Inspirasi Tanpa Batas

Keteladanan Model Efektif Transformasi Keagamaan

0 34

Keteladanan Model Efektif Transformasi Keagamaan. Pendekatan keteladanan adalah menjadikan figur guru agama dan non agama dan seluruh warga sekolah sebagai cerminan manusia yang mempunyai sikap keberaagamaan. Keteladanan dalam pendidikan sangat urgen dan lebih efektif, dalam usaha pembentukan sikap kebergamaan, peserta didik lebih mudah memahami atau mengerti bila ada  seeorang yang dapat ditirunya.

Keteladanan menjadi media yang sangat strategis bagi optimalnya pembentukan jiwa keberagamaan  seseorang. Keteladanan pendidik terhadap peserta didik merupakan kunci keberhasilan dalam mempersiapkan dan membentuk moral spiritual dan sosial anak.

Soal keteladanan, Zakiah Darajat (1982) mengemukakan: “Hendaknya setiap pendidik menyadari bahwa pembinaan pribadi anak sangat diperlukan pembiasaan pembiasandan latihan-latihan yang cocok dan sesuai dengan perkembangan jiwanya. Karena pembiasaan dan latihan  tersebut akan membentuk sikap tertentu pada anak yang lambat laun sikap itu akanbertambah jelas dan kuat, karena telah masuk menjadi bagian dari pribadinya.

Pendidikan agama Islam adalah bimbingan jasmani rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya sikap menurut kaidah-kaidah Islam. Dari pengertian ini nampaknya ada dua dimensi yang akan diwujudkannya, yaitu dimensi transendental (ukhrawi) dan dimensi yang bersifat profan (duniawi). Dimensi transendental yakni ketaqwaan, keimanan dan keikhlasan. Sedangkan dimensi duniawi melalui nilai-nilai material sebagai sarananya, seperti pengetahuan, kecerdasan, ketrampilan dan sebagainya.

Pendidikan Agama Pembentukan Kesalehan

Dengan demikian, pendidikan agama adalah upaya religiosisasi perilaku dalam proses bimbingan melalui dimensi transendental dan duniawi menuju terbentuknya kesalehan individual dan sosial. Hal ini sebagaimana secara gamblang ditegaskan oleh Zakiah Darajat, bahwa tujuan pendidikan agama secara normatif adalah menciptakan sistem makna untuk mengarahkan perilaku kesalehan dalam manusia dalam kehidupannya.

Oleh karena itu, pendidikan agama harus mampu memenuhi kebutuhan dasar, yaitu kebutuhan memenuhi tujuan agama yakni memberikan kontribusi terhadap terwujudnya kehidupan keberagamaan.(Lihat YB. Mangunwijaya, 1986)

Jika ditelusuri berdasarkan pengertian kebahasaan antara agama dan keberagamaan memiliki makna yang berbeda. Agama lebih menitikberatkan pada kelembagaan yang mengatur tata cara penyembahan manusia kepada penciptanya dan mengarah pada aspek kuantitas, sedangkan keberagamaan lebih menekankan pada kualitas manusia beragama.

Agama dan sikap keberagamaan merupakan kesatuan yang saling mendukung dan melengkapi, karena keduanya merupakan konsekuensi logis kehidupan manusia yang diibaratkan selalu mempunyai dua kutub, yaitu kutub pribadi dan kebersamaannya di tengah masyarakat. Penjelasan ini tidak jauh berbeda dengan yang dikemukakan Glock dan Stark (1965) yang memahami keberagamaan sebagai suatu kepercayaan terhadap ajaran-ajaran agama tertentu dan dampak dari ajaran itu dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Sikap keberagamaan dimaksudkan sebagai pembuka jalan agar kehidupan orang beragama menjadi semakin intens. Semakin orang religius, hidup orang itu semakin nyata atau semakin sadar terhadap kehidupannya sendiri. Bagi orang beragama, intensitas itu tidak bisa dipisahkan dari keberhasilannya untuk membuka diri terus menerus terhadap pusat kehidupan. Inilah yang disebut keberagamaan sebagai inti kualitas hidup manusia, karena ia adalah dimensi yang berada dalam lubuk hati dan getaran murni pribadi.

Keberagamaan dan Agama

Keberagamaan sama pentingnya dengan ajaran agama, bahkan keberagamaan lebih dari sekedar memeluk ajaran agama, keberagamaan mencakup seluruh hubungan dan konsekuensi, yaitu antara manusia dengan penciptanya dan dengan sesamanya di dalam kehidupan sehari-hari.

Secara operasional sikap keberagamaan didefinisikan sebagai praktik hidup berdasarkan ajaran agamanya, tanggapan atau bentuk perlakuan terhadap agama yang diyakini dan dianutnya serta dijadikannya sebagai pandangan hidup dalam kehidupan. Keberagamaan dalam bentuknya dapat dinilai dari bagaimana sikap seseorang dalam melaksanakan perintah agamanya dan menjauhi larangan agamanya. Dengan pemaknaan tersebut, keberagamaan bisa dipahami sebagai potensi diri seseorang yang membuatnya mampu menghadirkan wajah agama dengan tampilan insan religius yang humanis.

Meminjam konsep Abu Hanifah (1958), keberagamaan harus merupakan kesatuan utuh antara iman dengan Islam. Artinya, keberagamaan jika diamati dari sisi internal adalah iman dan dari sisi eksternalnya adalah Islam. Sebagai suatu fenomena sosial, rumusan ini sejalan dengan pendapat Joachim Wach, bahwa pengalaman beragama terdiri atas respons terhadap ajaran dalam bentuk pikiran, perbuatan serta pengungkapannya dalam kehidupan kelompok. By. Dr. Ety Tisnawati, MA

 

Komentar
Memuat...