Konsepsi Ajaran Al-Qur’an dalam Surat Al-Baqarah

0 279

Konsepsi Ajaran Al-Qur’an dalam Surat Al-Baqarah: Surat al-Baqarah memuat berbagai syari’at dan petunjuk kehidupan, baik individu, maupun sosial. Dalam tertib mushhaf, surat al-Baqarah diletakkan setelah surat al-Fâtihah. Namun menurut tertib turun surat, surat ini turun pada urutan ke 87, yang turun setelah surat al-Muthaffifin dan sebelum surat Ali ‘Imran. Setelah al-Qur’an menjelaskan pokok dan miniatur petunjuk yang akan disampaikan kepada ummat manusia melalui surat al-Fatihah, pada awal surat ini al-Qur’an menjelaskan keadaan sikap manusia dalam menghadapi petunjuk yang disampaikan oleh al-Qur’an di dalam surat al-Fatihah yang terbagi menjadi tiga:

Tiga Sikap Manusia dalam Menyikapi Petunjuk dalam Surat Al-Fatihah

  1. Kelompok yang menerima ajakan al-Qur’an. Kelompok ini terdiri dari dua yaitu; 1)Mereka yang percaya terhadap hal hal yang ghaib yang   disertai dengan penegakan dan pelaksanaan syari’at dalam kehidupan. 2) Mereka yang menerima petunjuk al-Qur’an yang disebabkan oleh bacaan terhadap ajaran kitab samawi yang telah mereka ketahui sebelum al-Qur’an.
  2. Kelompok yang menolak. Kelompok ini bukan saja tidak menerima, tetapi berusaha keras untuk menghalangi tawaran ajakan dan seruan al-Qur’an.
  3. Kelompok munafik, yang terdiri dari orang yang tidak memiliki pendirian. Mereka memiliki ambisi, tetapi mereka tidak memiliki kekuatan. Akhirnya mereka bersikap pasip sambil memilih kondisi yang menguntungkan dalam kehidupan yang sesaat yang tidak banyak menanggung resiko.

Ajaran Pokok Surat Al- Baqarah

Surat al-Baqarah salah satu kelompok surat terpanjang di dalam al-Qur’an. Surat ini mengandung pokok- pokok ajaran sebagai berikut:

Pertama:
  • Ajakan kepada seluruh manusia untuk berpegang kepada ajaran Islam yang merupakan penyempurnaan dari ajaran ajaran samawi sebelumnya. Konsepsi ini disampaikan melalui ayat 21-25. Dalam ayat ini, al-Qur’an mengajak kepada manusia yang diarahkan dan difokuskan kepada tiga hal yaitu:
  1. Jangan menyembah tuhan kecuali hanya Allah, sekaligus pengecaman terhadap orang yang mempersekutukan Allah. Ajakan ini disampaikan dalam ayat 21-22.
  2. Mengajak manusia agar mengimani kitab yang diturunkan kepada Muhammad, meskipun mereka sudah pernah memiliki kitab samawi yang telah diturunkan kepadanya. Ajakan ini disampaikan dalam ayat 23.
  3. Peringatan agar manusia menjauhi adzab yang akan diberikan kepada orang yang berbuat salah. Hal ini diungkapkan dalam ayat 24-25.

Ketiga hal tuntutan ini merupakan prinsip aqidah Islam yaitu komitmen terhadap esensi ke-Esaan Alah, komitmen untuk menjalankan petunjuk kitab suci yang diturunkan dan berupaya kuat untuk menjauhkan segala hal yang akan mencelakakaan.

Kedua:
  • Menyeru ummat yang telah memiliki pegangan kitab suci agar meninggalkan kebatilan dan bersedia untuk bergabung dengan konsepsi agama yang benar yang dibawa oleh Muhammad. Tujuan ini dituangkan dalam ayat 40-162.

Tujuan kedua ini disampaikan kepada bani Isra’il agar mereka dapat menerima seruan Muhammad. Seruan kepada bani Isra’il dalam konteks ini dapat dikelompokkan menjadi beberapa fokus, yaitu:

  1. Al-Qur’an menyebut dan menampilkan tokoh shalih kaum Yahudi mulai dari Nabi Musa. Dialog ini diungkapkan oleh ayat: 49-74
  2. Al-Qur’an menceritakan kelompok Yahudi yang menentang nabi yang diutus. Hal ini diungkapkan melalui ayat: 75-121.
  3. Al-Qur’an menyebut kisah Ibrahim sebagai sesepuh orang Islam. Kisah ini disampaikan dalam ayat 122-134.
  4. Al-Qur’an menceritakan kehadiran kelompok Islam ketika masa penurunan risalah. Ini disebut dalam ayat 135 – 162. Dengan demikian, maka telah tersambung antara ajaran yang lama yaitu Yahudi dan ajaran yang datang kemudian yaitu Islam. Al-Qur’an mengalihkan pembicaraan dari hal yang bersifat sindiran menuju pembicaraan yang kokret. Target ini akan dijelaskan melalui tiga langkah yang disebutkan dalam ayat 163-177.
Ketiga:
  • Menjelaskan syari’at agama secara rinci. Konsep ini disampaikan al-Qur’an dalam surat al-Baqarah ayat 178 – 282.

Dalam fase sebelumnya, problem keyakinan telah diselesaikan dengan mengungkapkan berbagai argumen untuk memberi jawaban bagi kelompok yang berusaha untuk membantahnya. Setelah itu, al-Qur’an merincikan syari’at yang dianggap sebagai permata dan bangunan perlindungan bagi keberlangsungan suatu konsep keyakinan.

Tiga Aspek Sabar

Setelah selesai membangun fondasi, baru membangun cabang- cabangnya. Kemudian ayat ini ditutup dengan menyebut sebagian indikator dari konsep birr yang diungkapkan yaitu sabar yang diabagi menjadi tiga aspek:

  1. Kesabaran ketika dalam menghadapi keprustasian. Ini diungkapkan dalam ayat 178 – 179. Dalam konteks ini, kesabaran tidak sekadar menahan serangan yang berbentuk fisik, tetapi kesabaran konteks ini adalah kesabaran untuk mempertahankan moral dan harga diri.
  2. Kesabaran dalam menghadapi penderitaan. Ini diungkapkan dalam ayat 183 – 187. Kesabaran ini lebih serius dari kesabaran pertama. Kesabaran ini tidak sekadar menahan sakit dan bencana, tetapi juga menahan nafsu rakus dan tama’ yang akan memalingkan dari ketaatan kepada Allah.
  3. Kesabaran dalam menghadapi kesempitan yang diungkapkan dalam ayat 179-202. Kesabaran ini tidak sekadar ketahanan dalam menghadapi hal hal yang bersifat emergensi.

Sebelum melangkah pada maksud yang ke empat, al-Qur’an memberikan jeda kepada pikiran untuk menurunkan konsentrentrasi. Ini diungkapkan dalam ayat 204-214. Dalam jeda ini, al-Qur’an merumuskan cara dalam menyampaikan petunjukknya yang bersifat umum melalui tindakan dan syari’at yang konkret yaitu melalui syari’at haji.

Setelah al-Qur’an menjelaskan tipologi orang beribadah melalui contoh konkkret dalam ibadah haji, kemudian menjelaskan petunjuknya yang bersifat umum yang berkaitan dengan kedermawanan dan kepekaan sosial. Dalam konteks ini, manusia terbagi manjadi dua kelompok; pertama kelompok yang tidak menaruh perhatian terhadap kemapanan, kemakmuran dan kemajuan kehidupan bersama. Dan yang kedua kelompok yang sebertolak belakang dengan kelompok pertama.

  • Al-Qur’an membicarakan kedua kelompok yang berselisih dalam paham keagamaan, dengan menetapkan syari’at penyelesaiannya. Hal ini diungkapkan dalam ayat 244. Sebelum ayat ini, al-Qur’an telah menyeelesaikan pedoman kepercayaan dan keyakinan. Dalam paruh kedua ini, al-Qur’an akan menjelaskan masalah kehidupan, setelah menjelaskan masalah hakikat iman dan Islam. Maka yang tinggal adalah praktik sosial atau aksi social yang konkret yang dikenal dengan istilah ihsân.

Oleh Ahmad Munir

Bahan Bacaan

Shihab, M. Quraish,   Tafsir Al-Mishbâh, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’ân, Ciputat, Lentera Hati, 2000.

Ridlâ, Muhammad Rasyîd, Tafsîr al-Qur’ân al-Hakîm, Beirut, Dâr al-Fikr,  tt.

Abdul Qadir ‘Umar ‘Utsman al-Hâmidî, Thawâif al-Nâs Amâm Hidâyah al-Qur’an al-Karîm, (Mesir: Disertasi Univ. Al-Azhar)

Komentar
Memuat...