Kota Tua Bernama Bumi | Kritik atas Sains Modern Part – 3

0 72

Kota Tua Bernama Bumi. Pernahkan anda membayangkan bahwa di masa yang akan datang, penyair dan musisi menyenandungkan lagu kerinduan atas kota tua bernama bumi? Bumi saat itu, hanya menjadi kenangan dan sulit untuk disinggahi karena kondisinya sudah dipenuhi air lautan. Bukan hanya topi antartika yang mencair, tetapi seluruh es di Kutub Utara dan Selatan membahana menenggelamkan daratan yang ada di bumi. Bumi berubah menjadi lautan yang tak berbatas.

Atmosfir bumi akibat global warming bukan hanya bolong-bolong, tetapi pecah. Seluruh sinar ultraviolet matahari akibat volusi dan industrialisasi yang tak terkendali, membuat segala dinamika bumi menjadi sulit dihuni manusia. Mereka yang tetap bertahan di bumi, saat berubah menjadi penghuni lautan dengan tembok-tembok tebal yang kadang rawan bencana.

Para musisi dan penyair yang turut serta berangkat ke Planet lain, hanya mampu merindukan suasana lautan yang teduh. Atau lautan yang kadang, bergelombang atau bahkan ombak yang sulit berhenti. Gitar, Piano, Saxopon serta drum yang sempat dibawa mereka ke angkasa, dimainkan dalam suatu altar tanpa hembusan angin sedikitpun. Mereka para musisi itu, bernyanyi penuh pilu di sebuah tepian di ujung planet lain di tata surya kita.

Mereka saat itu, berbeda dengan musisi bumi ratusan tahun sebelumnya. Saat itu, musisi tidak sedang berimaginasi tentang bagaimana berbulan madu di bulan atau hanya sekedar berwisata di angkasa raya yang tak bertepi. Tetapi, para musisi itu, menyenandungkan lagu atas kesulitan mereka mencari tempat seindah bumi.

Saat itu, bumi hanya menjadi kenangan bagi manusia generasi awal di angkasa raya dan menjadi epik aneh bagi generasi-generasi baru manusia setelah generasi awal. Lautan tidak mereka temukan di sana. Yang ada hanyalah bongkahan-bongkahan batu yang menyalurkan air penuh kebekuan.

Tempat Tanpa Oxigen

Mereka pada saat itu, akan lupa bagaimana lautan dihempaskan dalam gelombang besar, pada apa yang disebut dengan tsunami. Yang ingat adalah bagaimana lautan biru dengan batu dan pasir putih terhampar di berbagai sudut bumi. Kenangan indah, yang tak mungkin mereka dapatkan di Mars atau di Bulan, atau diangkasa lain. Desiran angin pantai yang menyibak pepohonan di pinggir lautan,Ai?? tentu saja tidak mereka dapatkan di negara baru.

Jangan tanya gunung dengan sejumlah pohon yang teduh dan daun-daun hijau menyibak oxigen melumatkan keringat mereka yang bekerja penuh seharian. Oxigen seperti di bumi,Ai?? hanya mampu dimiliki mereka di negara baru itu, setelah ribuan jam dihabiskan manusia mencari cara dan celah mengimportnya dari bumi yang saat itu sudah lapuk, dan tidak layak di huni manusia. Bumi karam oleh lautan. Yang masih tinggal di bumi, hidupnya persis seperti ikan-ikan saat ini.

Jika di bumi, negara-negara kaya memperebutkan sumber energi, maka, negara-negara superpower di angkasa akan memperebutkan transaksi oxigen bumi yang masih bisa dieksplorasi. Peraduan dan pergolakan politik luar angkasa, serta kemampuan teknologi diukur bukan pada soal bagaimana sebuah negara mampu membuat kekuatan senjata, tetapi, sejauh mana negara dimaksud mampu mengeksplorasi oxigen. Negara apapun namanya, saat itu semuanya, ya semuanya, tidak memiliki sumber oxigen asli.

Inilah situasi lain, bagaimana bumi yang kita pijak sesungguhnya sedang mencari nafas, agar manusia sadar, bahwa dia adalah anugerah terindah kemanusiaan. Prof. Cecep Sumarna — Bersambung

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.