Konsep Ibadah Pervasive Dan Ibadah Ubiquitous

4 19

Oktober tahun ini memasuki semester kedua saya belajar di UGM, hampir sudah berjalan 7 pertemuan. Ada mata kuliah di semester ini yang menarik untuk diikuti, pervasive computing namanya. Dosennya dari ‘pulau dewata’ bali, pak Wayan. Beliau berbadan besar dengan kacamata dipakainya, tetapi gayanya tidak seperti orang bali yang kebetulan juga ada di kelas saya sebagai mahasiswa, tapi bukan ini yang ingin saya ceritakan.

Saya ingin bercerita tentang mata kuliahnya yang menurut saya menarik jika ditarik ke dalam konsep ilmu kehidupan, yaitu konsep ibadah sebagai upaya kita menemukan kesejatian hidup dengan terus mencari pertemuan kembali denganNya.

Pervasive dan Ubiquitos Computing

Pervasive computing bukan hal yang baru lagi, tetapi namanya sedang tren saat ini dikarenakan banyak penerapannya yang meluas dalam konsep “SMART”, seperti Smarthome, Smartrefrigator, Smartshop dan Smartoffice.

Evolusi Computing

Tapi sebelum itu, kita bahas terlebih dahulu evolusi computing di dunia. Pertama, dahulu satu perangkat digunakan oleh banyak orang (one computer many person), ini dinamakan jaman mainframe, jaman ketika dalam satu perusahaan terdapat satu komputer utama yang berukuran besar dan dikelilingi oleh banyak karyawan. Tetapi kondisi satu komputer dikelilingi oleh banyak siswa bukan termasuk jaman ini. Kedua, satu perangkat digunakan oleh satu orang (one computer one person), ini dinamakan personal computer (PC), jamannya komputer desktop atau laptop di rumah-rumah. Ketiga, dan ini yang sedang terjadi dan pasti mayoritas dari kita mengalami, banyak perangkat digunakan oleh satu orang (many computer one person), seperti seseorang mempunyai smartphone, tablet dan laptop pribadi, belum lagi ditambah komputer di kantor, itu saja sudah ada empat, anda begitu bukan?

Pervasive

Kembali ke pervasive, yang artinya adalah “menyatu, melebur”. Maksudnya teknologi komputasi sudah menyatu dan melebur ke dalam hidup manusia. Sehingga keberadaannya bukan lagi sesuatu yang aneh dan spesial, dan menggunakannya pun tidak memerlukan perhatian khusus. Cukup dengan gerakan alami, dengan perintah lisan, dengan gerak bola mata dan gelombang otak bahkan tanpa diperintah pun, pervasive computing sudang bekerja Sedemikian menyatunya bahkan membuat kita tidak sadar bahwa yang kita nikmati, saksikan dan gunakan itu sebenarnya adalah teknologi yang berperan dan dibelakangnya ada proses komputasi yang rumit dan canggih. Apakah smartphone masih sesuatu yang aneh dan keberadaannya masih asing untuk kita? Tentu tidak bukan?

Teknologi dalam pervasive di-embed atau ditanam ke dalam lingkungan, contohnya ketika pengguna smarthome memasuki rumahnya, lampu otomastis menyala tanpa diminta tanpa menekan tombol. Ketika mobil mendekati palang portal parkir, otomatis portal terbuka. Ketika anda ingin menghidupkan SmartTV dan memindahkan channel nonton “Anak Jalanan”, cukup lewat perintah lisan. Anda melihat kondisi cuaca cukup melalui smartphone tanpa tahu ada proses yang rumit dibalik itu, ya seperti ice berg saja.

Sebelum ada pervasive, ada terlebih dahulu istilah ubiquitous, yang berarti “ada dimana-mana”. Yap, komputasi sudah ada dimana-mana, tersebar diberbagai tempat, seperti di kantor, bandara, sekolah, parkir, supermarket, masjid bahkan di dalam tubuh manusia. Keduanya, pervasive dan ubiquitous sedang tren dan menjadi fokus utama peneilitian di bidang komputasi, membawa dunia ke situasi yang canggih dan hybrid.

Ibadah Pervasive dan Ubiquitous

Ketika mempelajari pervasive dan ubiquitous, saya malah teringat akan konsep ibadah yang sering penceramah sampaikan, buku tuliskan dan saya pikirkan. Ibadah bukan sebuah kegiatan ritual belaka, tapi juga sampai pada aplikasi nilai-nilainya. Ibadah tidak hanya di tempat-tempat khusus ibadah seperti masjid, tetapi juga harus dilakukan di kantor, sekolah, gedung dewan, istana, di pasar, dll. Hal inilah yang saya sebut ibadah ubiquitous. Bukankah kita harus bertakwa dimanapun saja berada?

Ibadah juga harus meresap dalam setiap gerak hidup kita, dari mulai gerak otak, gerak nafas dan gerak organ tubuh lainnya. Berpikir kita bernilai ibadah, melihat kita bernilai ibadah, mendengar, nafas, berbicara, menulis dan seluruh gerak tubuh harus bernilai ibadah. Ini yang saya sebut ibadah pervasive. Ibadah sudah bukan lagi barang mewah, yang spesial, yang memerlukan perhatian khusus, tetapi menjadi hal yang biasa dilakukan, sudah meresap menjadi bagian dari hidup.

Ibadah Berafiliasi Dengan Kesolehan

Ibadah berafiliasi dengan kesolehan, dan sekarang anehnya ada istilah soleh sosial dan soleh individual. Istilah itu muncul dari fenomena adanya orang yang rajin ibadahnya, namun perilakunya tidak mencerminkan kerajinannya tersebut, cendrung tertutup dan individualis. Malah ada fenomena orang yang tidak suka beribadah, tetapi perilakunya sangat bermasyarakat dan diterima secara sosial.

Memang tidak bisa digeneralkan karena faktanya banyak yang rajin ibadah dan sosialnya bagus, tetapi fenomena ini cukup mereduksi citra para abid. Penyebab fenomena tersebut? Mengacu kepada konsep tujuh dimensi kesadaran dari Prof. Dr. H. Cecep Sumarna, seorang filsuf kontemporer sekaligus CEO di perusahaan- perusahaan ternama. Mungkin fenomena ini berkaitan dengan kesadaran realitas, sosial dan spiritual.

Penjelasan tujuh dimensi kesadaran manusia bisa dibaca disini 7 Dimensi Untuk Mencapai Manusia Paripurna. Atau berdasarkan hasil diskusi dengan seorang teman dekat, hal ini karena tidak terhubungnya syariat, tarekat, hakikat dan ma’rifat. Sudah banyak saya saksikan fenomena tersebut dan lama mencari penyebabnya. Dan sekarang hipotesisnya bertambah satu: “Ibadahnya tidak pervasive dan ubiquitous”, terima kasih pak Wayan!


sofhian-nm
Sofhian Fazrin

Penulis sedang menempuh magister teknologi informasi di Universitas Gadjah Mada dan bekerja sebagai tenaga kependidikan di STKIP Muhammadiyah Kuningan.
Beredar di dunia maya dengan akun twitter @sofhianfn

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

  1. Mohamad Ayip Anwar berkata

    Mohamad ayip anwar
    1415104064
    T.IPS.B/III

    Dari Ibadah Berafiliasi Dengan Kesolehan , mana yang lebih baik dan yang paling biasa di lakukan oleh seorang individu di masyarakat . ?

  2. Muhamad Farhan berkata

    bagaimana pandangan kita bagi umat islam ketika kita beribadah pada kedua konsep itu??

  3. Hikmah Rokhimah berkata

    Apakah dengan 7 dimensi kesadaran untuk mencapai manusia paripurna dapat mendorong seseorang untuk beribadah secara pervasive dan ubiquitous??

    1. Lanlan Muhria berkata

      Bisa jadi. Sebagai sebuah ikhtiar manusia dalam mencapai derajat kesempurnaan

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.