Konsepsi Ajaran dalam Surat Al-Fatihah

0 112

Konsepsi Ajaran dalam Surat Al-Fatihah: Surat al-Fâtihan mencakup pokok- pokok dasar konsep agama yang terdiri dari beberapa hal yaitu; masalah tauhid, ibadah, kepercayaan kepada hari akhir, konsepsi antara ibadah dan isti’anah serta do’a, konsep permohonan petunjuk kepada jalan yang benar, dengan melalui jalan orang orang yang shalih dan menjauhi jalan orang yang sesat.

Secara struktur, surat al-Fâtihan dibagi menjadi dua bagian yaitu; bagian untuk Tuhan sebagai persembahan dan pujian dari manusia, dan sebagian lain hak hamba atas perkenanan yang dipersembahkan kepada Tuhan. Dalam konteks ini, surat al-Fâtihah mencakup berbagai istilah konsep, di antaranya:

Konsep Rubûbiyyah

Di dalam surat al-Fâtihah terkandung konsep lima istilah yaitu; Allah, al-Rabb, al-rahmân, al-rahîm, dan al-Mâlik. Kelima konsep istilah tersebut masuk dalam sifat ketuhanan. Kata Allah menunjuk pada sumber awal mula penciptaan. Kata al-rabb menunjuk pada pemeliharaan dengan berbagai keistimewaan yang dianugerahkan kepada makhluk. Kata al-rahmân menunjuk pada upaya untuk memahami awal mula penciptaan. Kata al-rahîm menunjuk pemahaman akan ahir perjalanan yang dijanjikan. Sementara kata al-mâlik menunjuk bahwa  Allah  yang berkuasa untuk merubah dan memindahkan dari alam dunia menuju alam pertanggung jawaban di akhirat kelak.

Konsep ‘Ubûdiyyah

Dalam surat al-Fâtihah dijelaskan sifat sifat hamba, yaitu   al-‘ubûdiyyah, dan al-isti’ânah. Maka konsep lima nama Allah dalam surat al-Fâtihan ini yaitu Allah, al-rabb, al-rahmân, al-rahîm, dan al-mâlik, serasi dan berpasangan dengan konsep lima keadaan manusia. Oleh karenanya, ketika manusia mengucap “إِيَّاكَ نَعْبُدُ”, manusia meyakini karena yang disembah itulah Tuhan yang hakiki yaitu Allah. Ketika manusia mengucap “وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ”, manusia berkeyakinan karena Dia yang diminta pertolongan itu adalah rabb. Ketika manusia mengucap “اهدنا الصراط المستقيم”, karena manusia berkeyakinan bahwa yang diminta petunjuk itu adalah Dzat yang memiliki sifat belas kasih. Ketika manusia meminta istiqamah dalam ketaatan, manusia berkeyakinan bahwa Dzat yang diminta itu adalah Dzat yang memiliki sifat ke-rahiman.

Seluruh permintaan ini berjumlah empat. Yang kelima adalah permohonan pengabdian dan ketaatan kepada Allah, baik dalam keadaan senang maupun susah. Jika manusia menyaksikan kesucian nama Allah, maka ia tidak akan meminta sesuatu kepada selain Allah. Jika manusia mendapati kesucian nama rabb, maka ia akan meminta kebaikan surga baginya. Jika manusia mendapati kesucian nama al-rahmân, maka ia akan meminta seluruh kebaikan yang ada di dunia ini. Jika manusia mendapatkan kesucian nama al-rhîm, ia akan meminta agar dilindungi dari hal yang menyengsarakan. Sementara ketika manusia mengucap “مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ”, menunjukkan bahwa manusia akan mengalami proses perpindahan alam dan kehidupan, yaitu dari alam dunia yang fana’ menuju alam yang kekal. Melalui ayat ini Allah memerintahkan manusia agar mempersiapkan hal yang mampu menyelamatkan dan membahagiakan di alam akhir kelak. Persiapan yang akan dipersiapkan itulah yang disebut dalam konsep ibadah.

Oleh Ahmad Munir

Bahan Bacaan

Muhammad ‘Alî al-Shâbûnî, Shafwah al-Tafâsîr, (Damaskus: maktabah al-Ghazâlî, 1986)

Fahr al-Râzî, Al-Tafsîr al-Kabîr, (Teheran: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tt)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.