Inspirasi Tanpa Batas

Konflik Berkekerasan di Indonesia Menghancurkan Tatanan Kehidupan Bangsa

Konflik berkekerasan mengahancurkan tatanan kehidupan masyarakat secara menyeluruh. Sumber penghidupan hancur, situasi serba tak menentu, dan kemiskinan mengundang masalah-masalah lain.

0 65

Konten Sponsor

Konflik Berkekerasan di Indonesia – Dalam huruf Cina, kata “konflik” berarti bahaya dan kesempatan. Konflik memiliki dua sisi, yang negatif (bahaya) dan yang positif (kesempatan). Dilihat dari sisi positif konflik merupakan ambang menuju kesadaran yang baru, fase kehidupan yang baru, masuk dalam pertumbuhan kepribadian yang lebih sehat dan sejahtera.

Dalam perubahan sosial, politik dan ekonomi, konflik menjadi potensial untuk hadir. Jika masyarakat mampu mengelola konflik dengan bijak maka konflik negative itu bisa dirubah menjasi konflik yang positif yang nantinya akan lahir sejumlah kesempatan memasuki era kehidupan yang positif.

Namun lebih sering konflik ditanggapi secara negatif : dilihat penuh prasangka, menakutkan, berbahaya, dan menghancurkan. Karena konflik dinilai berbahaya, maka individu dan kelompok didalam masyarakat maupun Negara tidak siap menghadapinya, bahkan cenderung menolak untuk mengakuinya.

Pengungkapan konflik menjadi hal yang tabu karena sama halnya dengan membuka aib. Akibatnya, mereka justru mendorong Negara untuk melakukan langkah-langkah yang represif. Dalam situasi demikian, disatu pihak mereka ingin mempertahankan dominasi akan mengambil ancang-ancang untuk memantapkan poisisi diri dengan cara halus, kasar bahkan melalui kekerasan.

Sementara dilain pihak, mereka yang berada dibawah tekanan dan mengalami ketidakadilan pun akan kehilangan kesabaran dan melakukan pembalasan dalam bentuk apapun yang dianggapnya sepadan. Akhirnya implikasinya memang sangat berbahaya dan mengancurkan harmoni kehidupan semua pihak

Ragam Konflik Ber kekerasan di Indonesia

Umumnya para analisis membagi konflik yang terjadi di Indonesia dalam dua, yakni konflik vertical dan konflik horizontal.

  • Konflik vertical ialah konflik yang terjadi akibat dari ketidakpuasan masyarakat terhadap cara-cara pemerintah dalam menangani kesejahteraan, pengamanan dan lain-lain.
  • Konflik berkekerasan juga dapat bersifat horizontal, antar sesame anggota masyarakat. Konflik horizontal terjadi antar anggota kelompok-kelompok didalam masyarakat karena faktor ekonomi, sosial, budaya, politik dan SARA (suku antar golongan, ras dan agama)

Trauma dan Masalah Psikososial

Konflik ber kekerasan di Indonesia mengahancurkan tatanan kehidupan masyarakat secara menyeluruh. Sumber penghidupan hancur, situasi serba tak menentu, dan kemiskinan mengundang masalah-masalah lain.

Banyak lelaki yang terbunuh hilang atau dihilangkan dan sebagian ada yang dijadikan tentara. Bahkan anak-anak dan perempuan pun dijadikan sebagai para militer. Perempuan kehilangan pasangannya.

Suami dan anaknya terbunuh, lari atau sibuk berperang. Perempuan mempunyai beban memikirkan anggota keluarganya agar tetap makan dan hidup. Perempuan rentan mengalami kekerasan, termasuk kekerasan seksual baik dari anggota komunitasnya sendiri maupun dari lawan politik.

Individu dan kelompok mengalami trauma dan beban hidup yang bertubi-tubi. Selain implikasi psikososial yang secara umum tampil, maka perlu disadari bahwa dalam menghadapi pengalam traumatis, daya penyesuaian satu individu dan individu lain adalah berbeda-beda.

Banyak faktor yang mempengaruhinya seperti, gambaran kepribadian umum, dukungan sosial yang diterima, kapasitas berpikir dan menyesuaikan diri, tingkat keparahan, pengalaman traumatik dan lain sebagainya. Sebagian besar korban akan mengalami gejala temporer.

Ada juga korban yang akan mengalami perubahan dalam kepribadian sehingga berkaitan dengan tingkat fungsi dan hubungan dengan lingkungan sekitar. Beberapa orang bahkan tidak bisa menata kembali hidupnya.

Berbicara tentang pemulihan psikososial, maka yang dimaksud adalah pemulihan yang menekankan hubungan yang dinamis anatara dimensi psikologis dan dimensi-dimensi sosial dalam arti luas. Hal yang tidak dapat dilepaskan dalam dimensi sosial ini adalah hal-hal yang terkait dengan aspek ekonomi, budaya, politik dan sebagainya.

Penderitaan dan luka psikologis yang dialami individu dan masyarakat memiliki kaitan erat dengan kondisi sosial yang melingkupinya. Karenanya, penanganan dan usaha-usaha pemulihan juga harus memperhitungkan hubungan yag erat antara dimensi psikologis dan sosial. Pemulihan dan kekuatan ditujukan agar individu maupun kelompok masyarakat dapat meraih kembali fungsi normalnyadalam menjalani hidup.

Sumber : Buku Psikologi Sosial

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar