Keselarasan Pancasila Dengan Ajaran Islam Dalam Kajian Konflik Sosial

Keselarasan Pancasila Dengan Ajaran Islam Dalam Kajian Konflik Sosial

119 0

Keselarasan Pancasila-Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara kita. Tentu, materinya sudah ada sebelum bangsa ini ada, hanya saja rumusannya secara formal baru terealisasi sekitar tahun 1945. Namun, apabila ada yang menyatakan bahwa hari lahirnya Pancasila adalah tanggal 1 Juni 1945,  itu hanya sekedar pemberian nama saja, bukan materi Pancasila. Itu dijelaskan dalam artikel “Satu Juni Menjadi Hari Sakti Baru Bangsa Indonesia”

Pancasila sebagai dasar filsafat negara dapat didefinisikan sebagai suatu ideologi negara yang berketuhanan berkemanusiaan, berpersatuan, berkerakyatan dan berkeadilan. Sebagaimana tokoh-tokoh kenegaraan Indonesia merumuskan Pancasila tentu tidak mengada-ada. Tetapi memang demikian keadaannya berdasar pada kematangan rumusan mufakat.

Pada dasarnya Pancasila ini direnungkan dari kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia. Selanjutnya memang dikehendaki oleh bangsa Indonesia dalam bernegara sebagai dasar falsafah negara. Dengan demikian kedudukan Pancasila selain sebagai dasar dan ideologi negara, Pancasila juga sebagai jati diri dan kepribadian bangsa Indonesi.

Pancasila pada dasarnya mampu untuk mengakomodir semua lini kehidupan Indonesia. Dengan demikian pancasila haruslah dijadikan alat kesejahteraan, bukan sebuah alat kepentingan. Bangsa Indonesia adalah salah satu bangsa yang memiliki banyak perbedaan, dengan perbedaan itu merupakan salah satu bawaan kodrat manusia sebagai makhluk Tuhan.

Perlu di ingat bahwasanya perbedaan itu bukan untuk dipertentangkan ataupun diperuncing. Namun, perbedaan itu harusnya dipersatukan dan disintesiskan dalam suatu sintesa yang positif dalam bingkai NKR I. Lalu, bagaimana keselarasan Pancasila dengan masing-masing silanya dalam Islam, beriku ini uraiannya:

Keselarasan Sila Pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa”

Sila pertama yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa memiliki Makna bahwa bangsa Indonesia berdasarkan Tuhan Yang Maha Esa. Seluruh warga negara Indonesia diberikan kebebasan untuk memilih satu kepercayaan, dari beberapa kepercayaan yang diakui oleh negara.

BACA JUGA:  "Romantika Rumah Tangga" Merasa Sama-Sama Salah Lebih Baik Daripada Sama-Sama Merasa Benar

Dalam konsep Islam, hal ini sesuai dengan istilah hablun min Allah. Konsep tersebut yang merupakan sendi tauhid dan pengejawantahan hubungan antara manusia dengan Allah SWT. Kemudian, Al-Qur’an dalam beberapa ayatnya menyebutkan bahwa umat Islam harus mengesakan Tuhan. Salah satu diantaranya tercermin dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 163.

Keselarasan Sila Kedua “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”

Sila kedua yang berbunyi Kemanusiaan yang Adil dan Beradab bermakna, bahwa bangsa Indonesia menghargai dan menghormati hak-hak yang melekat pada pribadi manusia. Dalam konsep Islam sendiri, hal ini sesuai dengan istilah hablun min al-nas. Maknanya tentu hubungan antara sesama manusia harus berdasarkan sikap saling hormat menghormati. Dalam Al-Qur’an beberapa ayatnya menyebutkan dan bahwa Tuhan selalu mengajarkan kepada umatnya untuk selalu menghormati dan menghargai sesama. Hal tersebut tercermin di dalam Al-Qur’an Surat Al-Maa’idah ayat 8-9.

Keselarasan Sila Ketiga Persatuan Indonesia

Sila ketiga berbunyi Persatuan Indonesia maknanya menegaskan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang satu dan bangsa yang menegara. Dalam konsep Islam, hal ini sesuai dengan istilah ukhuwah Islamiah (persatuan sesama umat Islam) atau ukhuwah Insaniah (persatuan sesama umat manusia). Al-Qur’an sendiri dalam beberapa ayatnya menyebutkan bahwa umat Islam harus selalu menjaga persatuan sebagaimana tercermin dalam Al-Qur’an Surat Ali Imron ayat 103.

Keselarasan Sila Ke-Empat “Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmad Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan”

Sila keempat berbunyi Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmad Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan bermakna bahwa dalam mengambil keputusan harus dilakukan secara musyawarah yang didasari oleh hikmad kebijaksanaan. Dalam konsep ajaran agama Islam, hal ini sesuai dengan istilah mudzakarah (perbedaan pendapat) dan syura (musyawarah). Dalam Al-Qur’an sendiri beberapa ayatnya menyebutkan dan selalu mengajarkan kepada umatnya untuk selalu selalu bersikap bijaksana dalam mengatasi permasalahan kehidupan dan selalu menekankan bahwa musyawarahlah untuk menyelesaikannya tentu dengan suasana yang demokratis.  Ini sesuai dalam ayat Al-Qur’an Surat Ali Imron ayat 159.

BACA JUGA:  Cobaan Dengan Keburukan Dalam Kehidupan Manusia

Keselarasan Sila Ke-Lima “Keadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”

Sila kelima yang merupakan sila terakhir berbunyi Keadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Sila tersebut bermakna bahwa, Negara Indonesia sebagai suatu organisasi tertinggi memiliki kewajiban untuk mensejahterakan seluruh rakyatnya. Jika di kaitkan dengan konsep Islam, hal ini sesuai dengan istilah adil. Al-Qur’an dalam beberapa ayatnya memerintahkan untuk selalu bersikap adil dalam segala hal. Adil disini baik terhadap diri sendiri, orang lain dan bahkan alam sebagaiman di jelaskan dalam Al-Qur’an Surat al-Nahl ayat 90.

Oleh : Tarsini (Mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *