Ketuhanan Versus Kemanusiaan | Novel Filsafat Part – 3

Ketuhanan Versus Kemanusiaan Novel Filsafat Part 3
0 95

Ketuhanan Versus Kemanusiaan. Mereka yang mengaku diri sebagai penjaga Dewa, seharusnya lebih humanis. Tidak mungkin ada pengikut dan penyembah Dewa, tetapi perilakunya jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Humanisme adalah manifestasi emanasi [pancaran] Ketuhanan. Jadi tidak mungkin ada manusia yang mengakui eksistensi Dewa, bahkan pengakuan pada-Nya dalam ketunggalan, sementara perilakunya sangat tidak humanis. Tidak mungkin ada manusia yang menyembah Dewa berperilaku jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Ya itu konsepnya kata Leuxiphos.

Tetapi mengapa dalam fakta ada kesan, semakin tinggi tingkat keberimanan pada Dewa, malah dia menampilkan gejala yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.  Atau mereka dituduh menistakan niali-nilai kemanusiaan. Mereka dianggap sebagai nyamuk yang mengisap darah mereka yang lemah. Apa mungkin mereka salah menyembah Dewa. Atau, jangan-jangan Dewa yang mereka sembah, bukan pada Dewa yang sesungguhnya Dewa.

Bukankah ajaran atau ritus yang diturunkan Dewa, melalui para kekasih-Nya, sesungguhnya bertujuan untuk membangun citra kemanusiaan. Membangun harmoni dan meletakkan segala dinamika kemanusiaan, pada jati diri kemanusiaan itu sendiri. Leuxiphos kembali menggelengkan kepala. Ia menjawab sendiri ya dan pasti!

Dalam makna sebaliknya, Leuxiphos juga heran mengapa mereka yang disebut sebagai “gerombolan Ati Dewa” dianggap sebagai pejuang kemanusiaan. Mereka bahkan digelari sebagai peletak prinsip-prinsip dasar universal dalam apa yang disebut dengan Hak Azasi Manusia. Mereka dianggap pegiat-pegiat yang taat karena dianggap menghabiskan seluruh waktunya, untuk kepentingan kemanusiaan. Termasuk mereka sanggup, demi kemanusiaan itu, ditimbun dalam lelehan timah panas.

Bagaimana mungkin mereka yang menyatakan diri anti Dewa, lantas dia menyatakan atau dinyatakan sebagai pembela kemanusiaan. Tetapi itu fakta! Bathin Leuxiphos menjawab sendiri pertanyaan. Karena itu mereka menyebut diri sebagai pembela kaum ploretariat meski sangat dan sangat jauh dari pembelaan kemanusiaan yang sesungguhnya. Apa mungkin benar, para “gerombolan Anti Dewa” itu, adalah mereka yang patut digelari sebagai pembela kemanusiaa. Kali ini Luxiphos kembali menggelengkan kepala, tidak dan pasti tidak!

Nalar Ketuhanan adalah Nalar Kemanusiaan

Ketuhanan tidak mungkin diversuskan dengan nilai kemanusiaan. Kemanusiaan adalah ekspresi dari sipat tertinggi ketuhanan yakni pengasih dan penyayang. Karena itu, dalam anggapan Leuxiphos, teori kemanusiaan “Anti Dewa” sebenarnya adalah teori kekuasaan. Mereka adalah kumpulan manusia yang sadar, bahwa lapisan sosial terbesar, berada pada kategori mereka yang disebut lemah. Karena itu, jika ada orang yang memiliki kesanggupan untuk mengumpulkan mereka yang disebut lemah, atau mereka dianggap membela yang lemah, maka, ia akan menempati posisi puncak kekuasaan. Heeem apa mungkin begitu? Tanya Leuxiphos kepada dirinya sendiri.

Leuxiphos menerawang ke alam yang jauh lebih paradoksal, Menurutnya, teori para “anti Dewa” akan upayanya untuk membangun citra kemanusiaan yang sama rata dan sama rasa, adalah gagasan uthopis. Mengapa? Sebab menurutnya, gagasan itu bukan saja sangat sulit diimplementasikan, tetapi belum ada negara dimanapun yang berhasil memakmurkan negerinya dengan teori seperti ini.

Ach mengapa aku sejauh ini. Mengapa aku menjadi kritikus. Apakah mungkin manusia yang secara faktual, satu sama lain berbeda, coba disatukan dalam satu posisi dalam apa yang disebut dengan sama rata sama rasa. Bukankah ini menjadi dealektika baru. Dan sesungguhnya, kondisi dimaksud telah menyebabkan di satu sisi adanya harapan keadilan, namun di sisi lainnya, justru malah melahirkan ketidakadilan baru. Mereka malah tumbuh menjadi satu komunitas yang meletakkan kemiskinan sebagai garda perjuangan atas kekuasaan yang ingin diraihnya.  By. Prof. Cecep Sumarna –bersambung.

Komentar
Memuat...