Konsep Munasabah dalam Tafsir

0 308

Konsep Munasabah dalam Tafsir: Dimensi sensualitas al-Qur’an tidak dirumuskan secara teoritik oleh al-Qur’an secara tersurat. Tetapi muncul sebagai hasil interaktif baik secara kognitif maupun intuitif antara pembaca dan teks sesuai dengan start awal pembaca dalam memfokuskan bacaannya. Salah satu daya sensual al-Qur’an adalah munasabah. Dalam konteks ini munasabah berarti dekat, serupa, mirip, dan rapat. Hubungan tersebut dapat berbentuk keterkaitan makna antara ayat dan macam-macam hubungan, atau kemestian dalam fikiran (nalar).

Ilmu munasabah berpangkal dari sebuah asumsi bahwa totalitas al-Qur’an adalah mukjizat. Dari pandangan ini menggiring kepada keyakinan bagi para pembacanya bahwa apa pun yang yang telah tertuang dalam al-Qur’an adalah merupakan kebenaran dan kemapanan yang manusia harus mengejarnya.

Ilmu munasabah berasal dari kata ناسب يناسب مناسبة  yang berarti dekat, serupa, mirip, dan rapat. Dalam konteks ini, المناسبة   memiliki sinonim dengan kata المقاربة , yaitu mendekatkannya dan menyesuaikannya. Dari kata   مناسبة muncul kata النسيب  yang berarti  القريب المتصل  yaitu dekat dan berkaitan. Kata النسيب  juga berarti  الربيط, yakni ikatan, pertalian, hubungan. Quraish Shihab dengan mengutip pendapat al-Suyuthy menyatakan  bahwa munasabah adalah adanya keserupaan dan kedekatan diantara berbagai ayat, surah, dan kalimat yang mengakibatkan adanya hubungan, baik secara maknawi maupun redaksi. Hubungan tersebut dapat berbentuk keterkaitan makna antara ayat dan macam-macam hubungan, atau kemestian dalam fikiran. Secara terminologis, munasabah adalah upaya korelasionalisasi kemiripan-kemiripan yang terdapat pada hal-hal tertentu dalam al-Quran baik kata, kalimat, ayat maupun surat yang menghubungkan uraian antara satu dengan yang lainnya.

Para ulama sepakat bahwa tertib ayat-ayat dalam al-Quran adalah tauqafî, artinya realitas tersebut merupakan penetapan dari rasul. Sementara tertib surah dalam al-Quran masih terjadi perbedaan pendapat, yaitu;

  1. Tertib surat berdasarkan ijtihad para sahabat.
  2. Susunan surat berdasarkan petunjuk Rasulullah (taukifi).
  3. Tertib surat sebagian taukifi dan sebagian ijtihadi.

Adapun  fungsi utama dari al-munasabah   adalah;

  1. Untuk menemukan arti yang tersirat dalam susunan dan urutan kalimat-kalimat, ayat-ayat, dan surah-surah dalam al-Quran.
  2. Untuk menjadikan bagian-bagian dalam al-Quran saling berhubungan sehingga tampak menjadi satu rangkaian yang utuh dan integral.
  3. Ada ayat baru dapat dipahami apabila melihat ayat berikutnya.
  4. Untuk menjawab kritikan orang luar (orientalis) terhadap sistematika al-Quran.

Oleh Ahmad Munir

Bahan Bacaan

Rahmat syafe’i, Pengantar Ilmu Tafsir, (Jakarta: Pustaka Setia, 2002)

Zarkasyî, Al-Imam Badr al-Dun Muhammad bin ‘Abdullah, al-, Al-Burhan fî ‘Ulum al-Qur’an, Beirut: Dar al-Fikr, 2001

Zarqanî,  Muhammad ‘Abd al-‘Adzîm, al-, Manahil al-‘Irfan fî ‘Ulum al-Qur’an, Beirut: Dar al-Fikr, 1988

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.