Kriteria Kebenaran| Filsafat Ilmu Part – 8

Kriteria Kebenaran dalam Filsafat Ilmu Part - 8
0 2.608

Tidak semua manusia mempunyai persyaratan yang sama terhadap apa yang dianggapnya benar. Paradigma kebenaran terasa sangat berbeda antara teori satu dengan teori lain, termasuk yang berkembang di kalangan ilmuan. Mengapa? Karena suatu kebenaran akan sangat bergantung terhadap sasaran atau objek kebenaran itu sendiri.

Dalam konteks fislafat ilrnu, untuk mencapai kebenaran itu, serendahnya terdapat tiga teori yang berguna untuk mengukur kebenaran. Tiga teori itu adalah: koherensi, korenspondensi dan pragmatisme nasional.

Antara satu teori dengan teori lain memiliki perbedaan paradigma yang cukup kental. Misalnya, teori koherensi lebih mendasarkan diri pada kebenaran rasio, teori korespondensi lebih mendasari diri pada kebenaran factual/ karena data dan fakta memiliki kebenaran objektif pada dirinya, sedangkan kebenaran fungsional lebih menitikberatkan pada fungsi dan kebenaran itu sendiri.

Koherensi, korespondensi dan pragmatisme fungsional masing-masing memiliki fungsi yangberbeda. Antara satu teori dengan teori lain memiliki perbedaan pradigma cukup kental. Misalnya, teori koherensi lebih mendasarkan diri pada kebenaran rasio, teori korespondensi lebih mendasarkan diri pada kebenaran faktual, karena data dan fakta memiliki kebenaran objektif pada dirinya sendiri, sedangkan kebenaran fungsional lebih menitikberatkan pada fungsi dan kegunaan kebenaran itu sendiri.

Sekalipun perbedaan di antara ketiga teori itu terasa kental, namun ketiganya memiliki kesmaaan. Kesamaan diantara tiga teori itu adalah: pertama, seluruh teori melibatkan logika, baik logika formal maupun logika material (deduktif dan induktif); kedua, melibatkan bahasa, yaitu adanya kerangkapengujian terhadap pernyataan-pernyataan yang hendak diuji kebenaranya, dan ketiga, adalah pengalaman yang menduduki tempat penting dalam mengetahui kebenaran. Untuk lebih jelasnya, ketiga teori kebenaran ini akan dijelaskan berikut ini:

Teori Koherensi

Teori koherensi adalah satu di antara dua teori tradisional tentang kebenaran. Dalam perspektif sejarah, kelahiran teori ini hampir berbarengan dengan lahirnya metafisika dan idealis.

Oleh karena itu, muncul juga suatu anggapan bahwa teori ini hanya berlaku di kalangan met nfis ikn – ras ionnl is dan ideal is. Namun demikian, sejarah juga mencatat bahwa positivistic yang mendasarkan kebenaran pada fakta-fakta empiris dan menggunakan matematika murni dan fisika teoritis pada akhirnya tidak dapat mengelak atas kepentingannya untuk mengakomodasi teori ini.

Teori Koherensi secara teoretis pertama kali dicetuskan Benedictus Spinoza dan George Hegel. Meskipun demikian, menurut Titus, Smith dan Nolan (1984), bibit-bibit teori ini sebenarnya sudah ada sejak pra Socrates. Spinoja kemudian mematangkan teorinya ini dan terus dikembangkan oleh penganut aliran ini seperti Francois Herbert Bradly, Brand Blanshard, Edgar Sheffield Brightman dan Rudolph Carnap.

Kelompok ini beranggapan bahwa kebenaran adalah sebuah sistem dan seperangkan proposisi yang saling berhubungan secara koheren. Sebuah pernyataan dianggap benar apabila pernyataan itu dapat dimasukkan (incorporated) dengan cara yang tertib dan konsisten dengan dalam konsisten dan koheren. Oleh karena itu, suatu pernyataan dianggap benar jika pernyataan itu dilaksanakan atas pertimbangan konsistensi dan pertimbangan-pertimbangan lain yang telah diterima keberadaannya.

Logika matematika adalah bentuk pengetahuan yang penyusunannya telah menjadi contoh penggunaan teori koherensi yang paling tepat. Logika matematika disusun atas beberapa dasar pernyataan yang dianggap benar atau aksioma yang menghasilkan teorema. Di atas teorema ini, menurut Jujun S. Surisumantri, matexnatika secara keseluruhan menjadi satu system yang konsisten. Oleh karena itu, logika yang digunakan dalam teori koherensi adalah logika deduktif yang menguji kebenaran terhadap kemungkinan adairya relasi- relasi dengan anggota lain. Logika ini memastikan bahwa simpulan itu benar jika premis-premis yang digunakannya juga benar.

Contoh sederhana dari teori ini adalah “Semua manusia yang normal pasti akan menikah”. Pernyataan ini adalah pernyataan yang benar. Oleh karena itu, pernyataan yang menyebutkan bahwa Puspa adalah gadis yang normal, dan pasti ia akan menikah adalah benar pula. Sebab pernyataan kedua konsisten dengan pertanyaan pertama. Sifat koheren atau konsisten dengan pertanyaan-pertanyaan sebelumnya yang dianggap benar, dengan demikian menjadi sangat khas dari teori kebenaran ini.

Teori Korespondensi

Jika teori koherensi dianut oleh kaum metafisika-rasionalis, maka teori korespondensi dianut oleh kaum realis. Kebenaran, menurut kelompok ini adalah kesetiaan terhadap realitas objektif (fidelity to objective reality), yakni: adanya kesesuaian antara pernyataan tentang fakta, atau pertimbangan (Judgement) dengan situasi yang dilukiskan oleh pertimbangan itu.

Artinya, suatu pernyataan baru dianggap benar jika materi pengetahuan yang dikandung oleh pernyataan itu dikorespondensi (berhubungan) dengan objek yang dituju pleh pernyataan tersebut. Jika seseorang dinyatakan bahwa BJ. Habibie adalah Presiden Republik Indonesia yang ketiga setelah Presiden Soeharto, maka pernyataan ini adalah benar sesuai dengan objek yang bersifat factual. Andaikan ada pernyataan yang menyebutkan bahwa B.J. Habibie adalah presiden pertama, maka pernyataan itu salah, sebab, pernyataan itu tidak sesuai dengan realitas dan fakta sebab Presiden pertama itu adalah Soekarno.

Teori ini sama seperti teori sebelumnya yang mulai berkembang sejak jaman Yunani Kuna. Jika pada teori koherensi mulai ada sejak Socrates, maka teori ini baru rmrncul ketika Aristoteles mencetuskan adanya keharusan bagi sebuah kebenaran dengan landasan dan pertimbangan fakta empiris. Pemikiran Aristoteles ini kemudian dikembangkan oleh tokoh semacam Ibnu Sina dan Thomas Aquinas di abad skolastik dengan merumuskan teorinya pada apa yang disebut dengan “teori kememadaian”.

Kelompok ini beranggapan bahwa suatu kebenaran itu baru diakui jika kebenaran itu dirumuskan dengan adanya kememadaian pikiran atas bendanya (edaequntio intelectus et rex). Kebenaran dengan demikian, tidak hanya melekat di dalam inteiek tetapi ia juga melekat di dalam benda-benda. Secara sederhana dapat disebutkan bahwa teori ini menganggap suatu pemyataan itu benar jika berkorespondensi dengan realitas. Apabila sebuah gagasan selaras dengan pasangannya (counterpart) dalam dunia realitas, maka gagasan itu menjadi benar.

Teori korespondensi sebagai salah satu teori kebenaran jelas dipakai dalam cara berpikir ilmiah. Penalaran teoritis yang mendasarkan diri pada logika deduksi jelas mempergunakan teori koherensi, sedangkan logika induksi menggunakan teori korespondensi. Fakta dianggap kelompok ini sebagai sesuatu.yang netral.

Fakta yang benar, juga tidak salah. Letak kemungkinan salah atau benar bukan pada fakta, tetapi pada gagasan, pemyataan dan keyakinan adalah tidak cukup untuk meyakinkan kebenaran, tetapi butuh dibuktikan dengan meneliti apakah terdapat hubungan (koresponden) antara dunia idea dengan dunia nyata (fakta) yang mereka cerminkan. Kebenaran adalah sejumlah keyakinan rasional yang menggambarkan atau mengidentikkan dengan unsur- unsur dan struktur alam semesta.

Teori ini menurut Titus dan Nolan (1984: 239) mengasumsikan bahwa: “pengetahuan kita bukan saja atas pertimbangan diri sendiri, tetapi ia harus didukung oleh keadaan nyata di samping pengalaman”. Bahkan secara ektrem, kelompok ini menganggap bahwa tanpa campur tangan akal (rasio), dunia telah dapat dipersepsi secara benar sebab dunia adalah sesuatu yang universal.

Teori Pragmatisme

Teori pragmatisme dapat disebut sebagai teori kebenaran yang paling baru. Teori ini merupakan sumbangan paling nyata dari para filosof berkebangsaan Amerika komunitas filsafat dunia. Teori ini muncul dengan background telah berkembangnya kemajuan ilmu pengetahuan pada abad ke- 19 terutama setelah teori evolusi yang dikembangkan oleh Charles Darwin menempati posisi yang signifikan dalam percaturan pengetahuan. Tokoh-tokoh yang cukup aktif dalam pengembangan teori ini adalah: Charles Sanders Peirce, William James dan John Dewey. (Van Melson, 1954: 130).

Menurut kelompok. ini, suatu pernyataan dianggap benar jika melalui pengukuran diketahui ada atau tidak adanya fungsi kebenaran itu terhadap kehidupan praktis. Mampu atau tidaknya memberi dorongan terhadap aksi, karena hanya dengan cara itu ia berkorespondensi dengan realitas. Artinya, suatu pernyataan menjadi benar atau konsekwensi dari pernyataan itu benar apabila mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia.

Gagasan yang benar, menurut kelompok ini adalah gagasan yang dapat diasimilasi, validitasnya dan dapat diuji, berkolaborasi dan mampu dilakukan verifikasi. Kebenaran terjadi pada suatu gagasan. Gagasan menjadi benar dan dibuat benar oleh suatu peristiwa. Oleh karena itu pula, kebenaran menurut kelompok ini adalah particular, sebab terdapat banyak kebenaran individual.

Pencarian pengetahuan tentang alam dianggap fungsional dan berguna untuk xnenafsirkan gejala alam. Secara histories, kebenaran dari suatu pernyataan ilmiah tidak selalu tetap, yang sekarang benar, bisa didapati salah di kemudian hari. Berhadapan dengan masalah ini, menurut Jujun S. Suriasumantri, seorang ilmuwan pasti bersikap pragmatis. [Prof. Dr. H. Cecep Sumarna]

Komentar
Memuat...