Krisis Kualitas Produk| Problem Ilmiah Part – 2

Krisis Kualitas Produk| Problem Ilmiah Part - 2
0 68

Krisis Kualitas Produk. Pernahkan anda kaget ketika, hasil pemilu jauh dari analisa hasil penelitian? Sebut misalnya, apa yang dilansir beberapa lembaga Survey atas popularitas dan elektabilitas calon tertentu, lalu, hasilnya ternyata jauh berbeda. Jika anda pernah kaget, saat ini kekagetan harus mulai dikurangi. Mengapa? Sebab terdapat kajian keilmuan temporer yang ternyata mengabdi bukan pada kepentingan keilmuan dan untuk keperluan ilmiah, tetapi, lebih pada kepentingan, siapa yang menjadi fundingAi??mereka ketika meneliti.

Saya sudah mengulas di bagian pertama tulisan terkait dengan soal ini, yang menyebut bahwa semua persoalan tadi, terjadi karena kaum akademik mengalami krisis finansial. Krisis dimaksud, terjadi karena funding-funding resmi membatasi jumlah keuangan dan waktu tersedia untuk kepentingan sebuah riset.

Dampak dari krisis finansial yang dikeluarkan berbagai funding, serta mulai terbatasnya jumlah waktu yang diperlukan untuk sebuah riset, telah menyebabkan kualitas penelitian menjadi kurang bermutu. Terbatasnya waktu terjadi karena mulai dibatasinya jumlah keuangan yang diberikan funding. Konsep efektif dan efisien dalam konteks riset tidak serta mengandung makna positif dalam kepentingan keilmuan. Sneha Kulkarni [2016] menyebut persoalan dimaksud dalam kalimat yang lebih ekstrem yakni, desain dan hasil penelitian menjadi lebih buruk.

Inilah, menurutnya yang menyebabkan para akademisi mulai mengkritisi beberapa hasil penelitian. Bahkan dalam soal dimaksud, kaum akademisi kelas dunia menyebutnya sebagai masalah utama yang paling serius. Salah satu alasan utama di balik masalah ini, menurutnya karena melemahnya jumlah statistik hasil penelitian yang berhasil dipublikasikan dalam skala yang lebih luas.

Perubahan Mental Peneliti

Mental peneliti, seharusnya menganggap bahwa sebuah penelitian akan terasa dihargai jika hasil penelitiannya itu, mampu dipublish. Tentu hal ini, terkait dengan royalti keilmuan melalui hak paten ilmiah sebuah riset. Fakta hari ini, penelitian tidak mencerminkan secara utuh atas idealisme ilmiah dimaksud. Situasi itu, terasa semakin parah, karena banyak di antara hasil penelitian, mengingat jumlah waktu dan keuangan yang terbatas itu, ditemukan terjadinya manipulasi data melalui desain dan hasil penelitian.

Ini juga yang kemudian dikeluhkan sebagian periset Pemilu di Indonesia. Lembaga-lembaga survey Indonesia, ternyata juga banyak melakukan kritik, satu sama lain, yang salah satunya menuduh terjadinya manipulasi data penelitian oleh lembaga riset tertentu.

Berbagai “Manipulasi” data dan hasil penelitian tersebut dilakukan dengan tujuan agar dianggap lebih menarik bagi kepentingan jurnal. Dalam konteks kontestasi politik, dapat juga dimakna sebagai agitasi publik berkepentingan politik tadi. Inilah yang menyebabkan media-media atau jurnal ilmiah kemudian bertumbuh menjadi sebuah komoditas. Mereka tidak lagi berdiri yang sama-sama menjaga idealisme, tetapi, tmbuh menjadi media komoditas tadi.

Di sisi lain, terdapat juga data yang menyebut bahwa dalam kepentingan tertentu, data dimanipulasi agar mereka yang membayarnya, menjadi senang atas hasil sebuah riset. Dengan demikian, dalam anggapan tertentu, sebagian besar hasil yang dipublikasikan secara ilmiah tidak signifikan maknanya dalam kepentingan pengembangan keilmuan.

Jika ini benar-benar terjadi, maka, konsekwensinya, sebuah penelitian patut dianggap malah menjadi pemborosan keuangan dan sumber daya rutin yang diperlukan. Inilah sesungguhnya persoalan serius.Ai?? Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...