Kode Etik Dalam Perspektif Al-Qur’an

0 527

Kode Etik Dalam Perspektif Al-Qur’an – Wahyu yang disampaikan Tuhan lewat Rasul-Nya adalah sebagai petunjuk yang dialamatkan kepada watak manusia. Sanksi (wa’îd) terhadap pelanggaran dan spirit (busyrâ) terhadap kebajikan, akan mendorong manusia untuk berbuat baik dan mempersembahkan yang terbaik. Namun demikian, etika agama tidak dapat dipandang seperti moral biasa,  karena tiap-tiap tindakan sosial yang  dianggap  sama dengan praktek ibadat, tidak dapat dilaksanakan kecuali  sebagai ekspresi dari îmân  yang  bersemayam di dada pelakunya.

Islam menganggap bahwa kewajiban seseorang lebih tinggi daripada haknya. Menegakkan suatu  masyarakat yang  adil dan jujur adalah  salah satu ajaran pokok Islam. Moral tidak untuk membentuk yuridisme yang  kering, karena “niat” menentukan kualitas dari  tiap-tiap tindakan. Kebajikan yang dilaksanakan serta harta yang  diinfakkan, hanyalah merupakan  pengembalian sebagian kecil dari pemberian Tuhan Yang  Maha Pemurah. Kebajikan sosial yang menjadi dasar  tindakan moral seorang muslim, bersifat kolektif dan bukan intra-individual.  Al-Qur’an dan Sunnah Nabi menunjukkan perlunya konsolidasi dan pengeratan  hubungan antar ummat.  Dengan begitu, ide kebijakan universal yang dilontarkan, akan berkembang dan bertambah  meluas ke segala aspek kehidupan. Apakah dengan begitu ummat Islam harus mengendorkan ikatan-ikatan internal individualnya untuk melebihkan diri dalam larutan kemanusiaan?”

Ada dua ajaran pokok yang menghalangi kemungkinan itu. Dua ajaran tersebut adalah; pertama, anjuran yang  selalu diulang-ulang kepada kaum mukminin supaya tetap bersatu dan tidak terpecah belah. Kedua, kewajiban untuk menganjurkan yang baik dan mencegah kejahatan (amar ma’rûf nahi munkar). Di sini  perlu  kita sadari, perbedaan antara “manusia sebagai orang” dan “manusia kolektif”. Meskipun kita harus menyadari juga bahwa dua relativitas  tersebut selalu mempunyai hubungan erat  satu sama lainnya. Kolektivitas adalah aspek manusia, dan masyarakat adalah kelompok yang  terdiri  atas manusia  perorangan.

Saling Bersandar (interdepence)

Dari saling bersandar (interdepence) dan rasa timbal balik antara individu dan sosial, segala yang dilakukan  dari segi kolektivitas akan mempunyai nilai spiritual bagi perorangan. Sebaliknya, tindakan yang dilakukan yang bersifat perorangan, juga mempunyai nilai kolektif. Konsep interdependensi manusia tersebut, akan menjelaskan kepada kita tentang manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, anak Adam, manusia kolektif, dan hubungannya dengan dunia luar.

Seorang mukmin harus berusaha memahami arti kode etik yang terdapat dalam al-Qur’an untuk melakukannya secara sadar. Sehingga  moral Islam berbeda secara fundamental dengan kebajikan-kebajikan lokal yang lain. Banyak ayat-ayat al-Qur’an yang mengarahkan ajakannya  kepada perasaan bawaan manusia tentang yang  baik dan yang  jahat. Untuk mendorong dan menggugah fikiran, perasaan dan kemauan seorang mukmin, al-Qur’an menghidupkan kembali gambaran dan kehidupan orang-orang suci sebelum wahyu sebagai bukti dan contoh.

Kumpulan wahyu yang  komplit  yang harus dipelajari, seorang muslim mencoba memperbaiki kelakuannya, tidak dengan jalan mencari nilai-nilai baru, akan tetapi dengan jalan memikirkan dan mengamati kebajikan-kebajikan tradisional dan mengikuti jejak orang-orang baik yang  mendahului mereka. Dalam hubungan ini, kehidupan Nabi dan sahabatnya merupakan  pendorong  yang  istimewa. Di fihak lain, ayat al-Qur’an melukiskan muslim sebagai “memerintahkan hal-hal yang baik dan melarang hal-hal yang jahat (mungkar)”. Islam menganggap bahwa kehidupan kelompok dan solidaritas manusia, sebagai  hal yang wajar.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.