Take a fresh look at your lifestyle.

Keseriusan tidak Selalu dibangun dengan Cara yang Serius | Slowdown Part – 1

0 71

Keseriusan tidak Selalu dibangun dengan Cara yang Serius. Suatu hari, seutas posting masuk ke akun saya dengan mengatakan: “Hai Prof. apa kabar? Saya jawab, baik al hamdulillah”. Maaf mengganggu waktunya, aku stress! Saya balik bertanya, mengapa? Dia menjawab. Pekerjaanku terlalu banyak dan menumpuk dengan target tertentu yang harus segera selesai.

Setiap hari pekerjaan datang dengan cepat. Satu pekerjaan belum selesai, sudah datang tugas dan pekerjaan baru. Semuanya berat dan menyiksa. Aku kalut. Sejujurnya, aku tak mampu menyelesaikan pekerjaan dimaksud dengan baik, meski hanya satu pekerjaan saja. Padahal, dengan dan melalui pekerjaan inilah, bukan saja saya bisa hidup, tetapi, disitulah ruh perusahaan ada.

Saya jawab. Itulah aku 17 tahun yang lalu. Aku merasa bahwa waktu 24 jam tidak cukup untuk bekerja. Coba kalau anda mau mencoba lomba  dengan saya dalam sisa-sisa tipologi aku di masa lalu. Misalnya, dalam soal balap mobil meski di jalan yang terjal dan berliku, serta padat. Aku pasti masih bisa mengalahkan dirimu. Aku mampu membawa mobil pick up Cirebon-Tasikmalaya dalam waktu tidak lebih dari 105 menit.

Akhirnya Aku Sadar

Tetapi, saat ini, aku mulai sadar. Misalnya, dalam satu moment, kita tidak mungkin dapat menyelesaikan dua atau lebih pemikiran, tentu apalagi jika itu bersipat pekerjaan. Aku tak lagi memburu waktu. Kini, justru waktu mengejarku. Aku sendiri senang saja. Aku biarkan semuanya. Tergantung aku sendiri.

Waaah, itu dialektika. Waktu yang mengejar kita atau kita yang mengejar waktu, sama saja! Dia kembali berkomentar. Saya jawab, oooh beda. Bedanya, terletak pada filosofi hidup. Misalnya, pemilik waktu itu adalah Sang Pembuat Waktu, yakni Tuhan. Jadi dikejar atau tidak dikejar, dia akan tetap mengejar. Sementara itu, pikiran dan perbuatanku adalah tindakanku. Jadi, aku yang mengatur diriku atas tekanan waktu yang kumiliki.

Ia balik bertanya, apa benar begitu. Bukankah dirimu dikenal memiliki banyak atau paling tidak lebih dari satu profesi, dan dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Anda dikenal sebagai seorang akademisi, pengusaha dan sekaligus jurnalis. Dalam satu bidang saja, tentu cabang-cabangnya banyak. Jika profesi saja tiga jenis, bagaimana dengan cabang-cabangnya yang terdapat dalam tiga bidang. Tentu akan lebih banyak.

Saya jawab, itu iya. Tetapi, kalau ditanya apa resepnya, itulah hasil dari slowdown to speed up yang saya percayai. Aku merasa telah melakukan ruang percepatan baru dengan cara melakukan penelambatan akan seluruh beban hidup yang dipikul. Nggak percaya! Yu kita diskusi.

Ah, tolong yang serius, pinta dia. Saya katakan, iya. Itu serius. Keseriusan itu, kata saya, kadang tidak selalu dapat dibangun dengan cara yang serius. Beban yang dipikul kita terlalu berat. Beban itu, tentu akan terasa lebih berat lagi jika ditambah dengan sikap yang terlalu serius dalam menghadapi masalah.

Jika situasi seperti itu terus terjadi, maka, kita tidak mungkin memperoleh hasil yang optimal atau hasil yang lebih baik. Cobalah memulai! By. Prof. Cecep Sumarna –bersambung ke Judul belajar menjadi “pemalas”

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar