Krisis Finansial di Kalangan Kaum Akademik| Problem Ilmiah – Part 1

Krisis Finansial di Kalangan Kaum Akademik Problem Ilmiah - Part 1
0 97

Beberapa hari ini, saya tertarik dengan sebuah tulisan yang dipublish Sneha Kulkarni. Ia Mempublish sebuah tulisan pada 29 Juli 2016. Tulisan berjudul: 7 Major problems science is facing: A survey overview seharusnyaAi??cukup menggelitik banyak ilmuan. Tujuh problem ini, jika dikaji seksama, akan membuat banyak ilmuan, akhirnya sadar, bahwa selama ini, mereka berada dalam kerumitan akut.

Judul tulisan Sneha Kulkarni tadi, jika diterjemhakan ke dalam bahasa Indonesia maka, akan berarti: ai???Tujuh Masalah Utama yang Dihadapi Sains: Suatu Simpulan Surveyai???. Tulisan tersebut setidaknya telah dilihat Ai??22,595 kali oleh mereka, tentu saja yang senang terhadap dinamika ilmu pengetahuan temporer. Saya sendiri, ingin mengulas tujuh masalah ini, secara berangkai. Penulis ingin mencoba menggunakan pola kajian pada apa yang terjadi di Indonesia belakangan ini.

Perkembangan Ilmu Temporer

Sneha Kulkarni, mengawali tulisannya dengan menyebut bahwa, ilmu pengetahuan harus diakui telah mengalami kemajuan yang sangat cepat. Pernyataan semacam ini, sebenarnya bukan barang baru. Mungkin telah jutaan ilmuan pernah melontarkan hal yang sama. Dalam kasus tertentu, perubahan dan hasil kajian ilmiah terus terbarukan. Pembaruan kajian ilmiah dimaksud, bahkan hampir setiap menit, atau bahkan hampir setiap detik. Tentu, jika ukurannya adalah kajian ilmuan seluruh dunia dalam ragam disiplin ilmu yang berbeda.

Menarik untuk disebut bahwa penemuan para ilmuan atas hasil risetnya yang terus terbarukan tadi, terus juga di publish pada ragam media ilmiah. Namun demikian, kemajuan tadi, dalam analis beberapa saintis, disebut bahwa di sisi lainnya, patut dianggap mengancam atau bahkan merusak perkembangan keilmuan itu sendiri.

Indikator yang cukup membahayakan itu, dalam analisa Sneha Kulkarmi tadi, dapat dilihat misalnya dari hasil riset Vox. Suatu, situs berita Amerika yang menerbitkan diskusi tentang urusan dunia, sains dan politik, kepada setidaknya 270 peneliti kelas dunia. Responden Vox itu terdiri dari mahasiswa pascasarjana, profesor senior dan kepala laboratorium seluruh dunia.

Semua responden yang berhasil masuk ke data Vok, menyebut bahwa mereka sepakat [suara bulat] menyebut bahwa proses ilmiah saat ini “penuh dengan konflik”. Mereka [para saintis] dipaksa “memprioritaskan pelestarian diri, tentu untuk sebuah eksistensi, dalam sebuah rumusanAi??tentang bagaimana menemukan kebenaran yang berarti,” atas hasil penelitian yang dilakukan.

Dunia Akademis Mengalami Krisis Finansial

Problem pertama dan utama, dalam analisa ini adalah, fakta yang sulit dibantah bahwa dunia akademik, saat ini sedang mengalami krisis finansial yang cukup akut. Krisis dimaksud, salah satunya dipengaruhi oleh kecenderungan funding yang membatasi waktu penelitian dan besaran biaya yang harus mereka keluarkan. Situasi itu, akan terasa semakin rumit, ketika melihat fakta bahwa, angkatan kerja ilmiah di seluruh penjuru dunia, terus mengalami peningkatan. Peningkatan jumlah pekerja ilmiah dimaksud, tentu salah satunya adalah researcher.

Di kalangan para periset, terdapat setidaknya dua sisi yang paradoksal. Paradoksal ini akan menjadi bagian penting dari apa yang diebut dengan membahayakan bagi perkembangan ilmu.

Paradoksal dimaksud misalnya, perjuangan yang terus-menerus dilakukan periset senior untuk mengamankan dan mempertahankan pendanaan yang biasa mereka dapatkan, dari funding-funding mereka, telah menyebabkan terjadinya kemacetan ilmiah, di kalangan para ilmuan muda.

Hal ini tentu saja sangat berbahaya bagi periset awal yang merasa sulit bersaing untuk mendapatkan dana dengan peneliti senior. Persaingan yang ekstrem ini, berdampak pada bagaimana sebuah reseacrh harus dilakukan. Dan dalam kepentingan sebuah riset itu harus diselesaikan.

Responden survei Vox menunjukkan bahwa karena sebagian besar hibah hanya diberikan untuk beberapa tahun, mereka akhirnya cenderung memilih proyek berjangka pendek. Semakin pendeknya waktu yang diberikan funding, telah menyebabkan kesulitan para peneliti untuk mempelajari secara akurat atas pertanyaan ilmiah mereka yang cukup kompleks. Hal ini, mengindikasikan bahwa para peneliti akhirnya membuat pilihan berdasarkan apa yang akan membuat lembaga pendanaan dan institusi mereka, sebatas menyenangi atas hasil penelitian mereka.

Kondisi ini, akhirnya akan menyebabkan di satu sisi jumlah makalah ilmiah meningkat, namun disadari sepenuhnya bahwa kualitas hasil penelitian dimaksud, menjadi sub-standar.Ai??Dampak yang paling terasa tentu saja, kualitas sebuah penelitian menjadi demikian rendah. Prof. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.