Kontribusi Pesantren Dalam Perkembangan Islam di Nusantara

0 489

Kontribusi Pesantren dalam Perkembangan Islam di Nusantara: Secara fisik, pondok pesantren mengalami kemajuan yang cukup fenomenal. Hal ini berkat peningkatan kemajuan umat Islam sehingga sekarang ini tidak sulit mencari pondok-pondok pesantren yang memiliki gedung dan fasilitas lainnya yang cukup megah dan mentereng. Dengan demikian, pondok pesantren tidak lagi diasosiasikan dengan fasilitas fisik seadanya, asrama yang penuh sesak dan tidak higienis.

Pondok pesantren mampu bertahan bukan hanya karena kemampuannya untuk melakukan penguatan ansich pada soal-soal agama. Tetapi, kemampuan lembaga pendidikan ini merespons tuntutan masyarakat. Karena itu, karakter eksistensial Pesantren saat ini, tidak lagi hanya identik dengan makna keIslaman. Tetapi Pesantren juga mengandung makna keaslian Indonesia.

Dari beberapa literatur di atas maka dapat diambil suatu gambaran bahwa tujuan pendidikan di pondok pesantren pada hakikatnya adalah untuk merealisasikan konsep ta’abudiyah seorang hamba kepada Allah dalam kehidupan manusia baik individu maupun golongan dalam setiap cakupan persoalan.

Pesantren Menyiapkan SDM Unggul

Beberapa gambaran di atas juga menunjukkan bahwa pesantren telah banyak memberikan konstrubusi. Khususnya dalam penyediaan tenaga SDM bagi masyarakat Nusantara. Terlebih bagi mereka yang beragama Islam dan kebetulan menjadi penduduk mayoritas di negeri ini. Ia menjadi lembaga pendidikan yang melakukan pencerahan terhadap sumber daya umat Islam di saat berbagai kebijakan negara (baca Kolonial) justru mengasingkan masyarakat Muslim dari dunia Ilmu.

Hasil optimal yang diberikan pesantren, bukan saja telah melahirkan sejumlah ulama yang ahli dalam kajian keislaman, tetapi lebih jauh dari itu adalah umat Islam diberi kesempatan untuk berpartisipasi secara riil dalam konteks  pembangunan bangsa negara  dalam maknanya yang luas.

Pesantren Sebagai Penjaga Akhlak

Di era kemerdekaan, konstribusi pesantren semakin terasa. Lembaga ini menjadi semacam penjaga akhlak masyarakat Indonesia. Dua persoalan ini menjadi kilas balik penting. Sebab di era ini kebutuhan akan nilai universal, kuqus dan mengagungkan nilai ketuhanan hampir telah menjadi kebutuhan bersama. Melalui pesantren, manusia dididik untuk memiliki nilai etik sehingga bermanfaat bagi manusia lainnya.

Salah satu lembaga pendidikan yang berkembang di Indonesia adalah pendidikan pesantren. Pesantren merupakan salah satu jenis pendidikan Islam di Indonesia yang mayoritas masih “bersifat tradisional” untuk mendalami ilmu agama Islam, dan mengamalakannya sebagai pedoman hidup keseharian, atau disebut tafaqquh fiddin, dengan menekankan pentingnya moral dalam hidup bermasyarakat.

Mukti Ali, mengatakan bahwa pesantren  adalah suatu lembaga pendidikan Islam yang didalamnya terdapat seorang kyai (pendidik) yang mengajar dan mendidik para santri (anak didik) dengan sarana Pesantren yang digunakan untuk menyelenggarakan pendidikan tersebut, serta didukung adanya pondok sebagai tempat tinggal para santri.

Ciri- Ciri dan Tujuan Pesantren

Dengan demikian, ciri-ciri pesantren adalah adanya kyai, santri, dan pondok. Menurut Arifin tujuan terbentuknya pesantren adalah sebagai berikut:

  1. Secara umum adalah membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam yang dengan ilmu agamanya ia sanggup menjadi mubaligh Islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmudan amalnya.
  2. Secara khusus, tujuannya adalah mempersiapkan para santri untuk menjadi orang alim dalam ilmu agama yang diajarkan kyai yang bersangkutan serta mengamalkannya dalam masyarakat.

Ciri Khas Sistem Pendidikan Pesantren

Sistem pendidikan yang ditampilkan pesantren sangat berbeda dengan sistem pendidikan pada umumnya. Ciri khas sistem pendidikan pesantren di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Memakai sistem tradisional yang mempunyai kebebasan penuh dibandingkan dengan sekolah modern, sehingga terjadi hubungan dua arah antara santri dan kyai.
  2. Kehidupan di pesantren menampakkan semangat demokrasi karena mereka praktis bekerja sama mengatasi problem non-kurikuler mereka.
  3. Para santri tidak mengidap penyakit “simbolis” yaitu perolehan gelar dan ijazah, karena sebagian besar pesantren tidak mengeluarkan ijazah, sedangkan santri dengan ketulusan hatinya masuk pesantren tanpa adanya ijazah tersebut. Hal itu karena tujuan utama mereka hanya ingin mencari keridlaan Allah SWT.
  4. Sistem pesantren mengutamakan kesederhanaan, idealisme, persaudaraan, persamaan, rasa percaya diri, dan keberanian hidup.
  5. Alumni pesantren tidak ingin menduduki jabatan pemerintahan, sehingga mereka tidak dapat disukai oleh pemerintah.

Keterpaduan Sistem pendidikan Pesantren

Sistem pendidikan itu sendiri merupakan totalitas interaksi dari seperangkat unsur-unsur pendidikan yang bekerja sama secara terpadu, dan melengkapi satu sama lain menuju tercapainya tujuan pendidikan yang telah menjadi cita-cita bersama para pelakunya. Kerja sama antara para pelaku ini disadari, dijiwai, digerakkan, digairahkan, dan diarahkan oleh nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh mereka.

Unsur-unsur organik, juga terdiri atas unsur-unsur organik lainnya berupa dana, sarana dan alat-alat pendidikan lainnya, baik perangkat keras maupun perangkat lunak. Hubungan antara nilai-nilai dan unsur-unsur dalam suatu sistem pendidikan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain.

Para pelaku pesantren adalah kyai sebagai tokoh kunci, ustadz sebagai pembantu kyai dalam bidang agama, guru sebagai pembantu kyai dalam mengajar ilmu umum, santri sebagai pelajar, dan pengurus sebagai pembantu kyai dalam mengurus kepentingan umum pesantren.

Pesantren Sebagai Pewarisan Budaya dan Agen Perubahan

Nilai-nilai yang dikembangkan di pesantren senantiasa digerakkan dan diarahkan oleh nilai-nilai kehidupan yang bersumber pada ajaran dasar Islam. Ajaran tersebut berkelindaan dengan struktur kontekstual atau realitas sosial yang digumuli dalam kehidupan keseharian.

Hasil perpaduan dari keduanya inilah yang membentuk pandangan hidup, dan pandangan inilah yang menetapkan tujuan pendidikan pesantren yang ingin dicapai dan pilihan cara yang akan ditempuh. Oleh karena itu, pandangan hidupnya selalu berubah dan berkembang sesuai dengan perubahan dan perkembangan realitas sosial yang dihadapi oleh pesantren tersebut.

Sistem pendidikan pesantren didasarkan atas dialog yang terus-menerus antara kepercayaan terhadap ajaran dasar agama Islam yang diyakini memiliki nilai kebenaran mutlak dan realitas sosial yang memiliki kebenaran relatif. Oleh karena itu wajar apabila pesantren berfungsi sebagai agen pewarisan budaya yang akan mewarisi nilai-nilai ajaran dasar Islam kepada santrinya.

Di samping sebagai agen pewarisan budaya, maka dalam menghadapi perubahan masyarakat, pesantren berfungsi sebagai agen perubahan, yaitu sebagai agen yang siap menghadapi perubahan-perubahan yang ada di lingkungan masyarakat sekitarnya.

Atas dasar itu, maka kehadiran pesantren di tengah-tengah masyarakat akan berdiri di atas dua kepentingan; yaitu sebagai agen pewarisan budaya (agent of conservative) pada satu sisi untuk menanamkan nilai-nilai ajaran dasar agama Islam. Pada sisi lain sebagai agen perubahan (agent of change) untuk menghadapi tantangan perubahan masyarakat.

Dengan kedua fungsi itulah, diharapkan pesantren akan tetap eksis hingga sekarang dan masa mendatang. Sehingga pendidikan pondok pesantren akan mampu mendukung pencapaian tujuan pendidikan nasional di mana pesantren itu berada. ***H. Edeng Z.A

Bahan Bacaan

Zuhairini dkk. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1992.

Zuhri, Saepudin, Berangkat dari Pesantren, PT. Gunung Agung, 1987.

Zuhri, Saefudin, Sejarah Kebangkitan Islam dalamPerkembangan di Indonesia,  Ma’arif, Bandung, 1980

Mukti Ali. Perguruan Tinggi, Pesantren dan Pembangunan Nasional. Makalah dalam Seminar Nasional. Gontor Ponorogo Jawa Timur, 1991

Martin Van Bruinesses, Kitab Kuning Pesantren dan Tasrekat Tradisi-tradisi Islam di Indonesia. Bandung Mizan, 1999, Cet ke 3

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.