Take a fresh look at your lifestyle.

Komunikasi Dalam Arsitektur – Pelengkap Kehidupan

0 112

Katanya, arsitektur diharuskan dilihat sebagai suatu bentukan utuh. Yang di dalamnya terjalin gabungan dua aspek. Aspek lingkungan manusia serta lingkungan alam. Mari kita coba bedah lebih dalam kedudukan arsitektur dalam konteks kehidupan. Tentunya pada konteks kehidupan yang selalu berubah. Kenapa? Karena, satu-satunya hal yang paling konsisten dalam kehidupan adalah perubahan itu sendiri kan?

Pada mulanya semua makhluk hidup memenuhi kebutuhannya dengan memanfaatkan lingkungan alam. Pada binatang liar, keberlangsungan hidup sangat tergantung pada alam. Tanpa alam, binatang liar ini tak dapat mendapatkan makananny. Lain hal dengan manusia. Manusia sebagai makhluk yang disebutkan mempunyai intelegensi tinggi dapat hidup tanpa harus selalu bergantung pada alam.

Menurut dongeng manusia primitive mencari makan hanya saat hari sedang terang. Maksudnya adalah siang hari, karena belum adanya alat penerangan malam seperti kita sekarang. Perubahan kondisi alam membuat manusia purba atau primitive ini sadar. Kesadaran adanya hari-hari dimana mereka tidak dapat berburu karena ganasnya cuaca. Kemudian mereka memikirkan tempat untuk menyimpan persediaan makanan dikala alam mulai tak bersahabat.

Kisah sederhana di atas menyiratkan dua hal

– Pertama terkoneksinya komunikasi manusia dengan alam. Alam berbicara pada manusia. Ada terang siang dan juga ada gelapnya malam. Ada panas matahari serta ada dinginnya bulan dan bintang. Ada sejuknya hembusan angin dan ada dinginnya hujan. Yang menjadikan manusia paham akan bahasa alam. Akhirnya Manusia mulai bisa menebak apa kemauan alam.
– Kedua terciptanya obyek buatan manusia, karena desakan hidup. Pada cerita di atas manusia membuat tempat penimbunan makanan untuk persediaan. Manusia butuh tempat menimbun makanan. Manusia juga butuh berkomunikasi dengan alam, agar tempat makananannya cocok dengan sifat alam! Sekaligus manusia juga butuh mengkomunikasikan tempat makanan ini, pada sesama manusia lain! Maksudnya, memberi tahu pada kelompoknya agar tidak keliru mengira tempat ini untuk kegiatan lain.

 

Komunikasi Arsitek Dengan Alam
Komunikasi Arsitek Dengan Alam

Arsitektur diciptakan sebagai jawaban akan kebutuhan ruang bagi kegiatan manusia. Mulai dari kegiatan bersosialiasi yang bersifat umum sampai kegiatan tidur bercinta yang bersifat sangat intim. Manusia mulai membuat ruangan berbeda untuk mengakomodasi kegiatan di atas. Tapi, nanti dulu! Ini hanya berlaku untuk konteks sempit. Yang dimaksud sempit adalah jika arsitektur hanya dianggap sebagai cara pemecahan masalah saja.

Lain soal dengan terciptanya lukisan kuno di dinding gua purba. Obyek ini tercipta, lebih sebagai suatu sarana komunikasi untuk mengekspresikan pikiran manusia. Dinding gua, jadi tempat perlampiasan mereka untuk mengeluarkan pikiran. Komunikasi non-verbal ini dilakukan baik pada sesame manusia, maupun pada kekuatan di luar manusia. Jadi ada lukisan cara mereka bercinta pada saat itu. Tentu beda dengan teknik bercinta yang ada sekarang. Ada juga lukisan tentang kehebatan dewa penguasa alam, ini juga tentu gambar dewa jaman dahulu.

Ada yang bilang bahwa tujuan awal manusia membuat bangunan adalah pemenuhan kebutuhan. Yaitu kebutuhan ruang untuk beraktivitas secara aman dan nyaman. Baru kemudian untuk berkomunikasi. Ada juga yang meyakini justru sebaliknya, manusia harus dapat berkomunikasi dulu dengan sesamanya dan dengan alam. Setelah itu barulah membuat obyek untuk memenuhi kebutuhannya! Tak ada untungnya berdebat tentang hal ini, kan? Maka pendapat berikut ini yang pasti adalah baik arsitektur, lukisan atau puisi, pada awalnya diciptakan manusia sebagai pelengkap kehidupan yang tidak disediakan atau tidak terdapat di alam.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar