Kontroversi M. Natsir | Tokoh Politik Islam Indonesia Part 3

Kontroversi M. Natsir | Tokoh Politik Islam Indonesia Part 3
0 142

Kontroversi M. Natsir. Berkat kegigihan dan keuletannya dalam berorganisasi, M. Natsir kemudian diangkat menjadi ketua Umum Majelis Syuro Muslimin Indonesia [Masyumi]. Ia menjadi ketua umum terlama Masyumi, sejak merdeka, sampai kemudian dibubarkan. Ia mulai mempimpin Partai Intelektual Muslim ini, sejak tahun 1945 sampai tahun 1960.  Inilah Perdana Menteri [1948] dan sebelumnya menjadi Menteri Penerangan RI Orde Lama, melalui Jalur Politik Masyumi.

Natsir dikenal sangat bersahaja. Sekalipun pernah menjadi Perdana Menteri dan menjadi Menteri Penerangan, serta menjadi Ketua Umum Masyumi selama 15 tahun, ia banyak disebut tidak mempunyai pakaian bagus. Jasnya saja, diketahui banyak tambalan. Dia dikenang sebagai menteri yang tidak mempunyai rumah.

Ia juga dengan keras menolak diberi hadiah berupa mobil elegan merk Chevrolet Impala. Padahal dirumahnya, hanya mempunyai mobil tua dengan merk De Soto.

Dalam konteks politik kebangsaan, Natsir pernah mengajukan Mosi Integrasi Natsir. Mosi ini disampaikan dalam sidang pleno parlemen pada 3 April 1950. Mosi ini diamini Mohammad Hatta, Wakil Presiden RI. Natsir mendorong seluruh pihak agar berjuang dengan tertib.

Hatta sendiri merasa terbantu dengan mosi ini. Mosi ini, telah menghapuskan konsep Indonesia Serikat dan kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kritisisme M. Natsir dalam Politik

Namun demikian, setelah Mosi ini belangsung, kritisisme Natsir tidak pernah berhenti. Ia cukup keras mengkritik Presiden Soekarno yang dianggapnya kurang cermat dalam membentuk kesejahteraan rakyat, khususnya di luar Pulau Jawa. Kritis pedasnya ini pula yang menyebabkan Natsir akhirnya mengundurkan diri dari berbagai jabatannya di pemerintahan Soekarno, khususnya di era Kabinet Djuanda.

Pada tahun 1958, kondisi politik Indonesia goncang hebat. Mohammad Hatta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai wakil Presiden. Politik Indonesia kembali memanas dan integrasi Republik Indonesia terancam. Nasib Natsir kemudian menjadi kurang baik. Ia dituduh terlibat dalam gerakan PRRI dan Permesta yang dilakukan masyratakat sipil dan Militer di Indonesia Timur dan Sumatera. Rezim Soekarno akhirnya mencapnya sebagai pemberontak. Ia kemudian dipenjarakan. Masyumi sendiri akhirnya dibubarkan pada tahun 1960 dan dilarang melakukan aktivitas politik.

Perdjuangan Rakjat Semesta [Permesta] adalah sebuah gerakan militer-civil di Indonesia Timur. Gerakan ini dideklarasikan pada 2 Maret 1957 di Makasar. Permesta dipimpin langsung Letkol Ventje Sumual yang berpusat di Makassar. Tetapi Karena banyak rakyat Makasar banyak yang menolak gerakan ini, akhirnya ibu kota gerakan Permesta dipindahkan ke Manado. Di kota inilah, kontak sejanta antara Permesta dan TNI terjadi. Permesta juga menyatakan pemutusan hubungan dengan pemerintah RI yang waktu itu kabinetnya dipimpin Djuanda.

Selain di Indonesia Timur, di Sumatera juga sama. Pemberontakan atas nama pemerataan pembangunan muncul. Gerakan ini awalnya murni sebagai bentuk rasa kecewa masyarakat Sumatera yang merasa banyak membantu Indonesia. Namun demikian, hasil pembangunan yang diberikan pemerintah pusat kepada Sumatera tidaklah seimbang dengan apa yang diberikan ke pulau ini.

Misalnya, banyak jalan yang bolong, serta ketertinggalan ekonomi dan pendidikan masyarakat setempat. Dalam konteks lain, masyarakat melihat munculnya kesan yang ditampilkan Soekarno yang dianggap berlebihan membela kepentingan PKI. PRRI dan Permesta yang dianggap pemerintah RI dibantu militer Amerika Serikat dan China, berhasil ditumpas pada tahun 1961. Banyak tokoh dan pemimpin PRRI permesta memperoleh pengampunan dan abolisi dari pemerintahan RI.

Penghargaan Untuk M. Natsir

Sekalipun Natsir dianggap sebagai pemberontak, ternyata ia mendapat penghormatan dari berbagai negara lain di dunia. Misalnya, penghargaan Dunia Islam yang menyematkannya sebagai pahlawan lintas bangsa. Dalam memoar M. Natsir, Bruce Lawrence, menyebut Natsir sebagai politisi yang paling menonjol yang membantu pembaruan Islam.

Di tahun 1957, Mohammad Natsir menerima bintang Nichan Istikhar (Grand Gordon) dari Raja Tunisia, Lamine Bey atas jasanya menolong perjuangan kemerdekaan rakyat Afrika Utara. Ia mendapat penghargaan internasional yaitu Jaa-izatul Malik Faisal al-Alamiyah pada di tahun 1980, dan penghargaan dari Syekh Abul Hasan Ali an-Nadwi serta Abul A’la Maududi.

Pada tahun 1980, Natsir dianugerahi penghargaan Faisal Award dari Raja Fahd Arab Saudi lewat Yayasan Raja Faisal di Riyadh, Arab Saudi. Ia memperoleh gelar doktor kehormatan dalam bidang politik Islam dari Kampus Islam Libanon pada tahun 1967. Pada tahun 1991, ia memperoleh dua gelar kehormatan, yakni dalam bidang sastra dari Universitas Kebangsaan Malaysia serta dalam bidang pemikiran Islam dari Universitas Sains Malaysia.

Ia akhirnya wafat pada 6 Februari 1993 di Jakarta. Meski Presiden Soeharto enggan memberi gelar pahlawan tetapi pada masa pemerintahan BJ. Habibie dia diberi penghargaan Bintang Republik Indonesia Adipradana. Diambil dari Biografi M. Natsir. By. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...