Kriteria Penggunaan Kata Filsafat Dalam Pendidikan

0 39

Kriteria Penggunaan Kata Filsafat Dalam Pendidikan: Suatu ketika, sebagian mahasiswa meminta saya untuk memperkenankan penggunaan kata “filsafat”. Demikian juga sebagian kolega memberikan isyarat untuk memberikan penjelasan tentang justifikasi yang membolehkan penggunaan ini karena kata “filsafat” yang asli bukan dari bahasa Arab.

Dan untuk menjawab pertanyaan ini diberikan objek yang perlu diteliti dan direvisi. Kemudian disimpulkan bahwa tidak ada larangan –secara Islam- penggunaan kata “filsafat” dengan bertolak kepada kriteria berikut:

Filsafat Telah Ditetapkan Sebagai Bahasa Arab Sejak Berabad-Abad Hingga Saat Ini

Pertama, istilah tersebut telah ditetapkan sebagai bahasa Arab sejak berabad-abad dan berkembang mendunia pada abad sekarang ini. Pemikir yang bersabar dalam mengikuti Raslullah SAW diserukan untuk berbicara dengan kaumnya dengan bahasa mereka, dan kaum kita –sekarang adalah global village- adalah seluruh alam.

Kriteria Qur`an dan Sunnah

Kedua, kriteria Qur`an dan Sunnah. Qur`an tidak membatasi pada lafazh-lafazh Arab akan tetapi juga mencakup lafazh-lafazh yang diarabisasi melalui interaksi antara bahasa Arab dengan bahasa-bahasa lain. Bahkan Qur`an mengarabisasi banyak lafazh seperti yang dilakukan dalam pembahasan yang berkaitan dengan Ulumul Qur`an.

Imam Thabari mendiskusikan masalah ini dalam mukaddimah tafsirnya yang terkenal Jami’ al Bayan, dan ia memberikan jawaban mengenai hal ini dengan jawaban yang terperinci diringkas menjadi keterangan tentang ukuran bagi pembolehan penggunaan lafazh-lafazh non Arab.

Ukuran pertama, hendaknya telah menyebar luas penggunaan kata tersebut di antara orang-orang yang berbicara dengan bahasa Arab. Ukuran kedua, telah melewati masa yang lama. Ukuran ketiga, orang Arab hendaknya telah mengetahui apa yang ditujukkan oleh kata yang diarabisasi tersebut.

Rasulullah SAW juga menggunakan kata-kata non-Arab. Di antaranya adalah penggunaan kata al haraj dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, Ad-Darami, Abu Daud dan Muaththa` Malik yang bagian awalnya berbunyi: يُقْبَضُ الْعِلْمُ وَيَظْهَرُ الْجَهْلُ وَيُكْثِرُ الْهَرَجُ… “Ilmu digenggam dan nampak kebodohan serta banyak kekacauan”

Dan ketika ditanya tentang makna kata al haraj beliau menjawab adalah al qatl dalam bahasa Habasyah. Di antara contohnya juga adalah pembicaraan beliau terhadap Umm Khalid binti Khalid bin Sa’id bin Al Ash salah seorang Muhajirin ke Habasyah sedangkan ia lahir di sana dan belajar bahasanya. Maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya: يَا أُمَّ خَالِدٍ هَذَا سَنَا “wahai Umm Khalid, ini Sana” dan Sana adalah Al Hasan.

Lafazh Tidak Berdiri Dengan Huruf Dan Sumbernya

Ketiga, lafazh tidak berdiri dengan huruf dan sumbernya, akan tetapi dengan penunjukkan pemikirannya. Kata filsafat seperti kata din yang diucapkan untuk agama yang benar dan untuk menyebutkan agama yang memiliki keyakinan pagan yang keliru.

Orang-orang yang mengedarkan perselisihan antara agama dan filsafat dalam sejarah Islam ikut bertanggungjawab atas pengaruh negatif yang menyebabkan perselisihan dalam pemikiran Islam dan memberikan kontribusi yang merusak dalam menghancurkan kokohnya peradaban Islam dan memfasilitasi kehancuran dan keruntuhannya.

Orang-orang yang mendukung filsafat telah melakukan kesalahan karena mereka memindahkan ke sisi pemikiran analitis kritis –kandungan paganisme Yunani kemudian keluar dengan “nalar” di luar eksistensi inderawi kepada kekhususan wahyu. Orang yang memerangi filsafat adalah yang paling banyak melakukan kesalahan karena mereka memusuhi –pemikiran analitis kritis- dan ilmu-ilmu alam dan industri yang dipraktekkan filsafat ke sisi memerangi kandungan paganisme yang menyimpang yang menimpa para pendukung filsafat dalam bingkai pemikiran analitis kritis, sehingga memfasilitas kedua kelompok tersebut kepada stagnasi dan kemandulan yang menimpa nalar Muslim dan masih menderita hal tersebut.

Ketika Ibnu Taimiah berusaha menganalisis tanggungjawab kedua belah pihak dan membebaskan pemikiran Muslim dari dampak negatifnya, maka para pembaca tidak membedakan apa yang ia kehendaki berupa mengkhususkan –pemikiran kritis- dari kandungan yang keliru.

Filsafat Pendidikan Telah Menyebar Ke Dalam Budaya Global Modern

Keempat, bahwa istilah filsafat pendidikan telah menyebar ke dalam budaya global modern seluruhnya dan meyebar dalam bidang-bidang pengetahuan lain. Sehingga terdapat filsafat sejarah, filsafat ilmu dan filsafat Sosiologi. Oleh karena itu seruan untuk menghindari penggunaan istilah tersebut bermakna mengisolasi muatan Islam terhadap istilah ini. Yakni untuk memasuki aliran pemikiran global dan menghalanginya untuk mengalahkan dan melenyapkan muatan bathil.

Kriteria Peradaban

Kelima, adalah kriteria peradaban. Yakni bahwa interaksi peradaban-peradaban menyebabkan keterlibatan yang terus menerus dengan ukuran tertentu dari kebudayaan dan kosa kata bahasa. Dan ini adalah fenomena yang menjadi pegangan Imam Thabari dalam mukaddimah tafsirnya ketika ia mendiskusikan tentang Qur`an yang mencakup lafazh-lafazh yang muncul –yang asalnya- dari bahasa lain.

Pandangan Ibnu Athiyah

Ibnu Athiyah berlebih-lebihan dalam menjelaskan fenomena ini:

“Bahkan bagi Arab asli di mana Qur`an turun dengan bahasa mereka terdapat sebagian pencapuran semua lisan melalui perdagangan, rihlah Qurisy, perjalanan para musafir seperti perjalanan Abu Amr ke Syam, perjalanan Umar bin Al Khaththab, seperti perjalanan Amr bin Al Ash dan Imarah bin Al Walid ke Habasyah, dan seperti perjalanan Al A’sya ke Hiarah dan tinggal bersama para pendukungnya padahal ia adalah seorang hujjah dalam bahasa. Maka orang Arab menafsirkan lafazh-lafazh non Arab, merubah sebagiannya dengan mengurangi hurufnya, dan berusaha meringankan kata-kata non Arab yang berat, dan menggunakannya dalam syair-syair dan diskusinya sehingga menempati bahasa resmi, kemudian diberikan penjelasan, dan dengan cara ini turunlah Qur`an.

Ketidaktahuan orang Arab tentang hal itu sama seperti ketidak tahuannya terhadap bahasa orang lain. Seperti Ibnu Abbas tidak mengetahui makna kata fathir dan lain-lain. Ia berkata: pada dasarnya asal kata ini adalah non-Arab, akan tetapi bahasa Arab menggunakannya kemudian diarabkan sehingga dalam hal ini ia menjadi bahasa Arab”.

Dalam kenyatannya, kesamaran masih jelas antara sebagian lafazh-lafazh dan perbandigannya dalam bahasa selain Arab. Di antaranya adalah kata al qisth dan al qisthas. Kedunya –disebutkan oleh Az-Zarkasyi- bahwa asalnya adalah bahasa Romawi yakni Latin. Bahwa maknanya adalah keadilan. Kesamaran dalam lafazh dan kesesuaian makna terjadi antara keduanya dengan dua kata just dan justice yang berasal dari bahasa Inggris dari Latin.

Kesamaran Dalam Lafazh Dan Kesesuaian Makna

Jika orang semisal Ath-Thabari, As-Suyuthi, Az-Zarkasyi dan Ibnu Athiyah sepakat kebolehan adanya lafazh non-Arab dalam Qur`an. Dan mereka membolehkan penggunaannya dalam bahasa, maka keberadaannya menambahkan aspek lain kemu’jizatan bahasa Qur`an. Karena ketercakupan terhadap teori bahasa dunia ini tidak bisa dilakukan oleh semua bahasa modern.

Ketika bahasa tersebut datang kepada orang buta huruf tidak bisa membaca dan menulis. Maka jelas di luar dari wilayah kemampuan manusia. Demikian juga nampak hikmah Tuhan dari itu jelas dalam perkembangan nalar Muslim yang terbuka; tidak tertutup yang bisa melakukan diskusi dengan orang lain. Dan bisa membangun jembatan budaya yang dinyatakan melalui nalar dan jiwa lain. Sehingga risalah yang datang ke pintu era satu “umat” global memiliki satu peradaban yang berkelanjutan. Yakni era yang mengingatkan akan berakhirnya masa “bangsa yang heterogen yang memiliki peradaban yang berkala dan silih berganti”.

Interaksi yang terjadi –saat ini- dalam global village adalah aspek permulaan era baru di mana bahasa, keyakinan, aplikasi sosial dan gen manusia saling beriteraksi dan saling mengintervensi dengan bentuk yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ketika ketiga agama berbicara tentang al masih al muntazhir dan al mahdi al muntazhir, dalam kenyataannya adalah mengisyaratkan kepada pemimipin yang cenderung kepada humanisme seluruhnya yang akan purna di tangannya dan tangan pengikutnya. Terciptanya keseimbangan global dan pemurnian yang sehat terhadap kebudayan-kebudayaan yang saling berinterkasi. Kemudian mencampurnya lalu mengeluarkannya dalam satu bentuk kebudayaan global. Pemberitahuan akan lahirnya secara sempurna era global baru yang akan melihat di belakngnya kepada era kita sebagaimana kita melihat kepada era Fir’aun, Abu Jahal, Kisra dan lain-lain.

Oleh: Dr. Majdi Irsani Al Kailani

Bahan Bacaan

Ath-Thabari, Jami’ al Bayan, jilid I, hal. 8-11.

Musnad Ahmad, Tashnif as-Sa’ati, jilid 24, hal. 48, no. 137.

Shahih Al Bukhari, Kitab Manaqib al Anshar, bab Hijrah ke Habasyah.

Badruddin Muhammad bin Abdillah Az-Zarkasyi, Al Burhan fi Ulum al Qur`an, ed. Muhammad Abu al Fadhl Ibrahim, (Beirut: Dar al Ma’rifah, 1391/1972), hal. 289.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.