Take a fresh look at your lifestyle.

Kisah dan Sejarah dalam Tafsir Temporer

0 35

Kisah dan Sejarah dalam Tafsir Diametrik. Mayoritas ulama atau cendekiawan muslim, salaf maupun khalaf, menyebut bahwa al-Qur’an adalah kalam yang qadim. Muhammad Shahrur (2004: 221-222), dalam al-Kitab wa al-Qur’an: Qira’ah Mu’asharah. disebutkan bahwa al-Qur’an adalah peristiwa. Karena ia merupakan peristiwa maka ia al-hadits. Al Qur’an diturunkan dari suatu wujud yang qadim dalam peristiwa-peristiwa sosial masyarakat yang pasti tidak qadim. Tulisan ini menjadi ringkasan atas perpektif kisah dan sejarah dalam tafsir diametrik al Qur’an

Secara bahasa, al-Qur’an berasal dari kata qarana [himpunan]. Dalam pengertian ini, dapat diterjemahkan sebagai himpunan hukum alam baik pada alam itu sendiri maupun pada peristiwa kemanusiaan. Pola relasi ini, alam bersama dengan hukum alamnya, mencakup pada apa yang sudah terjadi (sejarah) maupun sedang dan akan terjadi.

Hukum Alam

Hukum alam ini berlaku mutlak dan eksklusif (pasti dan tertutup) setelah peristiwa sejarah tersebut terjadi, bukan sebelumnya. Al-Qur’an menghimpun antara hukum alam yang mengatur antara peristiwa alam dan hukum alam yang mengatur peristiwa sejarah.

Mencermati makna kisah, Allah dalam al Qur’an surat Yusuf [12]: 1-3 telah memaparkannya dalam bentuk kalimat:  alif lâm râ, tilka âyat al-kitâb al-mubîn, inna anzaln âhu qur’ ânan arabiyan la’allakum ta’qilûn. Nahnu Naqussu alaika ahsana al qashash bima awhayna ila al Kitaba wa in kunta min Qablihi lamin al-ghâfilîn. Dalam pendekatan nahwu, di awal surat sebagaimana peneliti tulis tadi, terdapat kata petunjuk (ism isyarah) yang menjelaskan kandungan-kandungan ayat dalam surat ini, yaitu dengan redaksi tilka ayat al-kitab al-mubin.

Setelah itu Allah menyebut al-Qur’an setelah penyebutan al-kitab al-mubin. Allah juga mempertautkan kisah-kisah dengan wahyu al-Qur’an: bima auhaina ilaika hadza al-Qur’an. Kata bima di sini memuat pengertian bi alladzi (dengan apa yang telah disebut sebelumnya). Untuk memperkuat bahwa kisah-kisah itu sebagai bagian dari al-Qur’an, Allah berfirman: wain kunta min qablihi lamin al-ghâfilin.

Kata ganti ‘ha’ dalam ayat ini kembali kepada al-Qur’an. Pengertiannya adalah bahwa Nabi, sebelum al-Qur’an diwahyukan, beliau lupa atau lengah (ghâfil) terhadap hukum alam dan pada realitas serta hukum alam dari setiap peristiwa sejarah sekaligus.

Konsep Pengetahuan

Setiap pengetahuan –termasuk dalam soal kisah atau sejarah ini– memiliki subjek dan objek sekaligus. Secara umum, subjek dituntut berperan, guna memahami objek. Namun pengalaman ilmiah menunjukkan tidak selalu demikian. Terkadang suatu objek lebih dulu memperkenallkan dirinya kepada subjek tanpa usaha subjek. Komet Halley, memasuki cakrawala, hanya sejenak setiap 76 tahun.

Dalam kasus ini, walaupun peran astronom menyiapkan diri dan alat-alatnya untuk mengamati dan mengenalnya, tetapi sesungguhnya yang lebih berperan adalah kehadiran komet itu sendiri untuk memperkenalkan dirinya dan baru kemudian dianalisis oleh subjek yang konsen dengan dunia ilmu (M. Quraish Shihab, 1996: 7).

Transformasi Ilmuminasi (2008: 4-7), karya peneliti sendiri pernah menuliskan bahwa ilmuan setingkat Galileogalilei yang dianggap kaum agamawan (khususnya kaum Katholik) sebagai anti Tuhan sekalipun, tidak menyembunyikan satu sikap yang menyatakan bahwa, bintang dan seluruh jagat raya, tidak mungkin bergerak secara ritmik dan teratur, jika tidak ada yang menjadi penggerak utama.

Iapun mengakui kehadiran Tuhan dalam seluruh fenomena alam dan kemanusiaan. Bagaiamana dua peristiwa ini dikaji. Untuk mengeahui lebih jauh soal kisah dan sejarah dalam tafsir al Qur’an silahkan baca hasil penelitian saya pada judul Tafsir Hermeneutik atas peristiwa al Qur’an. –Prof. Dr. H. Cecep Sumarna–

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar