Krisis Institusi Pendidikan

Krisis Institusi Pendidikan
0 404

Krisis nstitusi Pendidikan. Institusi pendidikan keluarga, saat ini sedang dilanda guncangan hebat. Ia digugat, dicaci dan di maki. Cacian dan makian itu bkan saja datang dari kaum awam, tetapi juga datang dari mereka yang menyebut diri sebagai kaum terdidik. Suatu komunitas yang secara konseptual seharusnya memiliki sejumlah resep untuk memecahkannya.

Dalam kasus tertentu, para teoritikus perndidikan bahkan terkesan linglung, ambigu dan bingung. Mengapa? Karena teore-teore pendidikan banyak yang sudah tidak dapat di update untuk memecahkan soal-soal yang melingkupi. berbagai “kekacauan” dalam pelaksanaan pendidikan. Institusi pendidikan keluargam disukai atau tidak, dipercayai atau tidak, kini sedang mengalami deklining fungsi yang sangat tajam.

Krisis di Institusi Pendidikan Masyarakat

Krisis pendidikan dalam institusi keluarga sebagaimana dimaksud tadi, semakin diperparah oleh krisis di institusi pendidikan masyarakat. Di institusi ini, kondisinya jauh lebih parah jika dibandingkan dengan krisis di lingkungan keluarga. Berbagai persoalan berkembang dengan tingkat masalah yang jauh lebih kompleks, karena tidak ada satupun institusi yang mampu menjadi pengontrolnya.

Contoh nyata atas situasi itu adalah, institusi  pendidikan masyarakat yang sulit untuk mengisolasi diri dari berbagai perbrgaulan; local, regional, nasional bahkan internasional. Pergaulan dimaksud tentu ada yang positif meski tidak sedikit yang bermakna negatif.

Budaya-budaya yang tidak sejalan dengan prinsip moral, agama, dan adat masyarakat di mana seorang tinggal, telah bnyak berkembang dan bahkan telah menjadi nadi kehidupan masyarakat. Dilingkungan masyarkat, sudah tidak aneh jika ada remaja melahirkan anak tanpa suami, mati akibat over dosis minuman keras, mati akibat terkena infeksi virus HIV/AIDS, orang tua mati akibat dibunuh anaknya dan berbagai kekacauan lain yang sejatinya sangat berjarak dengan soal nilai agama dan bahkan dengan moral masyarakat.

Masyarakat sendiri, seringkali tidak pernah melihat masalah-masalah tadi, sebagai masalah yang harus dihadapi dan dipecahkan. Nilai keagamaan yang menjadi pondasi dalam memberikan arahan terhadap perilaku kehidupan masyarakatpun sudah mulai banyak yang dicampakkan.

Institusi Pendidikan Sekolah

Kegagalan pelaksanaan fungsi pendidikan di dua institusi tadi, berujung pada munculnya penghargaan yang demikian besar terhadap institusi pendidikan formal, persekolahan. Lembaga pendidikan yang terakhir ini, sering dipaksa untuk menjadi semacam sentral sejumlah pengharapan masyarakat; akademik-awam dengan motif yang sangat beragam.

Melalui lembaga pendidikan sekolah, diharapkan bukan saja menjadi proses transformasi pendidikan melalui alih pengetahuan dan teknologi, tetapi, sekaligus dapat menjadi pengharapan atas bertahan dan berkembangnya nilai etik kemasyarakatan dan keagamaan yang telah lama hidup dan mengakar dalam nadi kehidupan, namun merasa terdesak oleh kondisi-kondisi eksternal yang terus mengancam.

Selain tentu secara sosiologis, pendidikan persekolahan diharapkan dapat meningkatkan gengsi sosial (bagi mereka yang bada pada setratifikasi sosial dan ekonomi rendah) atau mempertahankan gengsi sosialn (khususnya bagi mereka yang secara sosial dan ekonomi tinggi) yang telah lama digenggamnya.

Namun demikian, dapatkan lembaga yang menjadi pengharapan sejumlah masyarakat ini mampu mempertahankan dan menjalankan fungsinya yang banyak itu? inilah sebuah pertanyaan yang sangat mudah diucapkan namun sulit untuk memperoleh sebuah jawaban. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...