Konsep Munasabah Antara Surat Al-Fatihah dan Al-Baqarah

0 1.557

Konsep Munasabah Antara Surat Al-Fatihah dan Al-Baqarah : Al-Quran di hadapan pengikutnya, memiliki multi dimensi interaktif, mulai dari dimensi keyakinan, fungsi hingga mistis yang merupakan lintas dimensi rasional. Dimensi dimensi tersebut tidak dinyatakan al-Qur’an secara langsung, akan tetapi merupakan fakta histories yang tidak dapat dinafikan. Dimensi sensual tersebut tidak dirumuskan secara teoritik oleh al-Qur’an itu sendiri secara tersurat. Tetapi muncul sebagai hasil interaktif baik secara kognitif maupun secara intuitif antara pembaca dan teks suci yang dipengaruhi oleh faktor batin dan kemampuan daya komunikatif. Al-Qur’an memiliki nilai batini dan lahiri. Nilai batini hanya dapat ditangkap oleh orang yang memiliki kesucian dan kelapangan jiwa untuk menerima kehadiran petunjuk al-Qur’an dalam jiwanya. Sementara nilai lahir akan didapat oleh orang yang hanya berinteraksi dengan lahirnya saja.

Daya sensualitas al-Qur’an (i’jâz al-Qur’ân) akan terlihat dari berbagai aspek, sesuai dengan kepekaan dan cara pandang pembacanya. Daya sensual ini akan muncul sesuai dengan start awal pembaca dalam memfokuskan bacaannya sesuai dengan kapabilitas dan kapasitas subjektivitas masing masing. Salah satu daya sensual yang direkam dan dipublikasikan oleh para ahli al-Qur’an adalah  korelasi  antar kata dengan kata. Antar ayat dengan ayat dan antar surat dengan surat. Hubungan hubungan yang dipandang memiliki daya sensual dari aspek korelasional tersebut tidak sekadar dilihat dari korelasi pasif.

Daya sensual yang berdasarkan korelasi struktrur, dikenal dengan istilah munâsabah atau ilm al-Munâsabah. Dalam konteks ini munâsabah berasal dari kata ناسب يناسب مناسبة  yang berarti dekat, serupa, mirip, dan rapat. Dalam konteks ini, المناسبة   memiliki sinonim dengan kata المقاربة , yaitu mendekatkannya dan menyesuaikannya. Dengan demikian, munâsabah adalah adanya keserupaan dan kedekatan diantara berbagai ayat, surah, dan kalimat yang mengakibatkan adanya hubungan. Baik secara maknawi maupun redaksi. Hubungan tersebut dapat berbentuk keterkaitan makna antara ayat dan macam-macam hubungan, atau kemestian dalam fikiran (nalar).

Ilmu munâsabah berpangkal dari sebuah asumsi bahwa totalitas al-Qur’an adalah mukjizat. Dari pandangan ini menggiring kepada keyakinan bagi para pembacanya bahwa apa pun yang yang telah tertuang dalam al-Qur’an adalah merupakan kebenaran dan kemapanan yang manusia harus mengejarnya. Artinya ketika kemampuan manusia belum mencapai apa yang direkomendasikan oleh sikap keyakinannya, maka manusia harus mencari argument ilmiah untuk membuktikan keyakinannya.

Salah satu fakta yang ada dalam al-Qur’an yang hadir yang memendam banyak rahasia yang membutuhkan rasionalisasi untuk membuktikan kebenaran bahwa susunan  al-Qur’an yang ada saat ini, bukanlah susunan al-Qur’an ketika turun kepada Nabi. Surat yang diturunkan pada masa periode awal pewahyuan, ternyata tidak serta merta diletakkan pada bab awal mushhaf yang ada saat ini. Demikian juga ayat ayat al-Qur’an yang tertuang dalam kelompok surat tertentu. Tidak mesti turun sebagaimana runtutan ayat yang ada saat ini. Muncul pertanyaan, bagaimana suatu teks dapat dan akan dipahami secara total, padahal teks tersebut turun dalam kurun waktu, kasus dan situasi yang berbeda?

Dari analisis korelatif  diasumsikan bahwa susunan kata, kalimat, ayat dan surat di dalam al-Qur’an telah direncanakan secara taufîqî dan tauqîfî di bawah otoritas kewahyuan. Segala yang ada dalam al-Qur’an tidaklah terjadi secara kebetulan yang kering dari petunjuk dan makna.

Kata al-hudâ  pada ayat ihdinâ al-shirâth al-mustaqîm dalam surat al-Fâtihah memiliki keserasian makna dengan kata al-hudâ   pada ayat hudâ li al-muttaqîn dalam surat al-Baqarah. Hal ini dibuktikan bahwa; 1). Kata “اهْدِنَا” dalam surat al-Fâtihah adalah permohonan petunjuk yang disampaikan oleh pemohon. Sementara kata “الهُدَى”  dalam surat al-Baqarah ayat ke dua, merupakan jawaban dari permohonan. 2). Ketika manusia meminta jalan yang lurus, dijawab oleh Allah bahwa jalan yang lurus yang diminta itu adalah al-kitab yang di dalamnya tidak ada keraguan dan kesalahan.

Kata al-hudâ  pada ayat ihdinâ al-shirâth al-mustaqîm dalam surat al-Fâtihah memiliki hubungan koraelasional kontekstual dengan kata al-hudâ   pada ayat hudâ li al-muttaqîn dalam surat al-Baqarah. Hal ini dibuktikan dengan:

  1. Ayat “اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ” merupakan do’a yang diungkapkan dalam setiap shalat. Do’a ini ketika terkabulkan akan berdampak pada kecukupan rizqi. Ketika orang berada dalam petunjuk,  maka ia termasuk kelompok orang muttaqin. Sementara orang muttaqîn akan dimudahkan rizqi dan jalan hidupnya.
  2. Kata “الهُدَى” dalam surat al-Fâtihah diiringi dengan kata “الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ”. Jalan yang lurus akan cepat dan memberikan jaminan bagi penggunanya untuk sampai tujuan. Sementara kata “الهُدَى”  dalam ayat ke dua surat al-Baqarah diikuti dengan kata “الْمُتَّقِين”. Yaitu orang yang bertaqwa kepada Allah dengan menjaga dirinya dari siksa dan adzab yang akan ditimpakan kepadanya dengan menjauhi segala yang dilarang-Nya dan mengikuti “الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ” yang mampu memberikan jaminan kepada orang yang melaluinya kepada tujuan yang diharapkan.

Surat al-Fâtihah dan surat al-Baqarah memiliki hubungan korelasional secara strukturalis dengan beberapa bukti:

  1. Surat al-Fâtihah berisi tentang prinsip prinsip agama. Kemudian prinsip prinsip tersebut dijelaskan dalam 113 surat yang datang berikutnya. Termasuk salah satunya adalah surat al-Baqarah. Jika dikorelasikan  bahwa surat al-Fâtihah berisi garis- garis pokok agama. Sementara surat al-Baqarah menjelaskan prinsip prinsip yang dikandung oleh surat al-Fâtihah.
  2. Surat al-Baqarah merupakan jawaban dari apa yang ditanya dan diminta oleh muslim dalam dalam do’anya dalam surat al-Fâtihah. Ketika muslim membaca ayat “اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ”, maka kata “الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ” yang diartikan jalan yang lurus, yang diminta dalam surat ini dijawab dalam ayat ke dua dalam surat al-Baqarah yaitu” ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
  3. Ketika surat al-Fâtihah menyebut perjalanan kehidupan tiga kelompok dengan menunjukkan inisialnya yaitu al-mun’im ‘alaihim, al-maghdzûb ‘alaihim dan al-dhâllûn, dijelaskan dalam surat al-Baqarah: 1)   al-mun’im ‘alaihim, dijelaskan al-Baqarah ayat: 5.  2) al-maghdzûb ‘alaihim dijelaskan al-Baqarah ayat: 16, dan  3) al-dhâllûn dijelaskan al-Baqarah  ayat: 90.

Oleh Ahmad Munir

Bahan Bacaan

M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2003)

Murtadha Muthahari, Al-Qur’an Kitab Petunjuk, (Bandung: Mizan, 2002)

Rahmat syafe’i, Pengantar Ilmu Tafsir, (Jakarta: Pustaka Setia, 2002)

M.Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1996)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.