Take a fresh look at your lifestyle.

Konsepsi Dakwah Di Tengah Derasnya Arus Prularisme

0 30

Konsepsi Dakwah Di Tengah Derasnya Arus Prularisme

DAKWAH — Hampir 15 abad yang lalu, dakwah Islam telah jauh dicetuskan oleh pembawa risalah yaitu Rosulullah SAW. Beliaulah sebagai inspirator konsepsi dakwah yang modern yang mampuh menembus berbagai zaman. Konsep-konsep yang beliau terapkan merupakan landasan yang pantas kita terapkan di masa sekarang. Konsep-konsep itulah yang tak dapat lekang dimakan zaman.

Jauh sebelum beliau menjadi Rosulullah SAW, Nabi-nabi terdahulu telah berdakwah menyampaikan Agama Allah SWT, menyampaikan risalah yang mereka ajarkan kepada umatnya di masa itu.  Tantangan dalam dakwahpun berpariasi sesuai dengan masa dan zaman yang dialami oleh para Nabi. Keberhasilan menyampaikan agama Allah SWT nampak dan tersirat dalam sejarah-sejarah yang ditulis oleh para sejarawan Muslim maupun non Muslim. Keberhasilan dakwah Rasulullah telah diakui oleh dunia internasional, ini terbukti dengan kebesaran Islam dari masa kemasa.

Berdasarkan sejarah di atas, umat Islam seharusnya bangga dan menjadikan motivasi bagi kita untuk memiliki ruhul jihad dalam dakwah Islam. Suritauladan dakwah para Nabi terdahulu bisa menjadikan inspirasi dakwah kita di zaman sekarang. Kebanggan kebesaran Islam di masa jayanya menjadikan kita untuk berfikir lebih dalam meningkatkan dakwah Islam di tengah kompleksitas tantangan penegakan kebenaran Islam.

Konsep Dakwah Rosulullah Saw

Dakwah merupakan satu keharusan bagi umat manusia sebagai kholifatullah fil ard. Manusia dengan kudrot dan irodat Allah SWT telah menjadi pembawa risalah secara langsung bukan dalam kontek manusia special seperti Rosulullah SAW. Dengan ke kholifatullahan itulah manusia diamanati untuk menyampaikan dan menyerukan kebenaran yang datangnya hanya dari Allah SWT. Tapi tidak semua manusia menyadarinya akan hal itu, kebanyakan mereka hanya merasa diciptakan oleh Allah SWT untuk menjadi penghuni Dunia yang sementara, bahkan lebih jauh mereka tidak sadar atas apa tujuan Allah SWT menciptakannya. Mereka lebih cenderung menikmati kehidupan dunia dengan mengikuti hasrat keinginan dan hawa nafsunya, padahal mereka sudah berjanji sejak ditiupkan ruh dalam rahim ibunya. Perjanjian itulah yang akan dipertanggung jawabkan kelak di yaumil akhir.

Kembali kepada manusia sebagai kholifatullah dimana manusia harus mampu memimpin minimal dirinya sendiri, mendakwahi dirinya untuk mengisi kehidupan dengan sunnatullah. Tapi manusia adalah makhluk yang tak sempurna yang masih dibatasi oleh kebenaran dan menempelnya kesalahan. Itu sebuah konsekwensi logis ketika Allah menciptakan manusia, jin dan setan. Ketiga makhluk itu diberikan kebebasan tersendiri sesaui dengan kehidupannnya. Ketika Allah menyerukan Setan untuk bersujud dihadapan Adam, setanpun enggan untuk bersjud bahkan setan meminta kebebasan untuk senantia merayu Adam serta anak cucunya untuk mengikuti kehendaknya agar kelaknanti bisa menemaninya di neraka. Jelas sudah setiap manusia akan digoda dan diajak untuk berbuat kebatilan.

Tugas Manusia akan Bujuk Rayu Setan

Tugas kitalah sebagai makhluk Allah SWT yang harus selalu sadar akan bujuk rayu setan yang menjerumuskan dengan cara ingat dan menyebut asma Allah SWT. Kesadaran itulah yang akan menumbuhkan diri kita untuk menjauhkan diri dari kebatilan. Sebagaimana janji Allah dalam Al-Qur’an.

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang salih dan berkata ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri’” (QS. Fushshilat: 33).

Keteguhan iman dan selalu mendekatkan diri dengan Allah minimal ini merupakan cikal bakal dari dakwah. Kalau umat islam sudah didasari rasa itu dia akan mampu untuk menyampaikan kebenaran kepada yang lainnya. Mereka akan menjadi muslim yang tanggguh/militan dalam menghadapi tantangan dakwah ditengah kompleksitas kehidupan, terlebihlagi heterogenisme kepercayaan terhadap sang pencipta. Ruhul jihad dalam dakwah akan sedikit demi sedikit tertanam dalam diri mereka. Keinginan untuk menegakan kebenaran Agama Allah akan mengalir dalam darahnya.

Sebagaimana dicontohkan oleh Rosulullah SAW yang memiliki jiwa pemberani dalam menegakan kebenaran agama Allah SWT yang telah muncul dari sejak beliau lahir. Sebelum beliau diangkat menjadi Nabi, beliau telah terbiasa untuk senantiasa menegakan kebenaran. Sisi kehidupan yang dikepung oleh kejahiliahan dimasa itu mampuh dihadapi bahkan dirubahnya menjadi masa kejayaan Islam.

Perjalanan Dakwah Rosululloh SAW

Perjalanan panjang dakwahnya menjadi sebuah legenda yang diakui oleh seluruh manusia di muka bumi. Bahkan agama lainpun mengakui keberhasilan dakwahnya. Beliaulah manusia super yang multitalent yang memberikan contoh real dalam kehidupan yang nyata sesui dengan kebenaran yang datangnya dari Allah SWT. Suri tauladan kehidupan beliau pantas diterapkan dalam kehidupan manusia bukan saja di zamannya atau setelah masa kenabiannya tetapi pantas dan tepat untuk diterapkan pada masa sekarang ini.  Allah SWT telah mengangkatnya menjadi Rosul utusa-Nya yang membawa risalah kebenaran yang dijelaskan dalam al-Qur’an yang artinya:

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Q.S. Al-Maidah 15-16).

Penerangan Allah SWT dalam ayat diatas jelas menerangkan kepada kita bahwa Rosulullah SAW yang menjadi utusan-Nya tidak hanya menyampaikan pesan tapi lebih banyak menerapkan pesan-Nya dalam kehidupan beliau. Kehidupnya itulah merupakan bentuk dakwah bilhal bagi pengikutnya.

Gambaran Dakwah Rosululloh SAW

Dalam menyampaikan dakwah, Rosulullah menggunakan beberapa tahap dan tidak secara prontal disesuaikan dengan situasi pada masanya. Dari mulai dakwah sembunyi-sembunyi sampai dakwah terang-terangan. Dan bukan berarti dakwahnya tidak mendapat rintangan. Cacian, cemoohan serta hinaan sering dia dapatkan bahkan ancaman akan keselamatan jiwanyapun kerap datang dari para penentang dakwahnya. Tapi Rosulullah SAW tidak gentar ataupun mundur, beliau terus menerus menyampaikan kebenaran dengan bertahap. Beliau yakin bahwa Allah SWT akan menjaganya.

Gambaran dakwah Rosulullah SAW itulah seharusnya menjadi pemicu bagi kita untuk senantiasa menyampaikan ayat-ayat Allah SWT. Dan seruan-Nya juga “Sampaikanlah walaupun satu ayat”. Menyampaikan kebenaran walaupun hanya satu hal merupakan kewajiban bagi kita. Hanya dengan tujuan karna Allah lah semata, kita jangan pernah berharap atas apa yang telah kita sampaikan, berharaplah atas ridho-Nya.

Dakwah merupakan salah satu penentu tercapainya kebahagian di dunia dan di akhirat. Ini ditegaskan Allah SWT. Dalam firmannya,

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).

Allah SWT telah berjanji, barang siapa yang menyuruh kepada yang ma’ruf (amal baik) dan mencegah yang munkar (larangan Allah) mereka akan mendapat keuntungan yang akan diberikan oleh Allah SWT kelah diakhirat nanti. Jangan sia-siakan janji Allah untuk senantiasa menyeru kepada kebaikan/dakwah. Manfaatkan waktu dan umurkita untuk berbuat baik dan berdawah, sungguh manusia yang rugi apabila masa hidupnya hanya diisi dengan hura-hura hanya menikmati kehidupan dunia tanpa memikirkan bekal kehidupan akhirat yang abadi. ***(Wawan Ahmad Ridwan)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar