi antara satu atom dengan atom lainnya. Fenomena alam sebelumnya, selalu berperan sebagai syarat dan sebab bagi fenomena berikutnya.

Sebut misalnya, di balik fisik makhluk hidup, diakui ada penggerak utama, yakni sel. Jika muncul suatu pertanyaan, lalu yang menggerakkan sel itu apa. Kaum materialis menyebutnya dengan istilah atom dan inti atom atau flasma. Bisa juga disebut DNA.Ai??Jika dipertanyakan ulang, lalu yang menjadi penggerak utama atau yang menjadi pencipta DNA itu siapa atau apa? Jawaban kaum metafisikus yang materialis umumnya mengatakan bahwaAi?? di balik eksistensi,Ai??dapat disandarkan kepada faktor-faktor yang mempengaruhi. Namun, tidak ada satu pun fenomena yang butuh kepada pelaku dan pencipta, termasuk Tuhan.Ai?? Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...