Ketuhanan Versus Kemanusiaan | Novel Filsafat Part – 3

12 67

Ketuhanan Versus Kemanusiaan. Mereka yang mengaku diri sebagai penjaga Dewa, seharusnya lebih humanis. Tidak mungkin ada pengikut dan penyembah Dewa, tetapi perilakunya jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Humanisme adalah manifestasi emanasi [pancaran] Ketuhanan. Jadi tidak mungkin ada manusia yang mengakui eksistensi Dewa, bahkan pengakuan pada-Nya dalam ketunggalan, sementara perilakunya sangat tidak humanis. Tidak mungkin ada manusia yang menyembah Dewa berperilaku jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Ya itu konsepnya kata Leuxiphos.

Tetapi mengapa dalam fakta ada kesan, semakin tinggi tingkat keberimanan pada Dewa, malah dia menampilkan gejala yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.  Atau mereka dituduh menistakan niali-nilai kemanusiaan. Mereka dianggap sebagai nyamuk yang mengisap darah mereka yang lemah. Apa mungkin mereka salah menyembah Dewa. Atau, jangan-jangan Dewa yang mereka sembah, bukan pada Dewa yang sesungguhnya Dewa.

Bukankah ajaran atau ritus yang diturunkan Dewa, melalui para kekasih-Nya, sesungguhnya bertujuan untuk membangun citra kemanusiaan. Membangun harmoni dan meletakkan segala dinamika kemanusiaan, pada jati diri kemanusiaan itu sendiri. Leuxiphos kembali menggelengkan kepala. Ia menjawab sendiri ya dan pasti!

Dalam makna sebaliknya, Leuxiphos juga heran mengapa mereka yang disebut sebagai “gerombolan Ati Dewa” dianggap sebagai pejuang kemanusiaan. Mereka bahkan digelari sebagai peletak prinsip-prinsip dasar universal dalam apa yang disebut dengan Hak Azasi Manusia. Mereka dianggap pegiat-pegiat yang taat karena dianggap menghabiskan seluruh waktunya, untuk kepentingan kemanusiaan. Termasuk mereka sanggup, demi kemanusiaan itu, ditimbun dalam lelehan timah panas.

Bagaimana mungkin mereka yang menyatakan diri anti Dewa, lantas dia menyatakan atau dinyatakan sebagai pembela kemanusiaan. Tetapi itu fakta! Bathin Leuxiphos menjawab sendiri pertanyaan. Karena itu mereka menyebut diri sebagai pembela kaum ploretariat meski sangat dan sangat jauh dari pembelaan kemanusiaan yang sesungguhnya. Apa mungkin benar, para “gerombolan Anti Dewa” itu, adalah mereka yang patut digelari sebagai pembela kemanusiaa. Kali ini Luxiphos kembali menggelengkan kepala, tidak dan pasti tidak!

Nalar Ketuhanan adalah Nalar Kemanusiaan

Ketuhanan tidak mungkin diversuskan dengan nilai kemanusiaan. Kemanusiaan adalah ekspresi dari sipat tertinggi ketuhanan yakni pengasih dan penyayang. Karena itu, dalam anggapan Leuxiphos, teori kemanusiaan “Anti Dewa” sebenarnya adalah teori kekuasaan. Mereka adalah kumpulan manusia yang sadar, bahwa lapisan sosial terbesar, berada pada kategori mereka yang disebut lemah. Karena itu, jika ada orang yang memiliki kesanggupan untuk mengumpulkan mereka yang disebut lemah, atau mereka dianggap membela yang lemah, maka, ia akan menempati posisi puncak kekuasaan. Heeem apa mungkin begitu? Tanya Leuxiphos kepada dirinya sendiri.

Leuxiphos menerawang ke alam yang jauh lebih paradoksal, Menurutnya, teori para “anti Dewa” akan upayanya untuk membangun citra kemanusiaan yang sama rata dan sama rasa, adalah gagasan uthopis. Mengapa? Sebab menurutnya, gagasan itu bukan saja sangat sulit diimplementasikan, tetapi belum ada negara dimanapun yang berhasil memakmurkan negerinya dengan teori seperti ini.

Ach mengapa aku sejauh ini. Mengapa aku menjadi kritikus. Apakah mungkin manusia yang secara faktual, satu sama lain berbeda, coba disatukan dalam satu posisi dalam apa yang disebut dengan sama rata sama rasa. Bukankah ini menjadi dealektika baru. Dan sesungguhnya, kondisi dimaksud telah menyebabkan di satu sisi adanya harapan keadilan, namun di sisi lainnya, justru malah melahirkan ketidakadilan baru. Mereka malah tumbuh menjadi satu komunitas yang meletakkan kemiskinan sebagai garda perjuangan atas kekuasaan yang ingin diraihnya.  By. Prof. Cecep Sumarna –bersambung.

  1. Safa amaliatus sa'adah berkata

    Prof cs. Menurut saya safa amaliatus sa’adah ketuhanan versi kemananusiaan, dua hal ini saling berkaitan bukankah dalam al-qur’an tertulis “Tidak aku ciptakan manusia dan jin agar mereka menyembah dan tuhan itu maha pengasih semakin tingkat keimanannya tinggi pada dewa malah dia menampilkan gejala yang jauh dari nilai nilai kemanusiaan memang kadang ada spt itu cobaannya semakin tinggi iman makn kita semakin di uji oleh dewa cobaan yang tinggi pula. Apakah seorangitu kuat atau tdk jika tdk kuat maka bs jadi nilai moral dlm hal kemanusiaan bisa hilang, contoh seseorang yg Mengaku dia dekat dengan tuhan imannya tinggi.sering merendahkan org lain, yaitu mereka yang pnya tinggi iman bukan dari hati hanya tinggi iman dari ucapan. Nilai ketuhanan bukan hanya kita beribadah kepada dewa, (tuhan) berbuat hal baik (positif) kepada orang lain saja kita mengamalkan nilai ketuhanan ibadah kpd dewa di tentukan waktu-waktu tertentu sedangkan berbuat baik kapan aja dan dimna saja, ide dewa agama, kepercayaan pada dewa atau tuhan adalah alat penindasan lahir bukan dari watak agama itu sendiri, tapi karena banyak pemuka agama menyalagunakan agama untuk tujuan duniawi spt harta dan kekuasaan dialetika yang di bangun leuxiphoxs yang selalu melihat agama dngan begitu adalah anti kemanusiaan dan orang yg anti agama justru berpeluang lbh humanis dan propemerataan kesejahteraan adalah cara pandang yg murni di pengaruhi gaya beragama di masa itu…. Agama tak perna di pertentangkan dngan kemanusiaan.

    1. Isah Siti Khodijah T.IPS/A/1 berkata

      Asalamualaikum wr wb.
      Terimakasih atas komentar Anda, tetapi menurut saya arti “Ketuhanan VS Kemanusiaan” adalah, Rasa kemanusiaan harus dimiliki oleh semua orang, baik yang berada di sisi dewa atau yang anti dewa. Karena rasa kemanusiaan ada disetiap hati para insan manusia. Tetapi, perspektif nya seperti ini manusia memiliki rasa kemanusiaan tetapi mereka tidak berada di jalan dewa, sedangkan dewa mengajarkan itu menurut agama yang diturunkannya, apa yang terjadi kepada manusia tersebut?, apakah manusia tidak berterimakasih kepada dewa dan ajarannya?
      Kemanusiaan dan Ketuhanaan adalah dua pokok utama yang harus dimiliki oleh insan manusia. Ada slogan ” Sama rata sama rasa”, ya… itu merupakan slogan kemanusiaan, tetapi bukankah yang mengajarkan tentang sifat kemanusiaan itu adalah sebuah ajara dari dewa. Terimakasih. Wasalamualaikum wr wb.

  2. Mariyo Tadris IPS A/1 berkata

    Assalamualaikum wr.wb
    Saya mengapresiasi pendapat saudara Fariz Aldi Dwi Rahmawan, tapi pendapat saya sedikit berbeda dengan saudara fariz Aldi Dwi Rahmawan.
    Menurut saya ada 2 pokok masalah yang dibahas pada Novel Filsafat Part-3 ini yaitu golongan Pengikut dewa dan golongan anti dewa. Dimana 2 golongan ini belum menjadi seorang insan kamil, dimana tidak ad keseimbang antara dunia juga akhirat atau lahir dan batin. Golongan pengikut dewa cenderung menggunahkan kekerasan untuk mempertahankan kekuasaannya. Dan tidak mempedulikan keadaan manusia disekitarnya (hablul minan nas). Sedangkan Golongan anti dewa cenderung menuntut haknya sebagai manusia dan mengabaikan hak tuhan atas dirinya (hablul Minanlaah)
    Pada akhirnya 2 golongan ini cenderung saling mencari pengaruh dan kekuatan untuk berkuasa , persis seperti realita zaman sekarang 😂😂😂

  3. Fariz Aldi Dwi Rahmawan,Tadris Ips A/1 berkata

    Assalamualaikum wr.wb
    Prof Cs.Menurut sya Fariz Aldi Dwi R.
    Ketuhanan Versus Kemanusiaan(Novel part 3) menurut sya.adanya ketuhanan melainkan adanya kekuasaan itu sendiri khususnya pd semua yang hidup/bernyawa u/maupun yg mati. tidak lepas dari Tuhan.melainkan manusia adalah tanda-tanda dari adanya kekuasaan tuhan.pada dasarnya manusia itu sendiri,memiliki rasa pd apa yg diyakini.dalam setiap kekurangan yg ada dalam diri setiap manusia memiliki sisi kelebihan pd apa-apa yg dia miliki.adapun
    dalam setiap adanya perbedaan mewujudkan ke adilan dari Tuhan Yang Maha Esa.manusia melibatkann tuhan dalam setiap tindakan.Because GOD MY EVERYTHING.
    TERIMAKASIH.

  4. Fariz Aldi Dwi Rahmawan Tadris Ips,A/1 berkata

    Assalamualaikum wr.wb
    Prof Cs.Menurut sya Fariz Aldi Dwi R.
    (Novel part 3) pada intinya semua yang hidup Atau maupun yg mati. tidak lepas dari Tuhan.melainkan manusia adalah tanda-tanda dari adanya kekuasaan tuhan.pada dasarnya manusia itu sendiri,memiliki rasa pd apa yg diyakini.dalam setiap perbedaan mewujudkan kelebihan dari tuhan.
    Leuxiphos menerawang ke alam yang jauh lebih paradoksal, Menurutnya, teori para “anti Dewa” akan upayanya untuk membangun citra kemanusiaan yang sama rata dan sama rasa, adalah gagasan uthopis. Mengapa? Sebab menurutnya, gagasan itu bukan saja sangat sulit diimplementasikan, tetapi belum ada negara dimanapun yang berhasil memakmurkan negerinya dengan teori seperti ini.
    Jadi kita.iya kita selaku hamba’_Nya,Berpegang teguh pada keyakinan kita kepada tuhan.dan jauhkan diri dari sisi keburukan Karna’Nya kita ada dan kehendak’Nya lah dinyatakan ada.

    1. Fariz Aldi Dwi Rahmawan Tadris Ips,A/1 berkata

      Assalamualaikum wr.wb
      Prof Cs.Menurut sya Fariz Aldi Dwi R.
      (Novel part 3) pada intinya semua yang hidup Atau maupun yg mati. tidak lepas dari Tuhan.melainkan manusia adalah tanda-tanda dari adanya kekuasaan tuhan.pada dasarnya manusia itu sendiri,memiliki rasa pd apa yg diyakini.dalam setiap perbedaan mewujudkan kelebihan dari tuhan.
      Leuxiphos menerawang ke alam yang jauh lebih paradoksal, Menurutnya, teori para “anti Dewa” akan upayanya untuk membangun citra kemanusiaan yang sama rata dan sama rasa, adalah gagasan uthopis. Mengapa? Sebab menurutnya, gagasan itu bukan saja sangat sulit diimplementasikan, tetapi belum ada negara dimanapun yang berhasil memakmurkan negerinya dengan teori seperti ini.
      Jadi kita.iya kita selaku hamba’_Nya,Berpegang teguh pada keyakinan kita kepada tuhan.dan jauhkan diri dari sisi keburukan Karna’Nya kita ada dan kehendak’Nya lah dinyatakan ada.

  5. Sopandi berkata

    Pertama, saya ingin bertanya kepada Leuxiphos, apakah kemanusiaan hanya bisa lahir dari mereka yang bertuhan?

    Kedua, sama rata sama rasa sangat bertolak dari keadilan. Bahkan dari nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu dimanapun tempatnya, konsepsi ini tidak akan pernah tercapai. Sangat utopis kalau bersikukuh menerapkan konsep tersebut. Karena itu, kalaupun konsepsi itu dipakai untuk “mengelabui” orang lemah atau proletar, dengan tujuan kekuasaan sebagaimana dimaksud Leuxiphos, merupakan hal yang mustahil diterima. Dan tujuan itu kecil kemungkinan tercapai.

    Adapun penomena yang dikeluhkan Leuxiphos tentang mereka yang taat Dewa tetapi tidak berdampak pada nilai-nilai kemanusiaan, saya sepakat, ada yang keliru dalam bertuhan atau memilih Dewa.

    1. imronasofi
      imronasofi berkata

      Setahu saya manusia diciptakan oleh Tuhan, apapun Tuhannya dan apapun keyakinannya. Jika manusia lahir dari yang tidak bertuhan, maka sesungguhnya itu hanya keyakinan manusia itu saja. dan yang sebenarnya hanya tuhanlah yang maha pencipta.

  6. Uswatun hasanah berkata

    Assalu’alaikum maaf ganggu kesibukan/istirahat pa prof saya uswatun hasanah, menerut saya novel filsafat yang berjudul ketuhanan versus kemanusiaan sangat mantaaaaap karna mengingatkan manusia yang ada karna ada yang menciptakan dan kita sebagai manusia itu harus bersosialisasi dengan sesama manusia baik yang lemah maupun yang kuat hidup itu tdak bisa hanya sendiri kita pasti membutuhkan teman di dunia ini

  7. Uswatun hasanah berkata

    Assalamu’alaikum mf ganggu kesibukan pa prof sya uswatun hasanah saya mau menanggapi novel part 3 menuru saya novel filsafat yang berjudul ketuhanan versus kemanusiaan yang saya baca itu.intinya bahwa Leuxiphos itu tidak percaya kalau ada manusia yang berdiri sendiri pasti ada yang menciptakan,hanya saja segerombolan manusia yang dinamakan “anti dewa “itu tidak menyadarinya,munkin hanya itu yang bisa saya tangkap dari novel itu mhon mf klw ada kekurangan,terimakasih wassalam

  8. Ufi Satriyanto berkata

    Didalam Novel Filsafat (Part-3) ini, garis besar pembahasan yang bisa saya tangkap adalah,
    Inti dari ber-Tuhan adalah untuk menjadikan menusia lebih humanis.
    mendekatkan diri kepada Tuhan, adalah juga harus melatih diri untuk lebih peka terhadap permasalahan sosial kemanusiaan.
    karena sesungguhnya, manusia dan semua mahluk yang ada di dunia, tidak lain adalah merupakan menifestasi dari wujud-NYA / eksistensi Tuhan.
    Jika seseorang selalu larut dalam kesibukannya beribadah “Secara Formal”, dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan, namun kemudian dia abai akan keadaan dan lingkungan sosial masyarakat disekitarnya, maka secara hakikat, orang tersebut telah menjauhkan diri dari Tuhan.

    1. Ali Alamsyah
      Ali Alamsyah berkata

      Hemmm mantaplah ini.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.