Koreksi WHO terhadap Ketimpangan Kesehatan di Indonesia

0 467

Helath participation – Ketimpangan kesehatan adalah Keadaan sosial dan ekonomi yang buruk yang berpengaruh besar pada kesehatan, merujuk pada sifat adil atau tidak adil, perbedaan kesehatan antara kelompok sosial, yang dihasilkan oleh kondisi sosial. WHO sebagai organisasi kesehatan dunia menilik secara serious masalah ketimpangan kesehatan di negara anggotanya.

Seperti yang kita tahu bahwa ktimpangan kesehatan dapat merugikan mereka yang miskin, karena dirugikan oleh kemungkinan untuk menghadapi penyakit lebih rendah dan yang lebih parah selama hidup maka ini akan terus terjadi bahkan kemungkinan meninggalnya akan lebih muda dari mereka yang berada di tingkat lebih baik. Ini berarti bahwa peluang yang panjang dan hidup sehat tidak sama untuk semua orang.

Ketimpangan Kesehatan di Indonesia

Di indonesia ada kesenjangan kesehatan antara yang kaya dan miskin. Dengan adanya gradien sosial yang jelas dalam kesehatan dimana kesehatan umum meningkatkan dengan setiap langkah menaiki tangga pendapatan. Tentu ini sebuah bentuk lain dari ketidakadilan. Ketimpangana kesehatan kadang juga dibenturkan berdasarkan etnis, jenis kelamin atau geografi misalnya,.

Jika di Indonesia melahirkan bisa berbahaya. Bahkan di rumah sakit yang paling steril sekalipun tidak menjamin keselamatan ibu dan anak. Kondisi keseterilan iniilah yang menambah ancaman mematikan bagi wanita dan bayinya. Keseterilan ini rupanya dapat meyebabkan pasien terjangakit tetanus.

Memang, tetanus dapat dicegah dengan vaksin yang murah. Namun wanita yang miskin atau tinggal di daerah terpencil seringkali kekurangan akses terhadap layanan penting seperti imunisasi dan kesehatan mereka. Inilah situasi di Indonesia pada tahun 2012. Program imunisasi telah menghilangkan tetanus di tiga wilayah empat kepulauan yang luas, namun tingkat vaksinasi yang lebih rendah di wilayah paling miskin di Papua Barat berarti bahwa penyakit tersebut tetap menjadi ancaman utama di sana.

Setelah upaya bersama pemerintah Indonesia memperbaiki akses terhadap layanan kesehatan di daerah terpencil dan untuk meningkatkan tingkat vaksinasi di daerah yang paling kurang beruntung, negara tersebut dinyatakan telah menghapuskan tetanus tahun lalu, yang berarti kurang dari satu kasus tetanus neonatal terjadi per 1000 jiwa Kelahiran di setiap kabupaten.

“Menghilangkan tetanus merupakan prestasi besar bagi Indonesia,” kata Dr Jihane Tawilah, wakil WHO ke Indonesia. “Tetanus neonatal adalah simbol ketidaksamaan kesehatan. Ini mempengaruhi bagian penduduk termiskin dan paling tidak berpendidikan. ” ungkap Dr Jihane Tawilah dalam situs resmi WHO.

Kebijakan Pemerintah Indonesia Pada Masalah Ketimpangan Kesehatan

Indonesia adalah satu dari sekian banyak negara yang bekerja untuk memperbaiki akses terhadap layanan kesehatan bagi orang-orang yang paling tidak beruntung, sebagai bagian dari komitmennya untuk “tidak meninggalkan siapa pun di belakang” dalam mengejar Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG). Di antara 17 tujuan, SDG 3 berfokus untuk memastikan kehidupan sehat bagi semua orang di segala usia, sementara SDG 10 menyerukan pengurangan ketidaksetaraan di dalam dan di antara negara-negara.

Sementara banyak negara telah membuat kemajuan dalam meningkatkan kesehatan keseluruhan populasi mereka dengan berbagai ukuran, rata-rata nasional tidak menceritakan keseluruhan cerita. Kelompok orang dapat kehilangan layanan kesehatan karena berbagai alasan: jenis kelamin mereka, di mana mereka tinggal, berapa banyak penghasilan mereka, pendidikan mereka, dan alasan sosial dan budaya lainnya.

Tetapi untuk memperbaiki kesehatan orang-orang yang paling kurang beruntung dan untuk meningkatkan akses mereka terhadap layanan kesehatan, data diperlukan mengenai keadaan kesehatan semua subkelompok populasi termasuk yang paling tidak beruntung.

“Memantau ketimpangan kesehatan sangat penting untuk memastikan tidak ada yang tertinggal,” kata Dr Ahmad Reza Hosseinpoor, yang memimpin pekerjaan WHO dalam memantau pemerataan kesehatan. “WHO telah mengembangkan paket sumber daya dan alat untuk mendorong praktik dan membangun kapasitas untuk pemantauan ketimpangan kesehatan global dan nasional.”

Salah satu produk utama dalam paket tersebut adalah Health Equity Assessment Toolkit (HEAT), sebuah aplikasi perangkat lunak yang diluncurkan oleh WHO tahun lalu yang memungkinkan negara-negara menganalisis, menafsirkan dan melaporkan data mengenai ketidaksetaraan kesehatan untuk menjelaskan di mana investasi dilakukan. Diperlukan untuk memperluas layanan kepada mereka yang tidak memilikinya dan untuk memperbaiki kesehatan mereka.

Health Equity Assessment Toolki (HEAT)

Saat diluncurkan pertama kali, HEAT dibatasi pada data dari database Health Equity Monitor milik WHO. HEAT yang berisi data kesehatan reproduksi, ibu, bayi dan anak untuk 102 negara. Edisi baru toolkit, yang disebut HEAT Plus, memungkinkan pengguna mengunggah data dari sumber mereka sendiri. Ini menjadikannya alat yang lebih hebat untuk menganalisis dan melaporkan ketidaksetaraan kesehatan di berbagai topik.

HEAT Plus, yang telah diuji di Indonesia, memungkinkan negara tersebut untuk menganalisis dan menafsirkan ketidaksetaraan di banyak topik kesehatan. Ini bisa dilakukan dengan menggunakan sejumlah besar data sendiri yang ada di HEAT.

Akibatnya, Indonesia kini sedang mengembangkan laporan nasional pertamanya mengenai keadaan ketimpangan kesehatan di negara tersebut.  Laporan yang akan diterbitkan akhir tahun ini akan memberi wawasan berharga bagi para pembuat kebijakan yang akan membantu mereka membuat keputusan strategis untuk memperbaiki kesehatan. Bangsa ini telah berkomitmen untuk mengintegrasikan pemantauan ketimpangan kesehatan ke dalam sistem informasi kesehatan nasional.

WHO telah bekerja sama dengan kementerian kesehatan Indonesia untuk memetakan apa yang terjadi.  Sumber data negara masyarakat dan negara tersebut di jadikan alat untuk memantau ketidaksetaraan kesehatan dan mengidentifikasi kesenjangan data. Selain itu menganalisis data dan melaporkan hasilnya.

Selain HEAT Plus, WHO minggu ini juga meluncurkan dua produk lain untuk membantu negara-negara anggitanya menggali lebih dalam ketidaksetaraan kesehatan. Termasuk panduan langkah demi langkah untuk membantu Negara anggota memasukkan pemantauan ketimpangan kesehatan di sistem informasi kesehatan mereka. Selain itu WHO juga memastikan akan memberikan kode statistik yang diperlukan untuk menganalisis Data survei rumah tangga untuk mengungkapkan di mana ketidaksetaraan itu terjadi.


Sumber Bacaan : who.int

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.