Kriteria Objektif Filsafat Pendidikan

0 97

Melalui polemik sekitar filsafat pendidikan, sebagian berusaha menurunkan intensitas polemik dan mempersempit celah perbedaan yang ada. Di antara yang melakukan demikian adalah George S. Counts ketika melontarkan apa yang ia sebut dengan kriteria filsafat pendidikan yang diinginkan. Ia mengajukan pertanyaan tentang kemungkinan meletakkan kriteria objektif yang tidak ada pengaruh untuk kecenderungan pribadi di dalamnya untuk analogi semua filsafat pendidikan yang ada.

Kriteria Objektif Filsafat Pendidikan Menurut George S. Counts

Counts sendiri menjawab pertanyaan ini dan menyebutkan bahwa meletakkan kriteria objektif adalah tuntutan yang sulit direalisasikan karena ia meminta manusia untuk keluar dari dirinya sendiri. Akan tetapi dalam konteks masyarakat Amerika dan konteks mazhab Kristen seperti Sabathian, Protestan, dan Prosektarian ia menambahkan kriteria-kriteria sebagai berikut:

Filsafat Pendidikan Harus Bersifat Praktis

Kriteria pertama, filsafat pendidikan harus pada dasarnya bersifat praktis, yakni berasal dari pengalaman. Ilmu tidak mencakup semua pengalaman asasi, sehingga sebagian orang membatasi ilmu dengan apa yang bisa ditangkap oleh mata, telinga dan hidungnya. Padahal mayoritas manusia akan mencari konsepsi yang lebih integral dan komprehensif tentang eksistensi. Oleh karena itu tidak mungkin menjauhkan yang ghaib dari bidang filsafat pendidikan, dan musti juga mencakup konsepsi yang pasti tentang yang baik dan buruk, dan yang indah dan jelek. Yakni filsafat pendidikan harus mencakup konsepsi tentang ilmu, yang ghaib, etika dan seni. Jika filsafat pendidikan hanya terbatas pada bidang inderawi maka akan menjadi dingin dan kaku seperti salju di Kutub Utara.

Tinjauan Filsafat Pendidikan Harus Menyeluruh

Kriteria kedua, hendaknya tinjauan filsafat pendidikan harus menyeluruh, yakni ditujukan untuk menyelesaikan semua masalah yang dihadapai pendidikan, dan hendaknya terdapat keseimbangan antara tuntutan individu dan tuntutan kolektif, antara tuntutan anak-anak dan tuntutan dewasa. Filsafat pendidikan harus memperhatikan dengan mata yang penuh perhatian kepada sifat dan kemampuan peserta didik, unsur tradisi masyarakat, semua kelompok sosial dan mazhab, dan semua fungsi sosial.

Filsafat pendidikan harus memiliki konsepsi tentang peran lembaga-lembaga pendidikan dan tanggungjawab masing-masing lembaga tersebut. Filsafat pendidikan –secara khusus- harus mendefinisikan peran sekolah dan menawarkan kerja sama yang sehat antara murid, pengajar dan metode. Secara umum filsfat pendidikan menawarkan konsepsi yang jelas tentang individu, kelompok dan kehidupan.

Filsafat Pendidikan Harus Memiliki Pijakan Yang Kuat

Kriteria ketiga, filsafat pendidikan harus memiliki pijakan yang kuat. Counts mengomentari ini dengan mengatakan: “Biasanya kami meletakkan komponen filsafat pendidikan dengan cara yang bertentangan. Karena kami berkata secara teoretis bahwa kami menginginkan suatu masyarakat demokratis namun kami meletakkan anak-anak dalam iklim sekolah yang tidak demokratis. Kita juga mengatakan bahwa kita ingin memperdalam semangat kerjasama namun sistem sekolah mendorong persaingan dan konflik.

Filsafat Pendidikan Harus Bisa Diaplikasikan

Kriteria keempat, filsafat pendidikan harus bisa diaplikasikan, yakni sesuai untuk semua masa dan tempat. Ini adalah kriteria yang kemudian menjadi penting bagi pemilik kekuasaan karena perkembangan yang cepat menyebabkan pada percampuran genus, budaya, nilai dan pemikiran dalam satu negara.

Filsafat Pendidikan Hendaknya Memenuhi Kebutuhan Para Pendukungnya

Kriteria kelima, filsafat pendidikan hendaknya memenuhi kebutuhan para pendukungnya. Manusia memiliki kebutuhan jiwa yang bukan kebutuhan internal.

Ini adalah kriteria-kriteria yang George Counts harapkan bisa menyelesaikan konflik yang ada sekitar filsafat pendidikan. Akan tetapi Counts tidak bisa melakukan itu. Polemik terus berlanjut dan berkembang menuju perdebatan sengit. Para pendukung orientasi yang saling berlawanan mencari sandaran untuk memasuki yang ghaib. Nilai dan etika dalam konsep filsafat pendidikan melalui pandangan-pandangan Dewey, Thorndike, dan mereka mengulang-ulang seruan Dewey tentang keharusan turunnya filsafat dari alam metafisika ke realitas kehidupan inderawi dengan menyandarkan kepada Darwinisme sosial.

Permusuhan yang sengit terhadap masalah yang ghaib, etika dan nilai menyebabkan munculnya alternatif filsafat dengan nama “Ilmu Sosial Pendidikan” atau “Filsafat Sosial” yang meneliti masyarakat empirik dan tidak keluar ke alam ghaib. Akibatnya muncul pernyataan-pernyataan filsafat pendidikan yang memusatkan pada objek-objek yang berkaitan dengan pembelajaran dengan bentuk langsung seperti: adaptasi, kebudayaan, pengalaman dan watak sosial, aktivitas, kepribadian, hasrat, berfikir dan bekerja.***Dr. Majid Irsani Al Kailani

Bahan Bacaan

George Counts, “Criteria for Judging a Philosophy of Education” dalam Schooland Soceity, vol. 30, Juli 1929

Alfred L. Hall-Quest, “Design for Philosophy of Education” dalam Educational Forum, No. 1, November 1936

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.