Inspirasi Tanpa Batas

Kita dan Sepenggal Cerita “Senja di Perpustakaan”

0 99

Sebelum baca ini, alangkah baiknya para reader membaca terlebih dahulu cerpen yang berjudul “Senja di Perpustakaan” pasti bakal nyambung banget. Oke, selamat membaca!

“Aku suka pojok ini, Pandu”.  Aku tersenyum sembari menatap Pandu

“Tempat ini telah membesarkan  dan membuat kita sukses”. Timpalku

Aku bercerita penuh semangat, tanpa jeda dan tidak memberi kesempatan ngomong buat Pandu. Pandu mendengarkan celotehku dengan seksama. Sepulang dari Cambridge, tempat yang pertama Pandu kunjungi adalah rumahku dan Perpustakaan. Pandu bilang ingin menghabiskan senja bersamaku di perpustakaan. Setelah satu tahun berlalu dan tak pernah bertemu.

“Aku juga rindu sekali dengan tempat ini, Arun”. Rindu orang yang suka membaca buku di pojok ini”. Pandu nyengir, matanya berkedip nakal

“Maafkan aku. Dua bulan ini aku tidak menghubungimu. Keadaanku sangat sulit waktu itu. Kegiatan padat disana membuatku saaaangat sibuk”. Pandu memohon, matanya focus ke arahku.

“Tidak apa-apa. ngerti ko, kesibukanmu disana, Pandu. Aku juga sibuk di sini”. Jawabku, berusaha menyembunyikan kesedihanku

“Lagian, aku senang jika kamu sibuk disana. Mungkin kamu lagi benar-benar focus mengejar mimpimu, Pandu”. meyakinkan Pandu dengan bahasaku.

Aku memaklumi segala kesibukannya. Meski beberapa bulan dia tidak pernah menghubungiku. Meski dia pernah membuatku sangat khawatir. Aku memakluminya. Pandu pasti sangat sibuk dengan kuliahnya. Dengan tugas-tugasnya. Karena bukan hanya aku yang ia pikirkan. Melainkan banyak hal. Dan aku senang jika Pandu sibuk dengan kuliahnya. Itu tandanya dia sedang berusaha meraih mimpinya.

Setelah satu tahun berlalu, aku kini telah lulus kuliah dan bekerja. Bekerja di salah satu majalah ternama di Indonesia, membuatku bangga. Terlebih tugasku di sana menjadi editor. Tapi sesekali aku selalu diminta mengisi tulisan dalam majalah.  Membuatku sangat sibuk dan terkadang lupa dengan hari-hariku. Aku jarang sekali menghubungi Pandu, begitupun Pandu. Tapi hubungan kita tetap baik dan terjaga. Pandu tetap menjadi pria yang jail dan asyik.

Saat aku wisuda, dia mengirimiku karangan bunga dan boneka wisuda berwarna pink tone yang ditangannya mengenggam buku bertuliskan nama dan gelarku, sangat lucu. Aku tahu maksud Pandu kenapa tangan boneka itu menggenggam buku. Karena bagi Pandu, buku adalah kunci. Ia akan membawa manusia mengetahui segalanya. Boneka itu Dia kirim lewat teman dekatnya di kota ini. Bersama sepucuk surat yang sengaja ia kirim dari Cambridge. Ah, pandu memang selalu bisa membuatku senang dan terharu.

Aku memang pernah bilang padanya, bahwa aku suka sekali dengan surat yang ditulis rapi dengan tangan penulisnya. Meskipun terasa sangat jadul, tapi bagiku itu romantis. Kali kedua dia mengirimiku surat yang membuatku terharu. Surat pertama, saat ia mengutarakan perasaannya, rasa simpati dan rasa cintanya untukku. Dia bilang, agar aku terus membaca surat cintanya saat itu.

Dengan buru-buru aku membaca surat kedua dari Pandu. Pandu selalu pandai memberiku kejutan. Dalam suratnya, beberapa peringatan darinya membuatku nyengir tak karuan. Surat dua lembar itu kubaca dengan seksama.

Run…..

Bagaimana kabarmu? Tapi tak usah dijawab, aku sudah tahu kabarmu. Aku tahu, saat ini kamu sedang senang dan tersenyum membaca suratku ini kan? Akupun sama, menulisnya dengan tersenyum sambil melihat senyummu dalam bayanganku. Apa kabar pojok paforit kita? Sudah bertambahkah buku-buku di raknya?

Surat ini sengaja aku tulis dengan tanganku yang serba bisa ini. Demi kamu, Arun. Demi kamu yang suka dengan sepucuk surat. Padahal itu jadul sekali. Surat ini mahal, kamu harus menyimpannya dengan rapi!  J

Run…. Hari ini, saat kau baca surat dariku. Kamu sudah bukan anak-anak lagi. Tanggungjawabmu sudah besar. Mungkin beberapa masalah sudah menunggumu. Tapi kamu harus menjadi wanita tangguh yang kukenal. Aku hanya memberimu satu pesan. Bahagiakanlah mereka yang menyayangimu dengan kualitas yang kau punya. Aku yakin, dimanapun kamu berada, kamu akan menjadi permata bagi mereka.

……………………………………………………………..

Aku rindu hidung pesek kamu, aku akan pulang. Aku pasti pulang. Tunggu aku disana!

Pandu

Isi surat yang Pandu tulis itu membuatku menangis, senang dan bahagia. Pandu adalah orang pertama yang membuatku terus berfikir. Berfikir untuk terus memikirkannya. Memikirkannya adalah hal paling menyenangkan. Tak pernah kutemukan lelaki yang berkomposisi lengkap seperti Pandu. Dia gila, tapi sangat menyenangkan. Kadang pecicilan, tapi sangat dewasa. Puncak PDnya sangat tinggi namun rendah hati. Lelaki yang selalu meredam amarahku, mengingatkanku dan mengajarkan aku bahwa memilih pasangan tidak bisa dilihat dari tampangnya saja.

Aku tak bisa membalas surat Pandu. Terlalu ribet jika harus mengirim surat ke Cambridge. Terlebih aku sangat sibuk dengan pekerjaan baruku sebagai editor. Aku membalasnya lewat email. Lagian Pandu tak ingin merepotkan aku dengan membalas suratnya. Keinginannya sederhana, tak pernah muluk-muluk. Ia hanya perlu aku menjaga perasaannya. Meraih mimpiku dengan baik. Menjadi wanita hebat akan lebih membuatnya bangga. Dia tidak pernah menuntut apapun dariku, meski kadang aku yang selalu manja dan menuntut Pandu agar cepat pulang.

Pandu…..

Kabarku memang baik. Aku masih bisa tertawa dan tersenyum. Terlebih saat kau kirimi aku surat. Aku senang kau sangat peduli terhadapku. Aku bahagia kau rindui aku. Padahal bisa saja kau terpesona dengan gadis pintar nan sexy di sana.  Dan berpaling dariku. Aku hanya gadis biasa, Pandu.

Perpustakaan itu, akupun jarang mengunjunginya. Aku terlalu sibuk sekarang. Tapi terakhir kali kesana, sudah berjejer buku-buku bagus disana. Pihak perpustakaan mendapatkan sumbangan dari Selandia Baru. Buku-buku yang pasti kamu sangat menyukainya. 

Segeralah kau pulang! Aku rindu kita duduk bersama menunggu senja di perpustakaan paforit kita. Semoga Tuhan selalu membersamaimu. Aku akan menunggumu, Pandu.

Aruni

Aku mengklik sent dilayar netbook ku. Mengirimnya jauh-jauh ke negeri orang. Sebenarnya aku minder terhadap Pandu. Dia mahasiswa yang pintar, derajatnya tinggi dan orang tuanya sangat kaya. Jika dibandingkan dengan aku, sangat jauh sekali. Dia mampu kuliah di universitas ternama di dunia. Harvard University yang memiliki peringkat tinggi dalam dunia pendidikan. Masuk ke lima terbesar Universitas terbaik di dunia. Bahkan Pandu pernah ngomong bahwa dia pernah menyaksikan Bill Gates berpidato di sana. Tapi aku tak bisa menolak, bahwa perasaanku hanya untuk Pandu. Pria yang tak pernah luput dari ingatanku.

Aku berharap Pandu segera membalas emailku dengan cepat. Tapi berhari-hari aku menunggunya. Mengecek email satu persatu, tak pernah ada nama Pandu disana. Hingga sudah sebulan Pandu tak pernah membalas emailku. Aku tak tahu bagaimana keadaannya. Mungkinkah ia sakit. Keadaan itu membuatku sangat khawatir dan tidak konsentrasi bekerja. Bosku memarahiku karena tidak benar menjalankan tugasku. Pandu membuatku tidak karuan.

Seseorang mengagetkanku “Kamu kenapa sih Run, melamun terus? Kamu pasti memikirkan Pandu, kan?” Teman dekatku, Rahma membuatku bangun dari lamunan.

“Kenapa Pandu belum membalas emailku? Tak biasanya dia seperti ini, Ma”. Aku mengeluh lemas terhadap Rahma

“Aku tahu kamu pasti sangat khawatir, tapi mungkin Pandu punya alasan tidak membalas emailmu. Dia pasti sibuk di sana.” Rahma berusaha menghiburku

“Jalani saja harimu dengan giat, Run. Pandu pasti senang kau belajar dengan giat, bekerja dengan rajin. Bukannya itu keinginan Pandu?” timpal Rahma.

Air mata pun mulai berlinang, kuseka perlahan sambil mencoba senyum bias pada Rahma, berusaha tak berprasangka buruk terhadap Pandu memang susah. Tapi hati ini meyakinkan diriku bahwa Pandu pasti sangat sibuk di sana. Dia mungkin sedang mengurus penelitiannya. rupanya harus berusaha melupakan Pandu untuk sementara, hingga Pandu membalas emailku atau pulang ke Indonesia. Aku akan menyibukkan diriku dengan pekerjaanku, dengan  teman-temanku.

***

Dua bulan setelah kabar Pandu menghilang, aku telah menghabiskan waktu dengan mengurus beberapa hal dengan baik. Bos memberi penghargaan atas karya-karyaku yang berhasil menarik perhatian di majalah. Penjualan majalah sangat tinggi setelah beberapa tulisanku dipublished. Sebagai editor, aku juga dinilai sangat jeli mengurus tulisan.

Saat itu sangat membahagiakan, terberfikir ingin memberi Pandu kejutan atas prestasiku itu. ahh.. tapi apa daya, Pandu mungkin sudah tidak ingat lagi perihal aku. Perasaan ini mengingatkanku pada Pandu kembali. Terbayang akan semua hal tentang dia. tak menyangka Pandu akan seperti ini, membuatku cemas tanpa memikirkan kecemasanku.

Hari itu aku memutuskan  pulang lebih awal dari kantor.

Setiba di rumah, aku langsung merebahkan tubuh di kasur. tapi ingatan akan Pandu selalu membayangi, mataku rasanya seperti sedang menonton kisah berperan utama aku dan Pandu. Entahlah“memang sulit menghapusmu dari ingatan ini Padu” 

Setelah itu, aku iseng membuka email di laptop, sembari berharap ada email dari Pandu. Kulihat satu persatu. Lama sekali rasanya aku tidak membuka email pribadiku. Selama ini aku selalu disibukkan dengan urusan kantor. Ternyata, di barisan email itu tak pernah ada nama Pandu. Uh… aku kesal.

“Assalamualaikum… tok.. tok.. tok.” Suara pintu terdengar nyaring diketuk. Suara orang yang membaca salam rasanya tidak asing di telinga. Dengan gontai aku terpaksa berjalan menuju ruang tamu. Karena di rumah tidak ada siapa-siapa.

“Wa..alaikum..salam. .” siapa yahh? sambil kubuka pintu. aku terbata menjawab salam setelah kutahu seorang Pria berambut tipis, hidungnya mancung dan berkaca mata ada di depan pintu rumahku. Dia tersenyum penuh ramah, dipegangnya puket bunga  mawar putih di tangannya.

“Pandu? Ini benar Pandu?” aku kaget setengah mati mendapati Pandu di depan mataku.

Pandu mengangguk sambil nyengir tanpa dosa “Iya, Arun. Ini Pandu yang ganteng, si pacar kamu itu”. Pandu menyerahkan puket bunga mawar putih itu padaku.

Air mata berlinang, tak mampu ku tahan, tak percaya Pandu ada di depan mata. Sungguh benar-benar sebuah kejutan. Aku ingin marah namun bahagiaku terlalu besar melihat Pandu.

“Maukah kamu pergi ke tempat paforit kita, Arun? Aku rindu mojok sama buku sambil melihat kamu, Arun.” Pandu kembali nyengir

“oke, aku dandan dulu, Pandu. Kamu duduk aja dulu”. Aku mempersilahkan duduk lalu pergi ke kamar buat ganti baju.

“Gak usah dandan, kamu udah cantik kok.” Pandu membuatku gugup

“ahh kamu bisa aja” Jawabku sambil senyum tersimpuh

Tidak lama, aku kembali menghampiri Pandu dan pergi ke perpustakaan kota paforit kita. Tiba disana, kita langsung menuju lantai dua. Petugas disana menyapa kita dengan ramah. Waktu itu, perpustakaan masih buka karena baru pukul empat. Aku dan Pandu masih punya beberapa jam disana. Mereka sudah tahu kita selalu membaca buku bersama setahun lalu. Pandu segera memilih buku yang berbaris sangat rapi.

Saat itu, setelah membaca buku aku bercerita banyak pada Pandu. Perihal kerjaan, kesibukan, prestasi dan kecemasanku selama dua bulan ini terhadap Pandu. Ia mendengarkan ceritaku dengan seksama, dengan tatapan yang sama seperti dulu,. Ia juga bercerita perihal kesulitannya disana. Alasan kenapa ia tak bisa menghubungiku, jadwal kuliah yang padat. Penelitian yang ketat, semuanya ia ceritakan. Kami menghabiskan senja bersama di perpustakaan. Lalu percakapan kami pindah pada sebuah tempat yang indah, dimana lampu kota bisa terlihat begitu menawan. Bintang terlihat begitu terang. Malam itu, aku, Pandu dan sepenggal cerita telah kita lewatkan. Hingga malam berbisik agar aku segera pulang. Aku dan pandu pulang.

Be continue…***Ade Puadah


ade-puadah Tentang Penulis

Penulis adalah mahasiswi IAIN Syeh Nurdjati Cirebon, Kecintaannya Pada sastra tak bisa ia hapus walaupun penulis kini melanjutkan kuliahnya di Jurusan Pendidikan. Lahir di Tasikmalaya 22 Tahun yang lalu, keramahan dan keceriaannya membawa ia dipecaya sahabat-sahabatnya sebagai  sosok pendengar yang baik.

Komentar
Memuat...